Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Gusti 'ajo' Ramli

http://www.about.me/gustiramli dan sering nongkrong di http://garammanis.wordpress.com/

Mau PSK? Cari di Dalam Taksi (Fenomena Prostitusi di Kota Padang)

HL | 25 February 2011 | 08:24 Dibaca: 8633   Komentar: 60   7

12986249161475702910

Ilustrasi/Admin (shutterstock)

Selamat Siang Kompasianer. Berhubung sekarang hari jum’at maka saya menulis kejadian yang saya alami pada malam jumat, persisnya tadi malam. Sebelumnya tujuan tulisan ini bukan untuk promosi, melainkan gambaran dari fenomena prostitusi di ranah minang.

Sekitar malam pukul 11.00 WIB saya diajak teman berkeliling kota Padang. Tadinya niat mau beli makanan saja. Karena tempatnya cukup jauh, maka harus keliling dulu. Di tengah perjalanan tanpa sengaja kami menjumpai banyak taksi yang membunyikan musik keras-keras.

Bagi saya sudah biasa demikian karena biasanya angkutan umum di kota Padang, baik taksi maupun angkot dan bis membunyikan musik sekeras mungkin. Namun ada satu hal yang tidak biasa saya ketahui dari dalam taksi tersebut.

Kawan saya memberitahu kepada saya bahwa di dalam taksi tersebut berisi beberapa orang PSK. Satu taksi satu PSK, biasanya ada juga berisi 2 sampai tiga orang PSK di dalam taksi. Sebelumnya si sopir taksi sudah bekerja sama dengan para PSK. Taksi akan berkeliling mencarikan pria hidung belang untuk si PSK. Taksi-taksi yang berkeliaran di daerah tertentu, seperti dekat taman budaya biasanya berisi PSK.

Saya tidak percaya ucapan kawan tersebut, walau dulu sewaktu remaja saya pernah mendengar selentingan bahwa “kalau mau cari pelacur, cari aja taksi” di taman budaya. Kabar bahwa pelacur tidak ada yang mangkal di tengah jalan, tapi mangkalnya di dalam taksi tidak pernah saya hiraukan. Namun ketidakpercayaan saya itu dijawab oleh kawan saya dengan pembuktian.

Malam itu kami pergi dengan motor, persis dekat taman budaya kami berhenti di pinggir jalan. Tak lama berselang, berhenti sebuah taksi di depan kami. Di kursi depan duduk wanita muda. “Cari cewek bang” kata wanita itu kepada kami. Dengan terkejut saya pun menjawab tidak sambil geleng-geleng kepala. Belum sampai dua menit datang satu taksi lagi dengan menawarkan hal yang sama. Pada menit kelima kami berdiri disitu, datang lagi taksi yang menawarkan kami untuk memakai si PSK.

Dalam waktu lima menit sudah berhenti tiga taksi yang berisi PSK. Dengan kejadian ini barulah saya percaya dengan selentingan kabar bahwa kalau mau cari PSK, cari saja di dalam taksi.

Berita terakhir di surat kabar lokal juga mengangkat fenomena prostitusi ini di halaman headline. Balakangan fenomena tari stripties sudah mulai merambah kota Padang. Penari tanpa sehelai benang bisa didapat dengan membayar upah sekitar 500-700 ribu rupiah. Menurut sumber berita, layanan tari telanjang tidak dipertontonkan kepada khalayak ramai, hanya untuk pemesan saja.

Fenomena prostitusi di dalam taksi dan tari telanjang yang tersembunyi tersebut adalah sedikit gambaran dari gelap malam di kota Padang. Pemerintah kota tampak belum mengambil langkah dalam menyikapai aksi fenomena prostitusi di ranah minang yang terkenal dengan nilai-nilai budaya dan agama yang kuat. ((1102251516trt))

Salam Kompasiana

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gandari: Menyibak Karakter dan Sikap …

Olive Bendon | | 18 December 2014 | 17:44

Meteorisme, Penyakit Hitler yang …

Gustaaf Kusno | | 18 December 2014 | 12:20

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

KOMiK Nobar Film Silat Pendekar Tongkat Emas …

Komik Community | | 17 December 2014 | 11:56



Subscribe and Follow Kompasiana: