Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Wayan Budiartha

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Sex Murah di Bali

OPINI | 09 November 2010 | 22:02 Dibaca: 47047   Komentar: 9   4

1289339860408916976Ketika menanyakan alamat dimanakah terminal Pesiapan itu, hampir seluruh penduduk Tabanan Bali, akan bertanya balik, apakah mau adu ayam atau adu burung. Begitulah terminal kumuh yang hanya disinggahi bus peot dan angkot yang selalu sepi penumpang ini diberi cap. Terminal yang ada sejak 20 tahun lampau ini memang tidak mewah, hanya ada satu dua bus yang mangkal di tempat parkir. Tapi tengoklah kearah barat terminal, di siang hari bolongpun warung berjejer itu ramau dikunjungi peminat sex murah.

Murah karena untuk short time yang berkisar antara 5 sampai 10 menit hidung belang cukup merogoh Rp 15 ribu saja. Bila dibandingkan dengan kompleks aseman di Nusa Dua yang bertarip Rp 50.000, atau Danau Tempe di Sanur yang diatas Rp 100.000 tarip pelacur terminal pesiapan memang termasuk mirip harga krupuk mlinjo.

“Gurih tapi murah, itu yang membuat sebelum buka sekitar jam 10 pagi sudah banyak yang antre menunggu dengan sabar,” tutur Ketut Ronta, 35 tahun tukang parkir di tempat itu. Pengunjung umumnya berdatangan dari seantero pelosok Tabanan, Badung, Gianyar bahkan dari Gilimanuk. Artinya dari seluruh Bali tumplek bleg ke Pesiapan untuk mencoba petualangan erotis tanpa peduli bila suatu ketika terserang gonornea, sifilis ataupun HIV.

Pesiapan buka dari jam 10 pagi sampai lewat tengah malam. Perempuan yang beroperasi di tempat itu berdatangan dari tempat yang jauh. Tak satupun dari wilayah sekitar Bali seperti halnya di Padanggalak atau Sanur.

“Saya tiap hari pulang balik ke Banyuwangi, berangkat dengan bus jam 4 pagi, sampai disini jam 9 pagi, berhias sedikit mempertebal gincu dan bedak setelah itu siap menerima tamu,” tutur Dian, 35 tahun salah satu primadona di tempat itu.12893399201842276815

Pesiapan memang bisa membanting harga karena satu hal, pelacur di tempat itu kebanyakan stw alias setengah tua. Dian termasuk yang paling muda diantara belasan pelacur yang biasa beroperasi di tempat itu. Tarip yang hanya Rp 15.000 menurut Dian termasuk tarip penawaran.

“Bisa naik kalau tamu yang kita ladeni mendapatkan kepuasan lebih atau malahan di tawar tawar seperti pedagang di pasar bila si tamu cerewet,” tutur ibu 3 anak ini.

Kepada suami, mertua dan anaknya dia hanya bilang bekerja sebagai pembantu di Negara Bali, bukan menjadi pelacur di Pesiapan. Dian biasanya bekerja sampai sekitar jam 5 sore, setelah itu dia naik bus terakhir dan sampai di kampungnya sekitar jam 9 malam.

“Soalnya kalau menetap disini saya mesti membayar uang kos, membayar uang makan atau uang listrik, kalau naik bus bisa dibayar dengan layanan ranjang sama supirnya,” ungkap dia terkekeh.

Hidung belang yang berkunjung juga dari kalangan hidung belang stw alias setengah tua. Disamping karena seleranya memang kepada yang tua juga karena taripnya yang murah meriah sesuai dengan kantung mereka.

”Yah sekedar menghibur cukup dengan yang tua, kalau dengan yang muda seperti tidur dengan cucu,” ujar Made Suma, 55 tahun salah seorang pengunjung.

Juga jam buka yang siang bolong menyebabkan hidung belang yang sudah renta berkesempatan melakukan pilihan. Kalau malam mereka akan kehilangan jarak pandang disamping malu keluyuran karena harus menjaga cucunya di rumah.

“Malam hari pengunjungnya kebanyakan anak muda, penunggu warung juga berganti kepada yang lebih muda karena yang tua-tua biasanya sudah pulang ketika matahari beranjak turun ke barat,” ungkap Ketut Wija, 49 tahun pengunjung setia di Pesiapan.1289340071984831540

Walau murah meriah, Dian mengaku mereka tak pernah kekurangan penghasilan, tiap hari dia rata-rata meladeni 10 tamu. Dipotong ongkos sewa kamar, sewa bus dan sekedar makanan ringan dia bisa membawa pulang tak kurang dari Rp 100.000.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | | 23 November 2014 | 12:04

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Inilah 3 Pemenang Blog Movement “Aksi …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 10:12


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 10 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 18 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 20 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Di Bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 13 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 13 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 13 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 13 jam lalu

Peniti Community, Wadah Kompasianer …

Isson Khairul | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: