Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Muhammad Syairi

Tinggal di Lombok Utara

Kasus Vidio Mesum Siswa SMP Diselesaikan Secara Internal

REP | 06 February 2012 | 22:11 Dibaca: 1209   Komentar: 2   0

Beredarnya video mesum yang diduga dilakoni oleh pasangan siswa-siswi sebuah SMP di Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara (KLU)  cukup mengejutkan warga, dan kini kasus tersebut sudah diselesaikan secara internal oleh pihak sekolah.

13285194241260731895

Ilustrasi

Dua vidio porno yang berdurasi masing-masing  2,37 menit dan 2,22 menit , diduga durekam secara sengaja disebuah tempat oleh pelaku yang masih duduk dibangku SMP, dan tak diberikan hukuman oleh pihak sekolah kecuali hanya pembinaan.

“Kami sudah memanggil  siswa dan orang tua yang bersangkutan termasuk guru dan para komite sekolah untuk menyelesaikan persoalan video porno.  Dan mengingat para siswa ini tergolong masih anak-anak dan harus menyelesaikan pendidikannya sehingga perlu dilakukan pembinaan, dan difilm porno itu tak terlalu vulgar”,  kata Melsah, kepala sekolah tempat siswa itu menuntut ilmu, 4 Februari lalu.

Dijelaskannya dalam video (ke dua) tersebut, perbuatan satu pasangan siswa yang terekam tidak sejauh yang dibayangkan. Meski demikian, menilik usia mereka, Melsah menegaskan perbuatan anak didiknya tidak semestinya terjadi.

“Perbuatan siswa tidak semestinya terjadi. Itu pun dilakukan di luar jam belajar. Oleh karena itu, persoalan ini kita selesaikan melalui rapat dewan guru,” ujar Melsah terkesan tak ingin ditanya terlalu jauh persoalan itu.

Menanggapi video mesum yang secara sengaja direkam dan diedarkan itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan, Drs. Suhrawardi, di ruang kerjanya mengatakan mendukung langkah pihak kepolisian dalam mengusut kasus tersebut. Hanya saja dalam kasus ini, Suhrawardi tak ingin dipojokkan agar sekolah maupun Dikporabud, mengambil tindakan tegas terhadap pelaku. Ia meminta, kasus ini dipilah menurut sudut pandang institusi.

“Dikpora akan menindaklanjuti apa kebijakan sekolah, sesuai dengan tata tertib sekolah. Berat maupun ringan hukumannya, agar dilihat dari tingkat kesalahan siswa. Tetapi kalau kasus ini digiring ke ranah hukum, kita serahkan kepada pihak terkait. Yang jelas sekolah, tujuannya adalah untuk mendidik dan membina siswa,” ujarnya

Suhrawardi sedikit berkelit dengan dalih belum melihat kasus tersebut, melainkan hanya baru mendengar informasinya saja. Sevulgar apa perbuatan siswa, dirinya mengaku belum menyaksikan secara langsung video dimaksud.

Di zaman modernisasi saat ini, dirinya beropini jika tingkah laku siswa (masih bau kencur, red) yang melakukan perbuatan tak senonoh itu sebagai sebuah fenomena. Namun demikian, atas perilaku menyimpang pasangan yang terekam dalam video agar menjadi pelajaran bagi semua pihak. Mengingat waktu anak didik di institusi sekolah hanya 7 jam, selebihnya di masyarakat.

“Saya mengajak untuk tidak saling menyalahkan apalagi memojokkan. Siswa semestinya menegakkan aturan dan tata tertib sekolah. Sekarang apapun keputusan sekolah, kalau tatib sekolah bilang keluar, saya dukung,” tegas Suhrawardi.

Melihat kejadian ini, ternyata hasil survei yang dihasilkan Komisi Nasional Perlindungan Anak yang menyebut  62,7 persen remaja siswi SMP di Indonesia sudah tidak perawan, bukan hanya acungan jempol, tapi merupakan fakta yang tak terbahtahkan.

Data tersebut dirilis oleh Komnas Anak menyusul semakin maraknya peredaran film porno maupun adegan porno di tengah masyarakat melalui yang kadang juga drekam oleh siswa itu sendiri seperti yang dilakukan oleh siswa ddisebuah SLTP di Tanjung ini.

Tak heran bila Bupati KLU, H. Djohan Sjamsu, SH,  pada setiap kesempatan bertemu dengan pelajar dan mahasiswa selalu menyampaikan agar menggunakan teknologi yang ada sesuai dengan fungsinya. “Teknologi itu memang penting, namun perlu digunakan kearah yang positif, bukan yang negatif”, katanya.

Ternyata apa yang dihawatirkan oleh orang nomor 1 di KLU ini  terjadi juga. Apa yang dilakukan oleh siswa ini dapat dikatakan  sebagai bukti pemamfaatan teknologi yang salah dan termasuk perbuatan amoral. Untuk mencegah kejadian berikutnya, saatnya-lah para orang tua mengawasi anak-anak mereka.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | 8 jam lalu

Jangan Jadikan NKRI Menjadi Dua Kubu [II] …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Clean, Good “Goverment” …

Mark Mamangkey Tjos... | 8 jam lalu

Mengagumi “Samosir” Setelah …

Dv Gultom | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: