Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Wayan Budiartha

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Leak Bali Part-2

REP | 10 October 2011 | 12:10 Dibaca: 2902   Komentar: 2   0

1318205216931856402Leak bagi kebanyakan orang Bali dianggap sebagai sesuatu yang membingungkan menakutkan mengerikan sekaligus mengenaskan. Membingungkan karena cara mengucapkannya ada seribu satu cara. Ada yang menyebutnya liak, dibeberapa tempat dipanggil leak, tapi ada juga yang mengatakannya sebagai leyak liyak dan lyak. Cara pengucapannya yang membingungkan ini ditambah lagi dengan pemunculannya yang menakutkan karena leak bisa muncul setiap saat pada waktu dan tempat yang tidak bisa ditentukan. Dia berupa mahluk jadi jadian menyeramkan dengan taring mencuat dan kepala botak yang disebut celuluk. Kisahnya dijadikan semacam legenda, tahyul dan mitos yang lebih dari 1000 tahun usianya. Tapi sampai sekarang dianggap masih ada. Karena berhubungan dengan kesaktian dan kesakitan. Penganut ilmu leak konon bisa berubah wujud mulai dari sekedar ayam dekil, monyet buntut panjang, sampai jadi motor, burung elang dan kilat menyambar nyambar.

Saya mendengar kata leak pertama kali saat usia 10 tahun, ketika itu ada tetangga saya yang setiap malam menjelang kajeng kliwon pasti pergi ke kuburan untuk mempraktekkan ilmu leaknya. Kata orang sekampung, di kuburan dia akan menancapkan sanggar cucuk kecil terbuat dari kawat, kemudian menarikan tari lenda lendi mirip dayang dalam cerita calonarang. Kemudian dia mengenakan sabuk putih merajah. “Lewat tengah malam ia akan berubah jadi monyet, api, motor sampai jadi burung elang,” ungkap kakek saya kala itu.

13182053031543257849Saya menelan mentah mentah cerita konyol itu selama bertahun tahun. Setiap menjelang kajeng kliwon beliau pasti melarang saya untuk main keluar rumah di malam hari, karena akan ada leak yang akan lewat. Saya sendiri karena bertetangga dengan dong Kenyar yang merupakan tokoh leak di kampung saya itu, tak merasakan apapun bila bertandang kerumahnya. Dia pedagang bumbu di pasar desa. Dia pemurah terutama kepada kami yang muda muda. Dia kerap memberi kue, permen dan sejenisnya tiap kali pulang dari pasar. Dimata saya leak itu baik hati, dan suka menolong.

Ketika umur 20 tahun setamat SMA saya mulai mengincar gadis idaman di kampung tetangga. Namanya Dewi, umurnya 2 tahun lebih muda. Saat itu dia kelas 3 SMA, mau melanjutkan ke sekolah perawat. Karena wajah saya kala itu diatas rata-rata maka diantara 5 orang pesaing sayalah yang memenangi kejuaraan menundukkan hati si Dewi ini. Tapi belum sampai 6 bulan pacaran musibah beruntun menimpa keluarga saya.

Adik saya yang kuliah di Jogja terserang penyakit aneh, dokter tak bisa mendiagnosis secara pasti. Ibu saya yang memelihara ayam seluruh ayamnya mati. Kata orang pintar yang kemudian jadi tumpuan ibu saya untuk memecahkan masalah, ternyata penyebabnya adalah si Dewi. Dia itu konon cucu dari leak ternama di kampung tetangga. Dialah yang akan mewarisi ilmu leak sang nenek. Sayapun mendapat ultimatum putus dengan si Dewi karena ibu saya tak mau punya menantu kandidat leak. Leak bagi saya kala itu, putus cinta dan membiarkan si Dewi merena karena konon sayalah cinta matinya.

13182053411727801463Umur 30 tahun saya menjadi asisten bule asal Perancis yang meneliti masalah leak di Bali. Ada 300 nara sumber yang harus saya bagikan pertanyaan seputar leak. Ada dukun yang bisa mengobati orang kena serangan leak, ada juga yang bisa membuat sabuk pengeleakan. Ada korban santapan leak ada juga orang yang konon bisa ngeleak. Karena sedang mengumpulkan data untuk meraih gelar doktor semuanya harus serba tercatat, ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Ada ratusan lembar kertas yang berisi jawaban tertulis dari nara sumber. Ada kaset rekaman suara dalam bahasa Bali, yang mesti saya terjemahkan ke dalam bahasa Perancis. Ada juga rekaman video hasil rekaman gambar dari seluruh nara sumber.

Leak waktu itu bagi saya rejeki nomplok, karena saya dibayar per jam seperti yang berlaku di Perancis.

Umur 40 tahun ketika berjalan jalan di pantai Sanur suatu pagi saya menemukan kain putih berisi gambar aneka macam mahluk seram. Ternyata menurut penduduk setempat itu adalah sabuk leak yang telah dimusnahkan oleh pemiliknya atau bisa juga oleh orang yang lebih sakti. Karena saya temasuk orang yang rasa ingin tahunya berlebihan, saya telusuri asal usul kain putih yang ternyata sabuk leak itu. Saya kemudian berhasil bertemu dengan dukun yang bisa membuatnya, kemudian berkenalan juga dengan orang yang datang untuk membeli sabuk pengelaakan. Saya tercengang karena diantara daftar nama nama pelanggannya ada orang yang saya kenal baik. Kebanyakan pedagang di pasar, calo tanah, wanita penghibur, istri yang selingkuh tapi inginkan suaminya takluk. Leak kemudian merubah pandangan saya, dia menjadi semacam panutan bagi orang yang serakah, yang ingin lebih dan lebih banyak lagi.

Umur 50 tahun sekarang ini saya punya selusin teman dukun yang biasa menumpas kesaktian leak dan turunannya. Ada mangku Priksa di Pecatu yang pernah saya tulis beberapa tahun lampau tentang kemampuannya mendeteksi leak. Juga ada mangku Bulit yang juga piawai menangkap leak dan memberangus kesaktiannya. Sayangnya dia sendiri sekarang tergeletak terkenya penyakit batu ginjal. Bukan oleh serangan leak tapi karena kebiasaannya minum arak api yang kandungan kalsiumnya tinggi.

13182054121398128731Begitulah leak di Bali, dia dijadikan alat ampuh untuk mendiskreditkan orang . Yang merasa lebih pintar terhadap yang bodoh, yang lebih kaya terhadap yang miskin dan yang berkasta terhadap yang jelata. Karena serba tidak jelas, tujuannya untuk apa, sejarahnya bagaimana, dia seperti terjun dari dunia antah berantah tapi kemudian merajalela selama bertahun tahun dengan aneka macam kisah mengenaskan.

Ada orang yang karena dituduh bisa ngeleak dibakar hidup hidup. Ada juga yang dikucilkan dari pergaulan karena dianggap menebar penyakit berbahaya. Di televisi dia kerap ditayangkan walau dengan banyolan tapi tetap dengan pemahaman keliru dan menyesatkan. Semestinya pakar agama praktisi pengamat Hindu seperti Gde Rudia Adi Putra, Made Titib dan Ketut Wiana lebih banyak lagi memberikan pencerahan kepada umatnya agar mereka tidak berada dalam kebimbangan dan kegelapan oleh aneka macam difinisi leak yang menyesatkan ini.

Leak sekarang bagi saya menjadi tidak modis dan tidak logis.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,6 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 10 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 11 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 12 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 12 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: