Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Wayan Budiartha

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Pelacuran di Bali

REP | 04 May 2011 | 00:07 Dibaca: 5573   Komentar: 37   5

1304467506852277827

Profesi purba dan melanggar aneka macam aturan itu terlarang di Bali. Pelacur tak diterima di tengah masyarakat karena dianggap sampah, mengingkari kodrat kewanitaan merendahkan martabat kaum hawa, dan juga sarang kriminal, narkoba dan tentu saja tempat para calo dan koruptor menghabiskan segala macam uang haramnya. Pelacuran juga tak diterima oleh kalangan kedokteran karena penyakit seperti AIDS dan herpes serta gonorea bertebaran ditempat seperti itu. Masyarakat baik baik juga tak bisa menerimanya karena suami suami yang takut istri menjadikan pelacur sebagai simpanan dan gula gula hariannya.

Namun pelacuran tetap subur karena dibeking oknum yang tak jelas dimana juntrungannya. Mereka yang berkepentingan juga banyak, karena disetiap kegelapan ada saja yang memanfaatkannya untuk mendapat sedikit terang. Oknum yang semestinya memberantas justru setiap saat bisa kita jumpai petantang petenteng dengan gaya preman kesiangan di tempat pelacuran. Mereka memacari pelacur, menjadi penghubung dengan sang mami bila ada operasi gabungan, atau sekedar menjadi tukang parkir dadakan untuk mengamankan motor para pengunjung.

Di Bali ada yang sudah punah karena ditolak warga seperti di pasar Pesiapan Tabanan. Yang ini termasuk kasus hangat, karena pedagang di pasar sayuran itu kompak menolak kehadiran PSK bersebelahan dengan tempat mereka berjualan dengan lapak dan pick up. Mereka tak perlu mengadakan demo, pelacurnya sendiri dengan segala sumpah serapahnya menutup kompleks yang berderet sepanjang terminal terbesar di Tabanan itu. 1304467545676165232

Tapi di Pengkolan Kuta pelacuran tetap semarak, karena hanya itu atraksi yang tersisa. Pantainya diserbu sampah, bule meninggalkan penginapan pengapnya. Dan ketimbang melompong, entah siapa yang memulai Pengkolan yang letaknya memang dekat pertigaan Kuta itu kembali subur sejak beberapa waktu lampau. Beberapa pelacur yang tergusur dari Pesiapan, Nusa Dua dan Lumintang dan Danau Tempe di Sanur bermunculan ditempat yang kumuh itu. Mereka menjajakan diri sejak pagi sampai malam hari. Ada oknum yang diuntungkan, yang datang ketempat itu setiap tengah hari dan mendapat setoran berupa uang upeti masing masing Rp 50.000 dari setiap pelacur. Bila ada 20 pelacur yang beroperasi sepanjang siang hari maka uang Rp 1 juta masuk kocek. Selama sebulan bila rajin tiap siang datang ke tempat itu pendapatan sang oknum yang datang entah dari mana mencapai Rp 30.000.000. Atau dalam setahun tak kurang dari setengah milyar. Maka banyak yang berusaha mempertahankan keberadaan komplek Pengkolan itu agar bisa jadi semacam sumber pendanaan bagi sang oknum.

Hadir sejak 25 tahun yang lampau, Kuta memang sudah disesaki pelacuran kelas teri sejak semula. Diawali di Banjar Segara, ketika pelacuran hadir dipaksa paksakan untuk mendukung kepariwisataan, alasannya, bule yang datang membutuhkannya. Supir yang pening kepalanya juga perlu hiburan. Tapi pemuka masyarakat di Banjar Segara keberatan kawasannya dijadikan sentra esek esek. Mereka mengusir pelacur yang sudah berkembang bak jamur di musim hijan di tempat itu.

Kemudian pelacur yang terusir terdesak ke kawasan yang sekarang disebut sebagai Pengkolan. Awalnya mereka beroperasi di kebon kelapa dikebon pisang selama bertahun tahun, barulah ketika dirasa sudah tidak sehat lagi mereka membangun komplek sederhana berdinding gedek berlantai tanah. Tanpa penerangan apalagi juga tanpa ventilasi. Yang datang ternyata juga ada bule, guide liar, gigolo dan tentu saja hidung belang sejati.

Hanya ada dua tempat milik Nyoman Manget, dan Marwah. Kedua germo ini menyediakan masing masing 3 kamar untuk berasyik masyuk para pelacur yang umurnya diatas 30 tahun itu. Untuk setiap session kedua germo itu mengutip bayaran Rp 15.000 untuk layanan kamar. Pelacur biasanya memasang tarip Rp 25.000 untuk setiap layanan yang diberikan. Pelacur senang hidung belang berkantong tipis juga senang.

Sejak setahun yang lampau tak kurang dari 10 pelacur di tempat itu mati mengenaskan. Seperti mendapatkan karma barangkali, karena tak setiap kesenangan berakhir bahagia. Kematian itu diawali oleh sakitnya pelacur bernama Sefana, 32 tahun tanpa sebab. Dia kemudian makin lama makin kurus dan batuk berkepanjangan. Berikutnya ada Santi, 34 tahun juga mengalami hal serupa. Dia juga meninggal tanpa sempat berobat ke dokter. Penyakitnya oleh kalangan pelacur di Pengkolan disebut serangan magis karena kedua pelacur itu sering menolak ajakan hidung belang.

13044675811224467948Tak pernah ada yang berobat sampai tuntas, Sefana yang mendadak kurus sempat diberi tablet berupa vitamin, tapi belum habis obatnya dia sudah meninggal. Begitu juga Santi, Nur, Rina, Yeni dan belasan teman lainnya yang sekarang juga menunjukkan gejala kurus, kurang tidur dan kurang makan serta batuk dan sesak nafas. Namun pengunjung tetap saja berjubel apalagi di malam minggu. Karena bagi mereka meniduri pelacur yang murah meriah adalah kebutuhan. Tanpa menyadari mungkin saja mereka ketularan penyakit yang diderita oleh sang pelacur baik sekedar sesak nafas, batuk ataupun hepatitis. Atau bisa juga terpapar AIDS yang gejalanya juga serupa yakni menurunkan kekebalan tubuh, kurus kering, batuk berkepanjangan disertai mencret mencret.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 12 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 15 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 19 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 20 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: