Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Wayan Budiartha

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Jamu Bali

HL | 28 August 2011 | 23:49 Dibaca: 602   Komentar: 4   2

1314587619403719835

Sejak seminggu sebelum lebaran seluruh pedagag jamu dari Solo, Lumajang, Banyuwangi yang berjualan di Bali telah mudik. Padahal tak sedikit orang Bali yang cinta mati dengan minuman herbal yang terbuat dari ramuan beras, kencur, kunyit asam dan samoroto ini. Mereka biasanya berdatangan sampai ke kampong kampong untuk menjajakan jamunya. Bagi yang sudah terbiasa dengan minuman segar ini kehilangan terbesar terjadi selama seminggu karena mbok jamu biasanya mudik dalam kurun waktu seminggu itu.

Penduduk Denpasar, Sanur, Nusa Dua dan Kuta serta Jimbaran boleh kehilangan jamu karena tak ada warga local yang bias meracik meramu sekaligus berjualan jamu. Tidak demikian halnya dengan penduduk Ubud. Karena masih ada Byang Raka 62 tahun yang dengan setia setiap hari berjualan jamu walaupun di hari lebaran. Dia tidak mudikl karena merupakan penduduk asli Banjar Pande Sayan Ubud. Jamu yang dibuatnya juga menggunakan resep asli Bali yang didapatnya dari aneka macam lontar atau dari mulut kemulut. Jamu untuk panas dingin misalnya merupakan ramuan daun bluntas yang ditumbuk halus dengan sedikit kunyit dan ceruk nipis.

“Jamu jenis ini laku saat pergantian musim seperti sekarng ini dari musim panas mau ke musim penghujan, kadang saya membuat 3 botol habis tak sampai 1 jam,”tutur ibu 3 putra ini. Dia juga membuat jamu pegel linu. Ramuannya adalah buah mengkudu yang sudah matang dengan daun sirih dan sedikit sambiloto. Ketiga jenis bahan ini juga ditumbuk halus kemudian diberi gula aren dan sedikit madu.

“Segelasnya saya jual Rp 2000, dan kebanyakan pelanggannya adalah para pelukis,” ungkap nenek 2 cucu ini. Di sekitar kampungnya di Saran memang bertebaran studio lukis, mereka duduk dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore untuk menghasilkan karya yang dijual sampai ke Amerika. Dan untuk menghilangkan pegal pegalnya mereka masih meminum jamu tradisional Bali.1314575298728245945

Selain itu Byang Raka juga membuat jamu untuk yang susah tidur, susah makan dan susah ke belakang. Bahannya campuran akar sereh yang ditumbuk bersamaan dengan daun pare hingga menghasilkan jamu yang sangat pahit.

“Tapi yang pahit itu justru yang bias menambah nafsu makan,” tambahnya. Hanya saja karena usianya sudah renta Byang Raka tidak bisa membuat banyak jamu tradisional. Hanya 7 botol ukuran 2 liter yang bisa dibuatnya dalam sehari. Itupun dikerjakan dari jam 5 subuh sampai jam 9 pagi. Kemudian dia berkeliling masuk keluar rumah dikampung sejuk yang ;berbatasan dengan Payangan dan Badung itu. Dalam sehari tak kurang dari 100 gelas jamu yang berhasil dijualnya.

Tak jarang pelanggan ;membeli sebotol jamu yang dijualnya seharga Rp 6000. Ini cukup untuk dikonsumsi seminggu asal disimpan di tempat yang dingin misalnya di kulkas.

Karena bertetangga dengan Ubud yang desa Internasional Byang Raka juga punya langganan bule. Mereka tidak minum jamu tapi memanfaatkan lulur Bali atau boreh atau disebut scrub. Bahannya beras yang sudah direndam diberi sedikit kencur dan dilulurkan ke sekujur tubuh. Tujuannya untuk mengangkat kulit mati juga untuk menghilangkan bercak dan membuat kulit jadi halus.

“Anak saya yang kadangkala dating ke hotel atau ke villa untuk memberikan lulur khas Bali itu, taripnya murah Cuma Rp 50.000 untuk luluran selama satu jam,” tambahnya.

Selain jamu dan lulur dia juga membuat obat untuk mereka yang terkena asam urat, tapi hanya sebulan sekali tergantung permintaan. Bahannya adalah rebusan daun salam yang diberi kulit waru yang telah ditumbuk halus. Airnya yang pahit kemudian diminum selama seminggu berturut turut dan banyak yang sembuh.

“Saya diberi tahu oleh kakek saya yang jaman dulu menyebut asam urat itu sebagai penyakit tuju,” ungkapnya. Dalam lontas warisan yang dimilikinya dia juga punya resep pembuatan jamu untuk penyakit jantung, ginjal, tumor dan kanker. Tapi dia tak pernah membuat obatnya karena pelanggannya tak ada yang ;menderita penyakit semacam itu.

13145753431497434621Hanya saja dalam resep keluarga itu tak ada jamu untuk kuat lelaki atau sehat wanita seperti yang biasa dijual oleh mbok jamu dari Jawa. Mungkin orang Bali jaman dulu tak begitu peduli dengan kejantanan dan kemolekan tubuh wanita.

“Mereka sudah kelelahan karena seharian berladang atau membuat karya seni sampai tak memikirkan lagi membuat jamu begituan,” begitu seloroh Byang Raka. Mungkin kalau di cari cari secara teliti kita bisa mendapatkan jamu anti korupsi dan mafia juga dalam resep warisan itu. Siapa tahu?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Apa yang Kau Dapat dari Kompasianival 2014 …

Hendi Setiawan | | 22 November 2014 | 22:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Inilah Para Peraih Kompasiana Awards 2014! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 21:30

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Inilah Pemenang Lomba Aksi bareng Lazismu! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 19:09


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


Subscribe and Follow Kompasiana: