Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Fabian J Manoppo

"Dosen dan Pemerhati Pendidikan" profil lengkapnya bisa dibaca di website: http://fabianmanoppo.blogspot.com/ http://www.facebook.com/fmanoppo http://www.sulutiptek.com selengkapnya

Hikmah untuk Sulawesi Utara Setelah Gempa dan Tsunami Sendai Jepang

OPINI | 14 March 2011 | 05:33 Dibaca: 310   Komentar: 1   0

Jepang memang tergolong dalam daerah rawan gempa dan tsunami tercatat ada 3 gempa bumi yg besar seperti, Gempa bumi besar Kanto (,Kantō daishins) adalah gempa bumi yang melanda dataran Kanto di Pulau Honshu Jepang pada tanggal 1 September 1923 pukul 11:58 pagi hari. Gempa bumi diperkirakan kemudian berkekuatan antara 7,9 dan 8,4 dalam skala Richter dan menimbulkan tsunami kurang lebih 12m dengan episentrum di Teluk Sagami dan Pulau Izuōshima. Gempa bumi menimbulkan kerusakan massal pada wilayah Kanto: Tokyo, kota pelabuhan Yokohama, dan prefektur di sekitarnya: Prefektur Chiba, Prefektur Kanagawa, dan Prefektur Shizuoka. Gempa bumi ini memakan korban jiwa paling sedikit 105.385 orang, 37.000 orang hilang yang diperkirakan tewas. Kebakaran yang menyusul gempa bumi merupakan sebab kematian yang terbesar.Gempa bumi ini terjadi akibat tumbukan lempeng Filipina

Gempa bumi Kobe (Hanshin-Awaji daishinsai) yang berkekuatan sampai 7,2 pada skala Richter di beberapa tempat di daerah Hanshin dan pulau Awaji. Getaran juga masih dapat diukur di Iwaza (Prefektur Fukushima) yang terletak di Jepang bagian utara, serta Kagoshima dan Nagasaki yang terletak Jepang bagian barat. Gempa ini terjadi pada tanggal 17 Januari 1995 pukul 5:46:42 pagi dengan episentrum di sebelah utara Pulau Awaji yang terletak di bagian selatan Prefektur Hyogo. Gempa bumi yang berlangsung selama 20 detik ini mengakibatkan kerusakan besar kota Kobe yang terletak sekitar 20 km dari pusat gempa.Gempa bumi memakan korban jiwa sebanyak 6.433 orang yang sebagian besar merupakan penduduk kota Kobe. Gempa bumi disebabkan oleh tiga buah lempeng: lempeng Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia yang saling bertabrakan

Saat ini Gempa bumi dan tsunami Sendai atau gempa bumi lepas pantai Samudra Pasifik wilayah Tōhoku (Tōhoku Chihō Taiheiyō-oki Jishin )11 Maret 2011 berkekuatan 9.0 skala Richter yang mengakibatkan gelombang tsunami setinggi 10 m. Fokus gempa bumi dilaporkan berada di lepas pantai Semenanjung Oshika, pantai timur Tōhoku pada 11 Maret 2011, pukul 05:46 UTC (14:46 waktu setempat) pada kedalaman 24.4 kilometer. Info sampai tadi pagi di TV Jepang menyatakan bahwa hampir 1600 tewas dan masih banyak orang hilang di enam prefektur Kekuatan 9.0 menjadikan gempa ini sebagai gempa terbesar yang mengguncang Jepang sepanjang sejarah dan satu dari empat gempa terbesar di dunia sejak pencatatan gempa modern dimulai. Gempa ini dianggap sebagai yang terbesar yang mengguncang Jepang dalam 1.200 tahun terakhir. Gempa ini terjadi di Palung Jepang, tempat subduksi Lempeng Pasifik di bawah Lempeng Amerika Utara.

Dari ketiga kejadian gempa besar yang terjadi di Jepang ini dua diantaranya terjadi bersamaan dengan saya sedang berada di Jepang yakni gempa Kobe Januari 1995 saat saya sedang studi master dan doktor dibidang geoteknik di Saga dan Kagoshima United University Jepang, dan gempa Sendai Maret 2011 dimana saat ini saya sedang menjadi peneliti tamu (Visiting Researcher) di Saga University Jepang. Apa yang bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah Indonesia khususnya pemerintahn dan masyarakat Sulawesi Utara yang sangat rentan terhadap bahaya gempa dan tsunami karena Sulawesi Utara dikelilingi oleh 7 Lempengan yakni, Eurasia Plate (Lempengan Eurasia), Philipine Plate (Lempengan Philipina), Pacific Plate (Lempengan Pacific), Australia Plate (Lempengan Australia), Sangihe Plate (Lempengan Sangihe), Moluca Sea Plate (Lempengan Laut Maluku), Halmahera Plate (Lempengan Halmahera), serta 2 patahan yang berpengaruh yakni,patahan Palu Koro, Patahan Gorontalo, juga 3 patahan lokal seperti patahan Manado, patahan Amurang dan patahan Bolmong.

Dari hasil kajian sederhana yang berhasil dirangkum dapatdisampaikan bahwa Sulawesi Utara memiliki tingkat resiko terhadap gempa dan tsunami hampir sama dengan Jepang. Semetara dari sebelum dan sesudah bencana baik teknologi, peralatan serta ketahanan masyarakat Jepang dalam menghadapi bencana baik pemerintah dan masyarakat Jepang sangat jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pemerintah dan masyarakat Sulawesi Utara. Meskipun Jepang jauh lebih baik namun dapat dilihat dengan jelas bahwa korban-korban akibat bencana masih cukup banyak, demikian juga pemerintah kewalahan menangani bencana informasi pertelepon langsung kepada teman-teman kita yang ada di Sendai lokasi pengunsian sampai pada hari ke 3 setelah gempa masih cukup banyak para pengungsi yang belum mendapat jatah makan nasi masih bertahan dengan biskuit serta blanket demikian juga beberapa fasilitas lainnya. Untuk itu kita bisa membayangkan jika ini benar-benar terjadi di Sulawesi Utara (didoakan agar tidak terjadi) maka resiko serta korban akan lebih besar lagi. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah saat ini masih bersifat femomenal seperti kegiatan Tsunami Drill, ARF DIREx , himbauan-himbauan serta data base penanganan bencana masih sangat jauh dari yang diharapkan. Pemerintah propinsi, kota dan kabupaten belum memiliki satu pola penanganan bencana yang sama serta baik. Dalam tulisan berikut ini ( http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/19/membangun-masyarakat-sadar-bencana/ , http://regional.kompasiana.com/2010/11/09/pola-pengendalian-longsor-di-sulut/ , http://regional.kompasiana.com/2010/11/09/pola-pengendalian-banjir-di-sulut/ , http://fabianmanoppo.blogspot.com dan http://www.kompasiana.com/fabianjm ) adalah beberapa pemikiran penulis yang mungkin dapat membantu memberikan referensi upaya-upaya penanganan bencana di Sulawesi Utara karena bukan hanya bencana gempa dan tsunami yang mengintai di Sulawesi Utara tapi juga masih ada bencana lainnya seperti, longsor, banjir dan letusan gunung berapi. Indonesia lebih khusus Sulawesi Utara sulit untuk menyaingi Jepang dari segi Teknologi dan infrastuktur sehingga hal yang paling baik dan mudah dilakukan adalah membangun Ketahanan Masyarakat karena rumus umum untuk memitigasi gempa adalah Resiko Gempa = Bencana Gempa / Ketahanan Masyarakat.

Sumber data, Wikipedia dan pengamatan lapangan

Oleh, Dr.Fabian J. Manoppo

Dosen Fakultas Teknik Sipil Unsrat Manado

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah 5 Butir Penting Putusan MK atas …

Rullysyah | | 21 August 2014 | 17:49

MK Nilai Alat Bukti dari Kotak Suara …

Politik14 | | 21 August 2014 | 15:12

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Meriahnya Kirab Seni Pembukaan @FKY26 …

Arif L Hakim | | 21 August 2014 | 11:20

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Dear Pak Prabowo, Would You be Our Hero? …

Dewi Meisari Haryan... | 13 jam lalu

Kereta Kuda Arjuna Tak Gentar Melawan Water …

Jonatan Sara | 14 jam lalu

Dahlan Iskan, “Minggir Dulu Mas, Ada …

Ina Purmini | 15 jam lalu

Intip-intip Pesaing Timnas U-19: Uzbekistan …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu

Saya yang Memburu Dahlan Iskan! …

Poempida Hidayatull... | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: