Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Ady Setyono

saya seorang guru berusia 38 tahun. Gemar membaca dan tertarik pada dunia internet, sains, dan selengkapnya

Pencairan Tunjangan Fungsional (TF) Guru RA & MI

REP | 06 September 2010 | 13:06 Dibaca: 951   Komentar: 3   0

Grati, 6/9/2010. Sebagian besar dari ratusan guru swasta dari RA dan MI Kecamatan Grati dan Lekok Kabupaten Pasuruan kecewa karena Tunjangan Fungsional (TF) mereka melalui rekening E-Batara Pos tidak bisa dicairkan pada hari ini. Hal ini dikarenakan Kantor Pos Grati yang menjadi tempat penyaluran bagi Tunjangan Fungsional mereka kehabisan uang. Berdasarkan pernyataan dari Kepala Kantor Pos Grati, seharusnya uang yang harus disediakan untuk membayar Tunjangan Fungsional tersebut kurang lebih 600 juta. Tetapi pada saat pencairan bagi guru-guru tersebut, yang dijadwalkan tanggal 6 September 2010, dana yang didrop dari BTN selaku partner bank dari Kantor Pos hanya 100 juta. Alhasil, banyak guru yang terlanjur sudah mengantri mulai jam 11.00 harus pulang dengan kecewa. Tidak bisa segera menerima Tunjangan Fungsional tersebut dan membelanjakannya untuk kebutuhan sehari-hari maupun menyongsong datangnya Hari Raya Idul Fitri. Kantor Pos menyuruh agar para guru yang belum bisa mencairkan Tunjangan Fungsional-nya untuk kembali lagi besok jam 11.00 siang. Ini merupakan salah satu bukti kurang berkualitasnya layanan lembaga-lembaga publik terhadap konsumennya dan mungkin kurang pedulinya pihak-pihak terkait terhadap nasib guru swasta.

Perlu diketahui bahwa pemerintah telah mengalokasikan dana bagi guru swasta khususnya yang bernaung di bawah Kementerian Agama (dulu Departemen Agama) sejak tahun 2007/2008. Untuk Kabupaten Pasuruan dana Tunjangan Fungsional tersebut pertama kali disalurkan melalui Bank Mandiri. Besar Tunjangan Fungsional yang diberikan tiap guru Rp. 200.000/bulan dan dapat dicairkan tiap semester (6 bulan) sekali. Pada tahun 2009, Bank yang menjadi penyalur dana Tunjangan Fungsional adalah BRI, besar tunjangan fungsional yang diberikan Rp. 250.000/bulan/guru. Tetapi muncul kebijakan, pada saat pencairan per semesternya, dipotong PPh 5%, sehingga dana yang diterima tiap semesternya hanya Rp. 1.425.000. Sedangkan untuk tahun 2010 ini, bank yang menyalurkan dana Tunjangan Fungsional tersebut adalah BTN melalui rekening E-Batara Pos.

Berkaitan dengan paparan tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu dicermati oleh pihak-pihak terkait sekaligus sebagai “entry point” perbaikan ke depan nantinya.

  • Kasus tidak bisa dicairkannya dana Tunjangan Fungsional sebagaimana yang terjadi pada Kantor Pos Grati Kabupaten Pasuruan

Secara logika hal ini tidak bisa dipahami. Bagaimana tidak, pada tanggal 6/9/2010 mulai jam 11.00 dijadwalkan pencairan Tunjangan Fungsional untuk guru dan RA dan MI untuk Kecamatan Lekok dan Kecamatan Grati. Tentunya jumlah uang yang akan dialokasikan dan didrop ke Kantor Pos Grati bisa dihitung dengan tepat karena sudah ada daftarnya. Misalkan, jumlah dana yang dialokasikan untuk tiap guru adalah Rp 1,3 juta dan jumlah guru yang terdata dan dijadwalkan adalah 250 orang guru, berarti dana yang harus dialokasikan sejumlah 325 juta. Bukan 100 juta sebagaimana yang didrop dari BTN Pasuruan ke Kantor Pos Grati. Tentunya tak mungkin tak ada dananya, karena pasti pemerintah dalam hal ini dari pihak kementerian agama telah mentransfer dana tersebut, tentunya sesuai dengan MOU yang disepakati. Atau memang BTN kesulitan likuiditas? Wallahu a’lam.

  • Berganti-gantinya bank penyalur Tunjangan Fungsional.

Bank manapun yang menjadi penyalur dana Tunjangan Fungsional tersebut sebenarnya tidak masalah, asalkan kualitas pelayanannya bagus. Beralihnya penyalur dana Tunjangan Fungsional dari Bank Mandiri ke Bank BRI sempat ditanyakan penulis, tetapi mendapat jawaban karena Bank Mandiri kurang memuaskan. Hal ini sempat menjadi tanda tanya penulis karena sepengetahuan penulis, Bank Mandiri mendapatkan penghargaan sebagai bank terbaik di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Pengalaman penulis ketika berurusan dengan BRI dalam pencairan BSM yang sempat di piug-pong beberapa kali dan perbedaan prosedur pencairan membuat penulis berkesimpulan bahwa Mandiri masih lebih baik dari BRI.

Sering bergantinya Bank ini, mungkin tidak disadari merupakan langkah in-efisensi, sesuatu yang harus dihilangkan dalam dunia produksi, ekonomi, maupun manajemen. Dengan berganti bank, maka pasti akan ganti rekening. Begitu rekening baru muncul, karena sebagian besar guru swasta tersebut dengan kondisi ekonomi yang jauh dari kemapanan, rekening lama akan ditutup atau bahkan kalau enggan menutup, dibiarkan hangus. Misalkan saldo minimal yang harus ada untuk penutupan adalah Rp 25.000 dan jika guru RA dan MI di Kabupaten Pasuruan 2.500 orang (estimasi), maka uang yang hangus (masuk ke bank) tiap pergantian rekening sejumlah 62,5 juta. Belum termasuk kerugian lain, misalnya biaya transport, administrasi, waktu yang terbuang, dll.

  • PPh 5%

Penulis bukanlah orang yang paham perpajakan, tetapi sepengetahuan penulis, penghasilan tidak kena pajak (PTKP) untuk perseorangan adalah 13.800.000/tahun, atau dengan kata lain orang yang penghasilannya dibawah 1,15 juta tidak kena pajak. Terkait dengan Tunjangan Fungsional yang diterima para guru swasta tersebut yang besarnya 250 ribu/bulan atau hanya 3 juta per tahun harus dikenai PPh? Atau penerimaan sebesar 1,5 juta/semester itu yang dijadikan dasar untuk pengenaan PPh? Semoga ada yang bisa memberi penjelasan.

Terlepas dari penjelasan diberikan, bagi penulis ini jauh memenuhi dari rasa keadilan. Coba kita bandingkan dengan guru yang berstatus PNS, selain mendapatkan gaji minimal sebesar Rp 1,5 juta/bulan, mereka juga mendapat berbagai tunjangan, mulai tunjangan keluarga, tunjangan umum, tunjangan fungsional/tunjangan profesi, tunjangan beras, dan masih mendapat tunjangan untuk PPh pasal 21. Sehingga guru PNS tersebut bisa dikatakan “dibebaskan” dari PPh. Padahal tidak ada beda antara tugas dan tanggung jawab yang diemban sebagai guru yaitu mengajar dan mendidik siswa.

Apalagi jika dibandingkan dengan para pejabat, birokrat dan konglomerat kita yang gajinya berlipat-lipat, mobil mengkilat, fasilitas serba wah dan cepat tetapi bermain pat-gulipat dengan jabatan dan kekayaannya menyuap para aparat sehingga bisa bebas dari pembayaran pajak yang “menjerat” dan tidak mau tahu menahu urusan rakyat

Tulisan ini tidak bermaksud mendeskreditkan pihak manapun, tetapi hanya pendapat pribadi penulis untuk sedikit memberikan pendapat bagi kemaslahatan bersama.

Akhirnya bagi rekan-rekan kami para guru khususnya guru swasta:

Selamat mengantri ! Semoga sabar dan tawakkal sehingga pahala puasa tetap teraih.

Selamat berjuang. Selamat Berjihad mencerdaskan putraputri bangsa. Profesional, Berilmu dan Ikhlas Beramal. Ingat! Tidak cukup ikhlas saja, tetapi kita juga harus berilmu dan profesional dalam beramal

Selamat Menyongsong Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Dan akhirnya mohon Ma’af Lahir dan Bathin bagi semua pihak yang ikut tersentil dengan tulisan ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

10 Tanggapan Kompasianer terhadap Pernikahan …

Kompasiana | | 25 October 2014 | 15:53

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 15 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 16 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Kematian Pengidap HIV/AIDS Bukan Karena HIV …

Syaiful W. Harahap | 7 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 8 jam lalu

Langit Biru …

Edy Priyatna | 8 jam lalu

Begini Rasanya Cuma Diberi Izin Masuk dan …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Tabu mengkonsumsi Sayap Ayam …

Tantri Ayunda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: