Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Ibnu Zakaria

Jurnalisme Jalanan

Membangun Kesejahteraan Petani Lokal dalam Praktek dan Tata Niaga yang Berkeadilan

REP | 30 June 2011 | 23:04 Dibaca: 267   Komentar: 0   0

Oleh : M. IBNU ZAKARIA

Lembaga Gerbang Banten

Gerakan Pembangunan Masyarat Banten

http://gerbangbanten.webs.com

Saat ini banyak produk komuditi petani di provinsi banten yang akses terminal pasarnya mengandalkan pasar-pasar lokal, produktifitas komuditi petani dibanten melalui pasar lokal membantu kebutuhan konsumen rumah tangga. Perkembangan pertanian kian hari semangkin menunjukkan bahwa pertanian tradisional belum maju seperti pertanian teknologi tepat guna sebagai bentuk pendidikan pertanian yang baik, akan tetapi belum menjamin kesejahteraan petani. Pada keberlangsungan produktifitas pertanian di banten, ada beberapa wilayah penyangga pertanian yang mengandalkan komuditi holtikultura selain pangan, seperti : cabe, sayur mayur, timun, dsb, dari sisi penguatan modal saja mereka sudah lemah (kekurangan modal) belum lagi nilai jatuhnya harga dari apa yang mereka tanam, ini menjadi persoalan yang dilematis, bahwa sebagian besar komuditi yang ditanam juga belum sebanding dengan nilai harga jual produk pertanian, banyak beban biaya petani yang harus termarjinalkan oleh tata niaga yang tidak berkeadilan.

Pak Caming, petani penggarap untuk komuditi cabe di Desa Cisalam Kecamatan Baros Kabupaten Serang “apapun yang kami tanam tetap saja pak, nilai harganya rendah. Soalnya pengepulnya yang didesa akan menjual lagi ke pedagang besar di rau”. Dari obrolan itu, beberapa hal yang kami,advokasi, bahwa persoalan pendidikan pertanian belum bisa terselesaikan, jika pada perjalanannya masih mempertanyakan akses pasar yang sebenarnya, siapa yang lebih diuntungkan dan pelaku mana yang lebih besar untungnya. Banyak cerita pahit para petani penggarap yang menggantungkan hidupnya dari penjualan komuditi pertanian, berharap harga lebih menguntungkan, jangankan untung, mungkin kembali modal saja sudah muhun Alhamdulillah, belum lagi beban biaya produktifitas yang masih ngutang.

Persoalan kemunduran petani penggarap saat ini ada pada 3 persoalan, pertama pada sisi Modal, kedua pada sisi pengetahuan pertanian, dan ketiga pada sisi pasar. Akan tetapi salah satu pada posisi ini yang lebih strategis yang masih menjamin penguatan pertanian dan modal adalah akses pasar sendiri. Ketika petani tidak memiliki modal, masih bisa mengandalkan kemitraan, ketika petani belum mengerti dalam pengetahuan pertanian masih bisa memakai pola pendampingan, akan tetapi ketika berhubungan dengan pasar, belum ada yang menjamin produktifitas nilai harga komuditi yang tinggi, walaupun perkembangan membangun pasar desa modern digalakkan. Oleh kerenanya situasi petani terancam pada sisi praktek dagang dipasar. Aktifitas perdagangan di tingkat desa, sebenarnya banyak praktek-praktek tata niaga yang mengancam kesejahteraan petani, transaksi perdagangan pada level desa lebih sering dikuasai oleh pengepul dan tengkulak, kajian analisis pasar untuk petani ini, kami menyimpulkan bahwa saat ini petani belum menguasai akses informasi pasar yang sebenar-sebenarnya, sehingga dapat saja dipermainkan oleh para pelaku usaha yang lebih menguntungkan dirinya. Jika melihat kondisi petani diprovinsi banten, kehidupan yang serba pas-pasan, pengetahuan dan budaya yang tergesa-gesa menjadi alasan, dimana jika hasil tersebut tidak dijual secepatnya, kebutuhan rumah tangga tersendat, tanpa memikirkan keberlangsungan modal pertanian yang berkelanjutan. Bukan rahasia umum lagi, jika saat ini akses pasar lokal sendiri dikuasai oleh pengusaha dan pedagang, pada jaringan kerjanyapun lebih terstruktur sehingga dapat menekan harga pada petani.

Advokasi Pasar dan Pelakunya

Dari beberapa tengkulak desa yang kami ajak diskusi, hampir rata-rata mereka sendiri membangun harga dari apa yang mereka dapat, ditentukan oleh pengepul besar di pasar lokal, keuntungan yang mereka ambil terkadang wajar, bahkan sering sekali tidak wajar pada level tekanan harga pengepul besar, inilah yang menjadi pertanyaan bagi kami, dimana letak benang merahnya sendiri. Kami mencoba menyelusuri advokasi pasar lokal, ternyata semua jawabanya, untuk menentukan dan menekan harga disetiap wilayah, ada pada agen pengepul besar. Apa yang mereka lakukan?, mereka sendiri terkadang bermain pada jaringan akses diluar wilayah, disatu sisi mereka menampung produk pertanian dari tengkulak lokal, untuk diecerkan kembali ke pasar lokal, disisi lain mereka juga membuang produk pertanian lokal ke pasar induk.

Problem jatuhnya harga sendiri, sering kali dikaitkan dengan banyaknya jumlah barang mentah pertanian yang beredar membuat harga turun, namun lama kelamaan terjawab, bahwa ditataran agen besar sendiri, untuk menekan harga naik dan turun sendiri, tergantung jumlah kapasitas bahan mentah pertanian di wilayah pertanian itu, apakah kapasitasnya besar atau kecil, jika jumlah kapasitas produk pertaniannya lebih tinggi, maka ia akan membuang ke wilayah lain yang ketersediannya minim. Disinlah kami menilai, bahwa komitmen menjaga pasar lokal tidak ada rumusnya, serta keberpihakannya, sudah barang tentu agen besar lebih mementingkan keuntungan ketimbang menjaga wilayah potensi pertanian dari masuknya produk luar wilayah yang menghajar petani lokal. Selain itu keterikatan tengkulak-tengkulak lokal dibangun kebersamaanya, sehingga tingkat kepercayaan dan loyalitas untuk menjual kepada pengempul besar tidak berpindah-pindah. Untuk menentukan variasi harga naik dan turun sendiri tergantung dari jumlah sebaran komuditi petani , yang kapasitasnya mana yang lebih besar, artinya dari bahan mentah pertanian tersebut sendiri bervariatif tidak pada semua komuditi turun harga.

Perlunya Membangun Kelembagaan Petani

Kelembagaan terhadap petani pengarap perlu dilakukan atas dasar kesadaran bersama, bukan kerena berbasis program atau terdesak mengejar bantuan hibah. Kemandirian terhadap petani saat ini dalam kelembagaanya perlu penguatan dan pengorganisasian yang real, tidak fiktif. Secara berkelompok membangun prilaku efisiensi pendampingan terhadap komunitasnya, ini yang terpenting yang perlu dikuatkan selama ini. Perjalanan kelembagaan nantinya akan dapat membantu persoalan-persoalan di tingkat potensi daerah, kelembagaan petani yang dibangun merupakan cermin kebersamaan dalam menyelesaikan permasalahan kelompok. Selama ini, banyak kelompok tani yang dibentuk kerena tujuan mengejar bantuan, tanpa menilai keberlangsungan pertanian yang berkelanjutan. Kegagalan pemerintahaan sendiri, pada distribusi bantuan program pertanian yang nilainya cukup besar, selama ini tidak tepat sasaran, selain itu keseriusan dalam pengelolaan bantuannyapun kurang begitu didampingin. Sehingga bantuan tersebut hanya sebatas sampai dana itu dhabis.

Mengembangkan Produk Olahan

Belum ada pimikiran yang mengedepankan bahwa untuk menghindari jatuhnya harga pasar saat sekarang ini, petani seharusnya sudah lebih kreatif mengembangkan komuditi olahan dari apa yang mereka tanam. Kebanyakan produk olahan industry rumahan yang ada saat sekarang ini, juga masih tergantung kepada pasar lokal, belum maksimal untuk membeli langsung kepada petani, atau sebaliknya petani sendiri yang sudah melakukan produksi produk olahan. Pada posisi produk mentah menjadi produk olahan, sebenarnya bisa dibebankan kepada konsumen. Esensi nilai produk olahan jauh lebih tinggi dari produk mentah, jika petani saat ini melakukan hal yang demikian juga dapat menciptakan pasar-pasar yang lebih baik dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi petani itu sendiri.

Petani yang sudah melakukan hal ini, mungkin akan menguasai bahwa keberadaan industri rumah tangga jauh lebih besar konstribusinya terhadap peningkatan harga jual barang mentah, tentunya masuk akal jika bahan baku itu dijual kepasar maka harga beli dipetani sebenarnya dikurangi dari biaya-biaya lainnya.

Perlunya Menggagas Peran Ganda Petani Menjadi Pedagang Serta Membuka Akses Pasar Komunitas Kebutuhan Konsumen Secara Langsung dengan Prinsip-prinsip Kebersamaan.

Mungkin saat ini jarang sekali kita jumpai posisi ganda bagi petani, ketika petani juga menjadi pedagang, aktifitas ini sebenarnya lebih menguntukan petani, ketimbang hanya menjadi satu peran, dalam praktek-praktek perdagangan di tingkat lokal. kami sudah pernah membuktikan aktifitas peran ganda ini, beberapa keuntungan yang didapat diantaranya, pertama meminalisir praktek dagang pengepul dan tengkulak, kedua memaksimalkan harga komuditas petani dibanding nilai beli tengkulak, ketiga membangun akses pasar baru serta mengikat konsumen secara berkelanjutan. Perlunya penguatan pada peran ganda ini sebenarnya juga lebih mendorong dan menempatkan petani sebagai pelaku pengelola utama, perlunya membuka akses pasar baru pada petani dari problem-problem pasar yang ada pada saat ini, memberikan pembelajaran dan pengalaman dimana gagasan berbasis komunitas konsumen lokal perlu dikuatkan.

Hasil survey Lembaga Gerbang Banten terhadap kebutuhan rumah makan di kota serang menjawab persoalan bagi petani komunitas, dimana konsumen rumah makan saat ini masih bergantung kepada pasar lokal ( rau dll..), selain itu pasokan kebutuhan rumah makan yang lebih berkelanjutan masih mengandalkan harga lokal dan pasar lokal, salah satu komuditi misalnya untuk kebutuhan sayuran dan cabe merah, cabe hijau dsb, saat ini kategori kebutuhan tersebut hanya didapat di pasar lokal, ini artinya belum ada gagasan baru untuk mengikat member keanggotaan komunitas rumah makan yang langsung didapat dari petani, jika gagasan ini dibangun kemungkinan besar persoalan praktek tengkulak dsb, bisa terselesaikan. Namun demikian belum ada satupun komunitas petani yang menjamin keberlanjutan kebutuhan rumah makan di kota serang. Selain itu hasil survey terhadap konsumen warung pengecer serta konsumen, juga mengharapkan hal yang demikian. perlunya memaksimalkan aktifitas perdagangan komunitas untuk membantu konsumen tersebut diatas, sebenarnya jauh-jauh hari pada wilayah potensi komuditi pertanian, sudah dilakukan inventarisasi untuk semua potensi sebaran tanaman terhadap berbagai aspek desa pada wilayah pertanian.

Akan tetapi dalam hambatan dari aspek hulu dan hilirnya masih banyak yang belum komitmen. Wacana lama yang dijadikan skema lain, selama ini dibicarakan terhadap peran pemerintah sendiri, diantaranya perlunya membangun terminal pasar perdagangan agro pertanian, dengan harapan sehingga pada posisinya, nantinya pemerintah menampung produk-produk mentah pertanian, yang esensi nilai pertaniannya sebanding dan berkeadilan terhadap petani. Posisi peran pemerintah pada dasarnya menampung dan menyalurkan produk-produk bahan mentahnya ke pabrikan pengolahan yang nantinya menjadi barang jadi, sehingga lebih mengangkat nilai produk mentah pertanian. Selain itu pemerintah juga, jika dianggap perlu untuk meningkatkan lebih memajukan pertanian tepat guna, sudah mulai memikirkan pembuatan pabrik olahan yang mampu membantu penyaluran bahan mentah tersebut sehingga menetapkan produk unggulan, tetapi posisi ini belum ada niatan dan komitmen pemerintah sendiri untuk mengawalinya.

Pada skema lain dalam mengembangkan peran ganda petani menjadi pedagang, kelembagaan petani sendiri yang sudah terbentuk, sebenarnya juga harus melindungi potensi lokal, hasil diskusi kami dengan kelompok tani yang kini sedang berjalan dengan skema ini, sedang menggagas pusat informasi pasar komuditi desa, meskipun tekanan yang ada saat ini, dilakukan kelompok-kelompok yang merasa terancam pada pada wilayah potensi sebaran pertanian. Sebenarnya posisi tengkulak dan lainya bukan untuk dimusuhi, akan tetapi jika keberhasilan akses pasar komunitas ini terbangun dan terstruktur secara berkelanjutan, posisi tengkulak sendiri membantu ketersediaan bahan baku dari komuditi pertanian, apa yang mereka dapatkan sebenarnya dapat dibeli kembali dengan harga yang berkeadilan serta membangun kebersamaan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Inilah 3 Pemenang Blog Movement “Aksi …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 10:12


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 11 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 19 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 21 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


Subscribe and Follow Kompasiana: