
" Live your life with love "
--Frans--
Dibaca: 215
Komentar: 5
Nihil
Ilustrasi-Kemacetan di kawasan Puncak/Admin (KOMPAS.com)
Lebaran hari kedua (Kamis, 1 September 2011) sampai hari Sabtu 3 September kami memutuskan untuk menginap di kawasan Puncak. Harapannya sih bisa bersantai-santai ria sambil menikmati udara dingin yang segar. Berangkat hari Kamis pagi sekitar pukul 06.00 dari Jakarta, saya sekeluarga berangkat dengan hati riang gembira karena pagi itu cuaca sangat cerah dan segar.
Keceriaan mulai berkurang ketika mendekati pintu gerbang tol Ciawi. Mobil-mobil mulai jalan melambat, wah…ini sih tanda-tanda kepadatan yang luar biasa. Ternyata sangat ramai mobil yang antre untuk membayar tol di gerbang Ciawi tersebut. Lepas dari antrian sekitar setengah jam, kendaraan kami dapat melaju lagi menuju ke arah Puncak.
Mendekati persimpangan belokan ke arah Gadog dan Bogor, jalanan mulai padat lagi. Terlihat banyak orang yang menawarkan jalan “alternatif”, makin meyakinkan akan terjadi kemacetan besar. Benar saja, akhirnya kemacetan itu tiba, semua kendaraan terhenti kurang lebih satu jam menunggu pembebasan satu arah menuju ke Puncak. Pagi itu, kami ditemani para penjual jajanan, penjual jasa jalan alternatif, para peminta-minta serta orang-orang yang turun ke jalan karena bosan menunggu di mobil. Akhirnya sekitar pukul 10an pagi kami berhasil tiba di tempat penginapan di kawasan Tugu, Puncak. Jarak sekitar 60an KM itu kami tempuh dalam waktu 3 jam. Rombongan kakak ipar dan keluarganya yang berangkat agak siang dari Jakarta, berhasil menyusul dengan waktu tempuh “hanya” 5 jam.
Setelah melewati hari pertama dan tengah hari kedua dengan bersantai ria di villa, hari Jumat siang, ingin juga rasanya menikmati jagung bakar dan sekoteng khas kawasan Puncak. Bersama istri dan kakak ipar beserta istrinya, kami menuju kawasan Puncak pass untuk mencari suasana yang berbeda. Keluar dari kawasan penginapan sekitar pukul 14.00, sudah ramai antrian mobil yang mau turun ke arah Jakarta, sementara yang ke arah Puncak masih ramai lancar.
Kami berbalik arah menuju Jakarta sebelum area restoran Rindu Alam dan kemudian memarkir mobil di depan kawasan mesjid Attawaun yang terkenal dengan pemandangan alam dan banyak jajanannya. Alam yang dingin memang selalu membuat lapar, satu mangkok bakso dan satu jagung bakar habis saya lahap. Sekitar 45 menit kemudian kami bersiap-siap untuk turun kembali ke penginapan.
Jam 15.30 kendaraan mulai keluar dari parkir. Jalanan sudah sangat padat dan mulai antri. Tanpa banyak kemajuan, makin lama semua kendaraan makin banyak terhenti, sampai akhirnya berhenti total. Setelah “kehabisan gaya” di mobil selama hampir setengah jam, saya mengajak istri saya untuk berjalan kaki saja kembali ke penginapan. Sekalian membakar kalori makanan lebaran yang sudah banyak menumpuk, begitu pikir saya.
Berhenti total
Saya berdua dengan istri memulai “petualangan” kami berjalan sepanjang kurang lebih 6-7km dari puncak menuju penginapan di daerah Tugu. Sepanjang jalan, banyak hal menarik yang saya perhatikan. Pertama, tingkah laku para pengendara dan penumpang di kendaraan. Hampir sebagian besar dari mereka merasa bosan atau terlelap sambil menunggu. Bahkan banyak juga yang turun dari mobil untuk sekedar merokok atau melemaskan otot kaki. Anak-anak kecil ada yang menangis kepanasan, ada juga yang tidak tahan untuk menahan hajatnya sehingga harus membuang air kecil di pinggir jalan. Karena banyak warung penjaja makanan di pinggir jalan, tak sedikit orang yang membeli makanan dan minuman sambil menunggu jalanan dibuka kembali. Di jalan saya juga melihat beberapa orang lelaki berkebangsaan Arab serta pasangannya yang bercadar lengkap juga turun dari kendaraannya. Mungkin mereka sedang berlibur di Indonesia.
Orang berjualan
Selain para pengendara dan penumpang kendaraan, tak kurang banyaknya juga orang yang berjualan. Banyak ragam yang dijajakan oleh mereka, mulai dari minuman botol, makanan ringan, kue-kue sampai mainan anak-anak. Ada seorang penjual mie instan yang cukup kreatif menjajakan dagangannya. “Ayo beli beli Pop Mie supaya jadi ganteng”, katanya berulang-ulang. Saya dan istri tertawa melihatnya. Untung istri saya tidak menyuruh saya membelinya, itu khan artinya saya masih belum cukup ganteng di matanya. Hahaha……
Para penjual ini juga sangat beragam usianya, dari mulai anak kecil sampai dewasa. Di satu sisi mungkin para “penunggu jalanan” merasa nyaman karena tidak perlu turun dari mobil untuk membeli sesuatu, tapi di sisi lain para pedagang ini kadang berjualan seenaknya sehingga mengganggu pengendara motor atau mobil dari arah berlawanan yang hendak lewat.
Hal lain yang saya banyak saksikan adalah banyak sampah di sepanjang jalan tersebut. Manusia Indonesia belum cukup disiplin untuk tidak membuang sampah sembarangan. Botol-botol minuman, bungkun makanan ringan dan plastik-plastik banyak memenuhi jalanan sore itu. Hati saya tidak rela melihat banyaknya sampah yang mengganggu pemandangan dan kebersihan. Hampir semua kendaraan yang menunggu di jalan membuang sampahnya ke jalan. Tak ada kesadaran dari para pengendara untuk menahan diri agar sampah tersebut di simpan di kendaraan mereka untuk kemudia dibuang di tempat sampah. Kalau saja hal yang kecil seperti ini orang Indonesia tidak bisa melakukannya, jangan harap bangsa kita akan maju seperti negara lain. Tidak usah terlalu muluk-muluk untuk berteori tentang pembangunan dan kemakmuran, mari kita mulai dari hal yang kecil dulu: membuang sampah pada tempatnya.
Akhirnya setelah berjalan satu jam lebih, saya dan istri sampai di penginapan pukul 16.10. Perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan dan memberikan banyak pelajaran kehidupan. Kakak ipar saya dan istrinya, baru tiba pukul 18.00, yang berarti perjalanan pendek tersebut ditempuh dalam waktu 3 jam.
Pasti ada yang salah dengan pengaturan lalu lintas di kawasan Puncak pada waktu lebaran. Namun demikian saya cukup menikmatinya, karena saya tahu pasti pak Polisi juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menatanya. Agar tidak mengulang pengalaman macet, pagi ini kami pulang ke Jakarta dengan berangkat pada pukul 04.45 pagi hari. Dan syukurlah jalanan masih lancar, tapi ternyata sudah banyak juga kendaraan yang mau turun ke Jakarta.
-Frans-
3 September 2011