Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Choirul Huda

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan selengkapnya

Pengalaman Mencalonkan Diri sebagai Anggota LMK di Kelurahan

REP | 30 March 2011 | 15:19 Dibaca: 977   Komentar: 8   4

“learn from yesterday

live for today

and hope for tomorrow”

* * *

Pada awalnya saya sama sekali tidak berminat untuk mengikuti kegiatan organisasi, apalagi dalam pemerintahan. Tapi, setelah beberapa kali melihat sebuah selebaran yang ditempel dekat dinding warung nasi milik Ibu, saya jadi tertarik untuk mencobanya. Apalagi setelah melihat syarat-syarat utamanya dalam pencalonan anggota LMK itu sendiri tidak begitu sulit untuk dilakukan.

Saya mencoba mendaftarkan diri untuk ikut serta dalam pencalonan tersebut, pertama adalah dengan mengurusi surat keterangan kelakuan baik atau yang sekarang disebut sebagai Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) di Kantor Polisi. Setelah itu saya langsung menuju ke Puskesmas untuk melakukan Pemeriksaan Kesehatan. Kemudian saya langsung bertamu ke tempat SMA saya dahulu, untuk meminta Cap Stempel Ijazah yang di Legalisir. Lalu yang terakhir adalah melakukan pemotretan foto ukuran 4×6 untuk dilampirkan sebagai salah satu syarat mengikuti Pencalonan tersebut.

Saya mendaftarkan diri pada tanggal 26 Maret kemarin, saat-saat terakhir batas pengumpulan formulir. Tapi untungnya tidak sampai terlambat, jadinya saya bisa mengikuti acara pencalonan sesuai rencana.

Sebelum waktunyan tiba, saya sempat mengalami sindrom kekhawatiran yang sangat akut. Bukan apa-apa, saya belum pernah mengikuti acara ini. Dan juga, khawatir nanti, saat melakukan pembacaan Visi dan Misi saya akan berantakan karena grogi dilihat oleh orang banyak. Tetapi akhirnya dengan menguatkan diri, saya bisa juga untuk tampil ke depan untuk membacakan Visi dan Misi jika kelak terpilih nanti.

13014512191613228358

Saat Menyampaikan Visi dan Misi…

Meskipun badan ini gemeteran saking grogi, Alhamdullilah saya dapat juga menyampaikannya,

- Misi saya adalah mengerjakan tugas sembari Belajar, berhubung saya masih sangat awam mengenal Organisasi ini. Dan juga karena saya masih sangat muda untuk mengemban amanah di lingkup Kelurahan.

- Sedangkan Visi saya adalah, pertama “Memasyarakatkan Internet serta Menginternetkan Masyarakat”. Karena sekarang sedang mewabah demam Facebook, Twitter dan video di Youtube, maka saya akan mencoba untu mensosialisasikan gerakan untuk Berinternet yang sehat. Jadi, kalau kaum remaja berselancar di Internet, tidak hanya chatting atau main game online saja, tetapi harus produktif. Seperti melayangkan tulisan di Kompasiana, Membuat Blog tentang Pengetahuan, atau mengikuti forum-forum yang sangat mendidik. Saya juga akan mencoba membagikan kisah saya tentang menulis itu asyik kepada rekan-rekan remaja kita.

Visi saya yang kedua “Meremajakan Kaum Pemuda dan Memudakan Kaum Remaja”. Untuk yang satu ini, saya berharap Kaum Pemuda sebagai Generasi Penerus Bangsa dapat diberikan kesempatan dalam berorganisasi dan bersosialisasi dalam ruang lingkup di RT, RW maupun Kelurahan. Sebabnya apa, sekarang ini, kalau Pemuda tidak diarahkan ke jalur yang benar, nantinya dikhawatirkan apabila jalannya sudah melenceng, maka tindakan ke depannya juga dapat menyimpang jauh. Apalagi untuk menghindarkan kaum Pemuda, khususnya remaja dari Judi, Minuman Keras atau Narkoba. Untuk itu harus dapat dicegah dengan berbagai kegiatan seperti Futsal, Badminton, maupun berbagai macam kegiatan lainnya agar mereka mau bersosialisasi dan berinteraksi.

Karena kalo tidak dari sekarang Kaum Pemuda diberi kesempatan,

mau kapan lagi…

* * *

Kemudian setelah acara yang berlanjut sampai Pemungutan suara, tinggal menunggu Penghitungan Suara dilakukan.

Saya hanya dapat berdebar-debar menunggu hasilnya, karena calon lainnya adalah Incumbent. Sebelumnya pernah menjabat sebagai Dewan Kelurahan (Dekel) pada periode yang lalu. Sudah begitu rumah kami pun bersebelahan, hanya terpisahkan oleh segaris tembok. Dan Beliau beserta Istrinya adalah Guru Mengaji saya, yang banyak memberikan Ilmu kepada saya. Jadinya sempat terjadi Dilema, pada saat saya akan mengajukan sebagai Calon bersanding dengan Beliau.

Tapi berhubung, kita tinggal di Negara Indonesia yang Demokrasi. Sebuah negara yang menganut paham bebas mengutarakan Pendapat bagi setiap warganya selagi masih dalam batas-batas kewajaran, maka saya memantapkan diri untuk mengikuti pencalonan tersebut.

* * *

“sebuah pisau yang tumpul dan berkarat, apabila setiap hari terus diasah secara rutin

mustahil kah, tidak bisa tajam melebihi pedang”

* * *

Akhirnya setelah melalui mekanisme yang panjang, penghitungan suara dapat dilakukan. Riuh rendah suara tepuk tangan saling bergemuruh diantara hadirin yang datang mengikuti acara. Dan hasilnya, sesuai prediksi saya sendiri maupun orang banyak. Saya kalah dengan hasil 14 : 46 : 2.

Saya mendapatkan 14 suara, Calon lainnya mendapatkan 46 suara, serta Blangko 2 suara…

130145144085162718

Hasil Penghitungan Suara

Yaah, akhirnya saya kalah ketika mengikuti pemungutan suara untuk yang perdana itu. Tetapi bagi saya sendiri pun tidak masalah, karena hitung-hitung saya belajar, mumpung masih muda. Siapa tahu, kegagalan hari ini dapat dijadikan cambukan untuk saya di masa depan, mungkin saya bisa jadi Lurah, Camat atau Walikota…

Toh, ke depannya nanti siapa yang tahu???

Meskipun berandai-andai, kan “suatu saat” dapat terjadi juga.

* * *

kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya…

* * *

———-Choirul Huda———-

________________________________________________________________________________

Sumber Foto : Dokumen Pribadi

Tulisan ini hanya Opini Pribadi

Penulisan Nama, Tempat dan Kejadian didasarkan pengalaman yang saya alami sendiri

________________________________________________________________________________

Tulisan-tulisan terkait:

- Teori Konspirasi: Dibalik Penyerangan Sekutu Terhadap Libya…?

- Ironi Seorang Kupu-kupu Malam…

- Maaf Facebook: Untuk Sementara ini saya Meninggalkanmu

- antara aku, Kau dan si kecil…

- Catatan Ringan Choirul Huda I - Menulis itu Mudah? Kata Siapa…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Reportase Festival Reyog Nasional XXI Hari …

Nanang Diyanto | | 21 October 2014 | 17:45

Rodhi, Pelukis Tunadaksa Ibu Negara, Titisan …

Maulana Ahmad Nuren... | | 21 October 2014 | 17:36

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Kok, Jokowi Lari di Panggung? …

Gatot Swandito | | 21 October 2014 | 10:26

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 9 jam lalu

Makna Potongan Tumpeng Presiden Jokowi bagi …

Kanis Wk | 9 jam lalu

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengenal Festival Ancak dari Desa Jeladri, …

Cak Uloemz | 7 jam lalu

Liga Tarkam, Rusuh Kok Budaya? …

Aprillia Lita | 7 jam lalu

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Sri Mulyani Jadi Mentri Jokowi dapat …

Alfons Meliala | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: