Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Syukri Muhammad Syukri

Orang biasa yang ingin memberi sesuatu yang bermanfaat kepada yang lain…. tinggal di kota kecil Takengon selengkapnya

Ternyata Aku Tinggal Di Kompleks Gunung Berapi

REP | 16 November 2011 | 15:19 Dibaca: 616   Komentar: 0   1

13214566701170167388

Gunung Burni Telong Kabupaten Bener Meriah

Pulau Sumatera, salah satu wilayah yang termasuk dalam jalur ring of fire atau cincin api pasifik. Sebagai jalur cincin api pasifik, daerah ini berbentuk seperti tapal kuda mencakup wilayah sepanjang 40.000 Km mulai dari Selandia Baru sampai ke Chili Amerika Selatan. Kawasan yang mengelilingi cekungan Samudera Pasifik itu merupakan daerah yang paling sering digoyang gempa bumi dan letusan gunung api.

Salah satu wilayah di ujung Pulau Sumatera yang memiliki gunung api aktif adalah Provinsi Aceh. Sebuah daerah yang pernah hancur digoyang gempa 8,9 skala richter serta dihempas Tsunami yang menelan korban jiwa sebanyak 150 ribu jiwa lebih. Gunung api aktif yang berada di wilayah Provinsi Aceh, diantaranya adalah Gunung Seulawah Agam (1726 m) di Aceh Besar, Gunung Peut Sagoe (2780 m) di Pidie Jaya dan Gunung Burni Telong (2646 m) di Bener Meriah.

Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (2010) ketiga gunung api aktif itu berada dalam status level 1 (normal), namun rekomendasi untuk ketiga gunung itu berbeda-beda. Rekomendasi terhadap Gunung Seulawah Agam tidak diperbolehkan masuk ke kawasan solfatra dan tidak diperbolehkan bermalam di sekitar kawah. Hal ini disebabkan konsentrasi gas vulkanik yang tinggi dapat membahayakan kehidupan manusia.

Sementara rekomendasi terhadap Gunung Peut Sagoe tidak diperbolehkan masuk ke kawasan kawah aktif dan tidak diperbolehkan bermalam di sekitar kawasan kawah, karena hembusan gas-gas beracun yang berbahaya bagi kehidupan. Sedangkan rekomendasi terhadap Gunung Burni Telong tidak diperbolehkan bermalam di sekitar solfatra/fumarola karena konsentrasi gas vulkanik yang dapat membahayakan kehidupan manusia.

Dari ketiga gunung api aktif itu, hanya Gunung Peut Sagoe yang tidak ada permukiman di sekitarnya. Sedangkan Gunung Seulawah Agam dikelilingi oleh permukiman, termasuk Sekolah Polisi Negara, Mako Brimob, dan bentangan jalan negara menuju Banda Aceh tepat di kaki gunung ini. Demikian pula halnya dengan Gunung Burni Telong, kurang dari 3 Km dari kakinya terletak Kota Simpang Tiga Redelong ibukota Kabupaten Bener Meriah beserta permukiman padat penduduk.

Menurut Wikipedia, Gunung Burni Telong terletak diujung Selatan jajaran Gunung Geuredong yang merupakan gunung stratovolcano. Kawasan ini termasuk kompleks gunung berapi. Diantara dua gunung besar itu, terdapat juga dua kerucut vulkanik bernama Bur Salahniama dan Bur Pepanyi di wilayah Aceh Tengah yang merupakan bukit sedimen.

Masyarakat yang bermukim di kompleks gunung berapi itu, umumnya sudah mengetahui aktivitas Burni Telong bahwa pada akhir September 1837 terjadi beberapa letusan dan gempa bumi yang menyebabkan banyak kerusakan. Kemudian pada 12-13 Januari 1839 terjadi letusan yang abunya sampai ke Pulau Weh, kemudian pada 14 April 1856 terjadi letusan dari kawah pusat yang memuntahkan material berupa abu dan batu. Pada tahun 1919 juga terjadi letusan normal dari kawah pusat, serta pada 7 Desember 1924 terlihat 5 buah tiang asap tanpa diikuti oleh letusan (Newman van Padang, 1951).

Sebanyak 121.870 jiwa penduduk Bener Meriah yang tinggal di kompleks gunung berapi itu tidak merasa khawatir terhadap jedanya aktivitas Burni Telong (Gunung yang terbakar-bhs Gayo) sejak tahun 1924. Mereka malah dapat hidup sejahtera selama berada di kompleks gunung berapi yang menyediakan lahan subur kepada para petani kopi arabika gayo.

Dari kaki Burni Telong ini juga mengucur sumber air panas yang terdapat di Desa Simpang Balik sekitar 15 Km sebelum memasuki Kota Takengon. Masyarakat memanfaatkan air panas itu untuk mandi dan berendam, malah sekitar 50 meter dari lokasi pemandian itu berdiri sebuah masjid yang menyediakan air hangat untuk berwudhu.

Bahkan di kawasan Pante Raya, sekitar 4 Km dari kaki Burni Telong, terdapat pusat penambangan pasir yang juga memberi kehidupan kepada mereka. Pasir dan bebatuan yang mereka tambang menjadi bahan baku utama untuk berbagai pekerjaan konstruksi di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Bahan tambang ini menjadi sumber kesejahteraan yang menopang kehidupan mereka, disamping budidaya kopi dan hortikultura.

1321456554734768951

Gunung Seulawah Agam

Bukti kesejahteraan berikutnya yang telah mereka dapatkan dari kompleks gunung berapi, terlihat dari lalu lalangnya ratusan truk yang mengangkut ribuan ton kopi arabika gayo menuju titik ekspor. Dan, berton-ton hortikultura setiap hari didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan sayur dan buah-buahan penduduk Aceh dan Sumatera Utara. Itulah bukti “keramahan” kompleks gunung berapi. Nuansa itu membuat mereka merasa sangat nyaman untuk bertahan hidup di kaki Burni Telong. Tidak terbersit sedikitpun rasa gentar diwajahnya, meski tinggal di kompleks gunung berapi. Mereka terus bertahan sampai ajal memanggil.

Tags: cincinapi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Miss Sarah Ballard, Guru Inggris Madrasah …

Eddy Roesdiono | | 18 September 2014 | 12:24

Marshanda: Tamparan Hukum untuk Psikiater …

Akhmad Mukhlis | | 18 September 2014 | 11:32

Terjebak di Fort Santiago Sambil Menikmati …

Dhanang Dhave | | 18 September 2014 | 09:00

Sindrom Anak Tengah …

Syahdan Adhyasta | | 18 September 2014 | 12:09

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14



HIGHLIGHT

[Fiction Fantasy] Reptilians! …

Mio | 8 jam lalu

‘Sightseeing’ Kota Brussels, …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | 8 jam lalu

Perayaan 14 Tahun Messi Bersama Barcelona …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Dream Catcher; Sudah Bukan Fashion Item yang …

Alfadea Winasis | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: