Artikel

Regional

Yayat

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Memasyarakatkan MotoGP dan me-MotoGP-kan masyarakat

Meniti Kawat Baja Demi Sekolah


HL | 20 May 2011 | 13:37 Dibaca: 862   Komentar: 200   13 dari 17 Kompasianer menilai aktual

1305883511373626391

Ini bukan sedang outbond (dok.www.eocommunity.com)

Hati saya terasa terhujam pisau tajam ketika tadi pagi sebelum saya berangkat ke kantor melihat sebuah tayangan di tivi nasional kita tentang kondisi anak-anak sekolah di Lebak Banten yang bertaruh nyawa hanya untuk belajar di sekolah. Bagaimana tidak? Pernah Anda bayangkan bahwa anak-anak Anda akan berangkat ke sekolah dengan cara seperti anak-anak SDN caringin 03 ini lakukan? Mereka harus menyeberangi sungai dengan cara berjalan di atas seutas tali baja. Sungai Ciliman dibawahnya cukup lebar dan deras. Siap menerima tubuh anak-anak mungil ini bila mereka terpeleset dari tali.

Tadinya saya pikir lokasi mereka ada di pelosok daerah yang tak terjangkau oleh pemerintah kita. Di Puncak gunung yang butuh waktu berminggu-minggu untuk mencapainya misalnya. Ternyata tempatnya dekat saja. Di Lebak, Banten, sebuah propinsi yang dikepalai oleh seorang gubernur wanita, ibu Ratu Atut Chosiyah. Maafkan untuk para warga Banten dan para pendukung ibu Ratu Atut terutama, tulisan ini tak dimaksud untuk menyalahkan kinerja pemerintahan Banten yang sepertinya sama saja dengan daerah lainnya di Indonesia.

Sudah seringkali kita membaca (juga melihat) betapa mengenaskannya dunia pendidikan kita. Dari mulai carut-marut ujian, proses belajar hingga fasilitasnya. Memang banyak sekolah yang bagus, tapi berapa persennya dari jumlah sekolah yang ada di Indonesia? Mungkin pemerintah kita tak ingin mengurusi lebih jauh hal-hal yang menyangkut pendidikan generasi kita. Menurut mereka mutu pendidikan kita bagus. Ya sudahlah ikuti saja.

Saya hanya ingin menyoroti tentang semangat anak-anak ini. Dulu sekali saya juga pernah menulis tentang anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan naik lori, yaitu sebuah papan yang menggantung di atas seutas tali baja (mirip ayunan bentuknya) untuk menyeberangi sebuah sungai deras yang mengalir di bawahnya. Daerahnya juga nggak jauh-jauh amat. Di sebuah daerah di Jawa Barat. Dalam acara outbond saya tak akan mau menaiki lori macam ini. Lalu sekarang lebih parah lagi. Anak-anak ini menyeberangi sungai dengan seutas tali. Lagi-lagi saya tak akan mau melakukan hal ini, dalam acara outbond sekalipun.

Tokoh masyarakat setempat bukannya tak peduli dengan kondisi anak-anak ini. Mereka telah mengadukannya pada DPRD Banten. Bahkan laporannya pernah diterima langsung oleh Komisi D yang membawahi bidang insfrastruktur dan transportasi, yaitu Ketua Komisi D DPRD Lebak, H Dana Ukon dan beberapa anggota dewan, M Nur, Sirod dan H Suharjaya. Para tokoh masyarakat ini minta jembatan Leuwi Lember yang tadinya dipakai menyeberangi sungai Ciliman, yang ambruk bulan Maret lalu segera dibangun kembali karena sarana jembatan itu sangat vital bagi para penduduk desa.

Tindakan selanjutnya dari DPRD Banten adalah melaporkannya kepada ibu Atut selaku pimpinan Banten. Ibu Atut menjanjikan akan membangun jembatan itu segera dan menjadikannya prioritas. Namun hingga tadi pagi, di sebuah televisi nasional (Trans7), jembatan belum juga berdiri, anak-anak ini masih juga melintasi sungai dengan seutas tali. Jadi kapan jembatan akan berdiri? Mungkin nanti kalau pemilu diadakan lagi. Biasanya pada waktu pemilu, para pejabat kita akan “dekat sekali” dengan rakyat.

Sebagai informasi tambahan, setelah menyeberangi jembatan dengan cara “dahsyat” seperti itu, anak-anak harus jalan lagi untuk sampai ke sekolahnya. Jangan bayangkan bahwa jalan yang dilalui mulus beraspal. Jalannya naik turun, tanah berbatu, yang akan jadi kubangan kalau turun hujan. Lama perjalanan mereka untuk mencapai sekolahnya masing-masing adalah 1 jam. Luar biasa ya. Mestinya pemimpin kita yang duduk di istana sana tahu ini. Saya ingin tahu pendapat mereka tentang semangat anak-anak ini. Kira-kira komennya apa ya? “saya ikut prihatin atas jembatannya, tetap semangat ya”. Mungkin begitu kira-kira komentarnya. Lalu apa? Bermimpi saja kalau dalam sehari jembatan langsung dibangun lagi.

Berdo’a saja agar Tuhan Sang Pemilik Nyawa melindungi anak-anak ini dan anak-anak lain di pelosok Indonesia yang berjuang untuk bisa mengenyam pendidikan. Siapa tahu mereka akan jadi pemimpin bangsa ini nantinya.

Sumber berita : www.eocommunity.com

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: