Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Agam Sidro

lelaki yang sibuk dengan dirinya sendiri

Esek-esek di KA Jogja-Jakarta

REP | 14 June 2011 | 16:34 Dibaca: 11279   Komentar: 6   0

Salah satu pilihan transportasi publik yang termasuk nyaman saat ini adalah Kereta Api (KA).  KA melayani perpindahan manusia dari satu kota ke kota yang lain. Dengan kecepatan yang hampir setangah pesawat terbang, KA menjadi pilihan yang baik dalam melakukan perjalanan. Apalagi saat ini KA dirancang sedemikian rupa sehingga duduk di kursinya hampir senyaman dalam pesawat terbang. Dengan kenyamanan tempat duduk plus kecepatan perjalanan jelas, KA adalah transportasi publik yang mendekati sempurna. Tapi, ini cerita KA di luar negeri.

Di Indonesia, KA juga menjadi salah satu alat transportasi publik yang digemari. Hanya saja, pilihan pada KA tidak semata-mata pilihan kenyamanan dan ketepatan waktu, tapi lebih pada karena tidak ada pilihan lain. Sebab jelas KA di Indonesia belum bisa memberikan pelayanan yang mudah dan murah untuk urusan perpindahan manusia. Seperti pengalaman saya saat melakukan perjalanan dari Jogja ke Jakarta bulan lalu.

Saya memesan tiker sebuah KA yang akan melakukan perjalanan ke Jakarta dua hari sebelum berangkat. Namun malang bagi saya karena tiketnya sudah habis. Kata penjual, tiket Jogja-Jakarta sudah habis sejak sebulan yang lalu. Sebab malam di mana saya akan melakukan perjalanan itu bertepatan dengan malam kembalinya warga Jakarta yang menghabiskan liburan di Jogja. Jadi saya terancam tidak bisa bernagkat ke Jakarta.

Saat saya keluar dari tempat pembelian tiket, saya ditegur oleh seorang laki-laki muda.

“Mas, mau cari tiket ke mana?”

“Saya mau ke Jakarta, tapi tiketnya habis.”

“Ah… ngak… masih ada. Ini masih ada” katanya sambil menunjukkan segepok tiket di tangannya.

“Itu tiket siapa?” tanya saya sedikit bingung.

“Siapa saja, siapa yang mau ke Jakarta,” katanya.

Saya baru sadar kalau saya sedang berhadapan dengan calo. Saya tanya harganya, ternyata ia jugal Rp. 500 ribu. Bandingkan dengan harga normalnya yang hanya Rp. 310 ribu. Dan itu terjadi persis di depan pintu penjualan tiket resmi Kereta Api. Saya harus mengambil tiket mahal itu karena saya harus ada di Jakarta keesokannya.

Di dalam Kereta Malam. Dua orang berseragam datang menyuguhkan minuman.

“Minumnya Pak, mangga atau semangka?”

“Semangka” kata seorang anak muda di samping saya. Saya sendiri menolak karena masih sangat kenyang.

Beberapa saat kemudian dua orang berseragam lain datang membawa makanan:

“Makannya Pak, Nasi goreng bistik atau nasi goreng ayam?”

“Bistik” kata anak muda itu lagi. Saya tidak makan karena sudah makan di rumah sebelum berangkat.

Dan kereta api terus melaju.

Jam 11.00 malam, seorang perempuan berseragam datang membawa kertas berbicara dengan teman di samping saya.

“Nasi goreng bistik dan jus semangka. Semuanya Rp.49 ribu” katanya.

“Rp. 49 ribu? Bukannya minuman dan makanan itu pelayanan dari KA?”

“Oo… bukan pak. itu dari restoran. KA tidak menyediakan makanan.”

“Saya tidak mau bayar. Saya tidak pesan dan saya tidak diberitahu kalau itu makanan dari restoran yang harus dibayar.”

“Tidak apa-apa Pak kalau tidak mau bayar.” kata perempuan itu sambil berlalu.

Kereta terus melaju. Anak muda itu sangat marah. ia mulai mengungkapkan kemarahannya kepada saya. Saya diam saja. Alhamdulillah juga tadi saya tidak memesan minuman dan makanan. Apalagi hampir sepanjang malam ada petugas yang berseragam datang menawarkan macam-macam. Ya makanan, ya minuman, oleh-oleh, sampai kepada maskot kereta api, tas, dll. Membuat istirhat di kereta sungguh tidak nyaman.

Saya bangun jam dua malam mau ke toilet. Toilet di sambungan gerbong dekat pintu keluar masuk. Ternyata pintu tidak bisa dibuka. Air di keran tidak hidup. Bau pesing memenuhi ruang toilet. Terpaksa kembali ke tempat duduk, ambil air mineral buat bersih-bersih.

Begitulah secuil pengalaman di KA Jogja - Jakarta. KA kita benar-benar belum meberikan sebuah pelayanan yang memuaskan. Apalagi kualitas KA yang jauh tertinggal. Suara yang masih sangat bising, perjalanan yang lamban, ketepatan waktu yang sangat tidak bagus, KA adalah pilihan wajib yang terpaksa digunakan untuk sebuah perjalanan.

Hampir lupa. Tentang esek-esek di kereta Api. Saya pernah mendengar cerita teman kalau toilet kereta api sering juga dipakai untuk berbuat mesum. Namun saya tidak punya pengalaman itu. Dan beberapa kali saya naik kereta juga tidak bertemu dengan pasangan yang demikian.

Tags: kereta api

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 9 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 9 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 9 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: