Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Wacana Pancasila untuk Ekonomi Indonesia

OPINI | 05 June 2011 | 10:59 Dibaca: 1726   Komentar: 1   1

Wacana yang berkembang dimasyarakat saat ini masih mengenai Pancasila sebagai dasar negara  Indonesia yang telah berumur 66 tahun sejak 1 Juni 1945 yang dikemukakan oleh Ir. Soekarno dalam pidatonya sebagai berikut: (sumber: wikipedia)

Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa - namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.

Pancasila kembali dibincangkan dalam wacana publik yang mendasarkan pada nilai-nilai yang dikandungnya dalam bingkai kelima sila tersebut karena selama ini tidak mampu menjadi alat pemersatu bangsa dan ideologi nasionalisme Indonesia. Dengan beragam peristiwa yang terjadi di Indonesia tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila karena berbagai peristiwa tersebut secara nyata telah menyimpang dengan tujuan terbentuknya masyarakat yang berdasarkan hukum dan disiplin moral bangsa telah memecah belah persatuan Indonesia.

Baca tulisan sebelumnya ‘Kendaraan Yang Bernama “Pancasila”‘ dan juga ‘Resolusi Krisis di Indonesia‘ yang didalamnya terkait dengan beragam peristiwa yang riil dan dalam analogi yang sebenarnya sehingga menurut saya Pancasila sudah dalam konteks yang sebenar-benarnya sebagai dasar negara Indonesia dan ideologi nasionalisme kebangsaan Indonesia. Dalam dunia pendidikan yang pernah saya dapatkan dimasa sekolah dulu pada tahun 1995 adalah P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dan saat itu semua siswa diwajibkan mengikuti penataran tersebut juga mendapatkan sertifikat P4, namun saat saya melanjutkan studi pada tahun 2007 tidak mendengar lagi tentang P4 apalagi di kampus, namun saya sangat menghayati butir-butir Eka Prasetia Panca Karsa yang berjumlah 36 (Tap MPR no. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa) kemudian dicabut dengan Tap MPR no. I/MPR/2003 dengan 45 butir Pancasila.

Kendala Pancasila sebagai pemersatu bangsa sama sekali tidak ada, tetapi timbulnya konflik lebih sering berasal dari perbedaan kepentingan individu yang mendesak untuk berperan dalam kancah perpolitikan dan ataupun sebagai pemenang dalam penguasaan wilayah dengan mengindahkan hukum di Indonesia. Pancasila memberikan ruang aspirasi penuh kepada masyarakat untuk berkembang dan berkreatifitas untuk pengembangan penemuan baru melalui inovasi tetapi dalam itu semua yang menjadi hal penting adalah persoalan ekonomi, karena sejak perang dunia ke-2 demokrasi telah berkembang menjadi demokrasi ekonomi dan saat ini sedang dalam persiapan melangkah menuju perdagangan bebas. Maka, masalah ekonomi akan menjadi perhatian bagi Pancasila agar dapat menjadi alasan untuk perekonomian dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dan tidak hanya selalu soal moralitas dan nasionalisme saja.

Pancasila sebagai dasar negara belum menguraikan tentang perekonomian Indonesia bahkan yang diuraikan dalam pasal 33 UUD 1945 masih belum dapat dikatakan bahwa perekonomian Indonesia adalah Ekonomi Indonesia, dimana pengangguran dan kemiskinan hanya selalu sebagai wacana pemerintah dari masa ke masa dan kontrol asing dalam SAP masih membekas dalam ekonomi dengan privatisasinya sehingga masyarakat semakin kurang dapat memperoleh barang publik jika semua perusahaan negara dikendalikan oleh asing.

Timbulnya wacana tentang Pancasila dalam usianya yang ke-66 pada 1 Juni 2011 lalu merupakan tantang bagi Pancasila untuk bisa menyesuaikan dengan situasi bangsa dan negara yang sedang akan menjadi negara yang kaya akan sumber daya alam dan menggunakan tenaga kerja manusia yang maksimal untuk mengurangi pengangguran serta membuka lapangan pekerjaan baru melalui perusahaan negara.  Namun apakah itu menjadi realisasi dengan jejak-jejak kapitalisme global yang mencokol di negeri ini dengan modal yang besar untuk menguasai aset negara, kemudian apakah Pancasila hanya akan menjadi suatu wacana ideologis untuk pengendali moralitas bangsa padahal sekarang ini demokrasi ekonomi telah menawarkan ruang untuk liberalisasi perdagangan, sementara yang kuat ekonominya sibuk memperkaya diri dan yang lemah ekonominya masih saja dalam keterbatasan.

Namun lebih dari itu sebagai ideologi, Pancasila tidak pernah salah dan sebagai dasar negara pancasila akan selalu menjadi yang paling kokoh.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 9 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 17 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 19 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 11 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 12 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Nur Delima | 12 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 12 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: