Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Doni Febriando

Saya hanyalah seorang manusia yang mencintai Negara Indonesia. Maka dari itu, saya ingin menulis di selengkapnya

Pemahaman dan Solusi Sederhana Saya Akan Bencana Merapi

REP | 11 November 2010 | 15:24 Dibaca: 855   Komentar: 0   0

Assalamu’alaikum…

Salam sejahtera dan damai bagi kita semua.

Semoga di hari yang dirahmati Tuhan YME, kita semua dipermudah olehNya mencapai impian-impian besar masing-masing dari kita. Semoga di hari ini kita semua ditegarkan olehNya menghadapi badai dan ombak masalah hidup pelik masing-masing dari kita. Semuanya tanpa kecuali, siapapun yang membaca ini, doa saya untuk kalian. Semoga kita baik-baik saja dan semoga kita hari demi hari semakin baik dalam setiap hal.

Mungkin ini adalah sebuah tulisan yang menggambarkan isi hati saya tentang situasi Daerah Istimewa Yogyakarta akhir-akhir ini. Perasaan sedih, kecewa, marah, senang, muak, dan bahagia akan terlukis dalam rangkaian kalimat-kalimat ini. Maaf sekali, di tulisan ini pun akan ada beberapa kalimat yang berakar pada ajaran Agama Islam dan sedikit menyinggung Kejawen. Bukannya SARA, tapi itu karena saya adalah manusia Indonesia yang muslim dan berdarah Jawa. Beribu-ribu maaf!

*****

Daerah Istimewa Yogyakarta atau sering dipanggil “Jogja” saja, kini telah bergejolak dan membara gara-gara bencana alam letusan Gunung Merapi. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, Gunung Merapi kini bergemuruh melontarkan isi dapur magma lebih kuat dan berjangka waktu lebih lama. Gunung Merapi pun tak segan-segan menurunkan awan panas ke segala arah, termasuk ke wilayah permukiman warga Jogja.

Penduduk Jogja kini semakin resah. Setiap hari mengalami secara langsung bagaimana susahnya hidup gara-gara bencana Merapi kali ini. Hampir setiap sore hujan deras mengguyur Jogja, yang mana hal itu mengakibatkan pengungsi-pengungsi harus berdiri karena tikar-tikar di pengungsian sudah seperti kubangan lumpur. Hampir setiap jam Gunung Merapi meletus, yang mana hal itu menekan sisi manusiawi para pengungsi, yakni rasa takut akan mati. Belum lagi kilatan petir menggelempar-gelempar yang menyibak langit kelam Jogja dan menabuh gendang telinga..

Kita semua tahu itu. Kita bisa mendengar dan merasakan rintihan minta tolong mereka. Sejujurnya, saya sedih sekali mengetahui Gunung Merapi meluruhkan isi dapur magmanya sedemikian rupa ke berbagai penjuru Bumi Mataram itu, menghantam tempat tinggal dan perekonomian rakyat Jogja. Apalagi sebagai warga Solo asli yang memiliki darah Kraton Kasunanan Surakarta, maka saya tidak bisa melepaskan pikiran saya dari Jogja, meski saya kini sudah aman dan nyaman di Kota Solo. Bagaimana pun juga semua rakyat lokal Jogja adalah “saudara jauh” saya.

Sesuai judul tulisan ini, saya melalui tulisan ini hanya akan mencoba ikut urun rembug (dapat diartikan: mengusulkan) solusi sederhana atas permasalahan yang timbul di Jogja akibat letusan Gunung Merapi yang lama dan tak terkendali ini. Ya, sebuah tulisan yang berisi khayalan saya tentang solusi sederhana bencana letusan Gunung Merapi kali ini. Sebabnya kenapa? Sederhana saja. Tidak mungkinlah tulisan ini dibaca para penguasa negeri kita. Lagipula saya masih mahasiswa semester 3 yang miskin pengalaman hidup. Makanya, saya pesimis usul saya akan diterima oleh Sultan HB X, Raja Kasultanan Yogyakarta Kesepuluh, lebih-lebih seorang Presiden RI, meski (seumpama) mereka dengan ajaibnya meluangkan waktu hanya untuk sekadar membaca impian-impian saya di tulisan ini. Meskipun begitu, saya ingin tetap menuliskan solusi sederhana saya tentang bencana Gunung Merapi—tentunya atas dasar pemahaman-pemahaman sederhana saya—untuk para pembaca semua. Kan siapa tahu sepuluh tahun kemudian di antara kalian ada yang menjadi pembesar Negara Indonesia selanjutnya.

Seperti yang kita semua tahu, isi alam semesta ini adalah milik Tuhan YME. Tidak ada satu kekuatan yang mampu menandingiNya. Tidak pernah terjadi suatu pergantian siang-malam di suatu hari tanpa izinNya. Ya, kita semua sudah tahu akan hal itu. Maka daripada itu, meski saya pernah membaca beberapa literatur kuno yang berisi ramalan-ramalan para pujangga Jawa, saya lebih percaya akan uraian bencana alam dari perspektif agama saya (Agama Islam).

Sepemahaman saya tentang bencana alam dari perspektif Agama Islam, Allah SWT hanya akan mengizinkan bencana alam terjadi, bila memiliki salah satu maksud atau lebih dari itu dari tiga buah hal. Pertama, bencana alam dimaksudkan untuk ujian hidup bagi manusia yang beriman dan bertakwa. Kedua, bencana alam dimaksudkan untuk peringatan bagi manusia yang gemar berbuat dosa. Ketiga, bencana alam dimaksudkan untuk meningkatkan derajat manusia-manusia di wilayah itu (maksudnya dengan cara bersabar dan selalu tawakal).

Berdasar pemahaman-pemahaman sederhana saya akan bencana alam, saya rasa Jogja itu sebenarnya akan baik-baik saja. Saya berkesimpulan demikian berdasar sebuah hadits dari Nabi Muhammad SAW dan saya sangat percaya itu. Dalam ajaran agama saya, umat manusia pasca turunnya kenabian beliau digaransi oleh Allah SWT tidak akan mengalami azab atau hukuman langsung di dunia seperti umat-umat manusia terdahulu. Maka daripada itu, saya bisa begitu tenang menanggapi bencana Merapi di Jogja baru-baru ini. Bukankah kita semua tahu, bencana tsunami di Aceh yang puluhan kali lipat jauh kuat menimpa rakyat Aceh masih menyisakan banyak sekali manusia? Bukankah kita semua tahu tsunami tersebut tidak mampu menghancurkan Aceh?

Dalam bencana alam, banyak korban nyawa itu biasa. Dalam bencana alam, banyak bangunan rusak itu biasa. Akan tetapi, ketika bencana alam sudah menyapa, kita masih lupa kepadaNya, itu baru aneh. Saya itu kadang judeg (bisa diartikan marah, kecewa, dan sedih dirasakan secara bersamaan) dengan prilaku banyak oknum merespon bencana alam di Jogja kali ini. Sewaktu saya keliling ke beberapa pengungsian, saya miris melihat beberapa “bantuan yang tidak ikhlas”. Cukup penamaan saja di wadah bantuan dengan sewajarnya untuk pendataan, tanpa menancapi area pengungsian dengan berbagai bendera-bendera yang besar dan mencolok. Lebih-lebih diberi spanduk yang memakai foto-foto “orang sok dermawan”. Saya prihatin melihat bencana alam yang menimpa rakyat Jogja ini dijadikan semacam “ajang kampanye” oleh beberapa oknum. Saya salut pada ketegasan Sultan HB X yang mengintruksikan area pengungsian “dimerah-putihkan”.

Saya sering tidak habis pikir akan kelakuan para pengungsian dan para relawan itu sendiri. Meski tidak semua, para pengungsi kerjanya hanya mengeluh dan menangis, bukannya dirajinkan sholatnya dan diperbanyak ngajinya (bagi yang Islam, kalau umat lain saya tidak tahu). Bahkan ketika saya sudah pulang kampung di Solo, ketika Jogja sudah mencekam sedemikian rupa, saya diberitahu teman saya yang jadi relawan tentang situasi pengungsian yang tidak berubah. Teman saya yang laki-laki dan aktif di organisasi keislaman itu dongkol saat cerita tentang masih cukup banyaknya pengungsi muslim tidak mau disuruh sholat wajib. Hanya “iya mas iya mas”. Beberapa relawan pun demikian, sama saja, katanya.

Meski tidak semua orang di Jogja “seaneh” itu, tapi hal itu bisa jadi menghalangi doa-doa naik ke langit dan menunda rahmat Tuhan YME turun ke salah satu Bumi Mataram. Bisa jadi lho alias kesimpulan itu hanya pendapat saya saja. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Yang saya pegang adalah janjiNya untuk tidak pernah menurunkan hukuman langsung ke umat manusia pasca kenabian Muhammad SAW. Saya sangat yakin Jogja akan kembali!

Saya menguraikan berbagai hal, bukan berarti saya adalah makhluk sempurna. Nabi Muhammad SAW saja yang seperti itu bukan makhluk yang sempurna kok. Bukankah kita semua tahu hanya Tuhanlah yang sempurna, makanya satu-satunya Dzat yang berhak disembah. Saya juga bukan berarti sudah berhati suci dan tidak punya dosa ketika menguraikan hal tersebut. Jujur saja, saya itu masih gampang tergoda akan bunga-bunga dunia fana. Diri ini juga berlumuran dosa-dosa. Saya belum bersih.

Saya menuliskan solusi sederhana ini (yang berdasarkan pemahaman orang awam) hanyalah bermaksud untuk kebaikan Jogja. Jika boleh melankolis, saya benar-benar merindukan suasana Jogja yang menyenangkan. Bagaimanapun juga, di sanalah tempat saya menuntut ilmu dan tempat tinggal beberapa orang yang saya sayangi. Satu hal yang pasti, bencana letusan Merapi adalah bencana saya juga.

Meski sekarang saya pulang kampung, menetap di Solo sampai Gunung Merapi tenang, bukan berarti saya ongkang-ongkang di rumah. Setiap hari saya memantau perkembangan situasi di Jogja. Setiap hari selepas saya beribadah, saya berdoa semoga Solo tidak sampai terkena efek letusan Gunung Merapi. Begini saja, anggota keluarga besar saya yang warga lokal Jogja sudah mengungsi ke Solo. Saya tambah takut ketika membaca koran SOLOPOS yang memberitakan eksodus pengungsi besar-besaran ke Soloraya.

Setiap hari saya berdoa agar “libur” kuliah hanya seminggu saja. Saya sering makan hati ketika HP dan akun facebook saya dibanjiri permintaan tolong dari teman-teman saya. Meski saya kasihan sekali, tapi saya harus pakai otak ketika akan bertindak. Rumah sendiri di Solo saja belum aman, masak mau sok pahlawan, menjadi relawan di Jogja? Lagipula di Solo saja saya sudah cukup kerepotan. Maka dari itu, saya minta doa teman-teman semua, minimal semoga status Gunung Merapi cepat turun saja. Bukan berarti saya meminta kalian semua menganti PP facebook dengan logo Pray for Indonesia atau membikin status-status agamis! Sama sekali bukan!

Saya meminta kalian semua setelah beribadah (apapun itu dan agama manapun itu) untuk meluangkan satu-dua kalimat untuk Jogja. Kalau bisa dibarengi sedekah untuk anak yatim di sekeliling kalian yang ditujukan khusus menolak bala di Jogja. Kalianlah harapan saya, sebab tidak mungkin solusi saya diterima Pemerintah. Tidak mungkin usul saya agar hewan-hewan ternak yang telah dibeli Pemerintah segera disembelih dan dibagikan ke keluarga-keluarga miskin. Saya maklum kok, jika sapi-sapi dan kambing-kambing itu dipersiapkan untuk Idul Adha. Kan kas negara kita sudah mepet sekali untuk membayar hutang, membiayai penyelenggaraan pemerintahan (termasuk biaya menyambut Barrack Obama), dan dikorupsi ribuan pejabat. Jadi hampir tidak kuat lagi untuk membeli hewan-hewan ternak khusu untuk Idul Adha. Yah saya paham itu…

Tapi, tenang saja, Gunung Merapi hanya sedang melaksanakan hak asasinya sebagai gunung vulkanik. Ini cuma masalah waktu. Jangan takut! jangan sedih! Jika rakyat Jogja bersabar dan bertawakal hanya kepada Tuhan YME, kita semua pasti selamat dan “tindakan alami” Gunung Merapi itu dipercepat!

Sekian dan terima kasih…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Haruskah Jokowi Blusukan ke Daerah Konflik …

Evha Uaga | | 19 December 2014 | 12:18

Artis, Bulu yang ‘Terpandang’ di …

Sahroha Lumbanraja | | 19 December 2014 | 16:57

Jalanan Rusak Kabupaten Bogor Bikin …

Opi Novianto | | 19 December 2014 | 14:49

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 5 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 12 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: