Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Tangis Histeris Massal di Sidang PK Pengadilan Negeri Pasuruan

REP | 15 February 2012 | 19:25 Dibaca: 399   Komentar: 2   1

Terjadi histeria di ruang pengadilan dan nyaris terjadi pingsan massal begitu hakim tunggal Wahyu Widuri mengetuk palu di Pengadilan Negeri Pasuruan, Jalan Pahlawan No.24,Pasuruan, Jawa Timur pada Sidang lanjutan Selasa (14/2). Ibu Kholifah (45), orang tua dari terpidana Sofiyan (18) dan bibik serta anggota keluarga lain meraung dan nyaris pingsan meminta keadilan bagi anaknya yang dituduh melakukan perkosaan massal bersama 8 orang pelaku lainnya pada 7 Agustus 2010.

13292859332072602526

Kholifah (45) mulai sadar seusai meraung usai sidang Peninjauan Kembali (PK) terhadap anaknya Sofyan di PN Pasuruan, Jawa Timur

Tindakan Kholifah sontak membuat ruang sidang heboh seusai sidang yang berlangsung singkat dan dirasakan kurang memuaskan Kholifah. Ibu itu merasa tidak puas dan mengeluarkan kata-kata penyesalan karena telah menyerahkan anaknya kepada polisi pada saat terpidana melarikan diri ke Bali.

Hari Widiyanto tokoh masyarakat yang dianggap sebagai mediator penyerahan anaknya kepada polisi disebut-sebut dalam raungan Kholifah di ruang sidang. Hari dianggap bertanggung jawab atas proses penyerahan diri putra kesayangan Kholifah pertengahan Desember 2010. Padahal jarang warga Desa Kesek, Kecamatan Kraton, Pasuruan belum pernah dalam sejarahnya menyerahkan diri andai mereka melarikan diri. Namun, berkat pendekatan dan penjelasan Hari kepada orang tua Sofiyan, yaitu Abdul Majid dan Kholifah,dibantu Ketua RT setempat, Muchlas,  maka akhirnya Sofiyan menyerahkan diri secara baik-baik. Dalam proses penyerahan diri itu, pihak kepolisian Mapolrestra Kota Pasuruan memberi sinyal akan membantu memberikan “point plus” agar dapat meringankan hukuman yang akan dijalani tertuduh saat itu. Namun, kenyataan semua itu tidak sesuai dalam implementasi di lapangan. Akibatnya, Hari, hingga hari dituntut bantuannya agar mampu mengupayakan  Sofiyan bebas tidak sampai menjalani masa tahanan selama 3 tahun.

1329286673880116528

Jaksa Agung dan Jaksa Galih berupaya mementahkan PK yang diajukan terpidana Sofiyan melalui JJ Amstrong Sembiring SH MH

Ruang sidang menjadi  kacau

Terlihat hakim Wahyu Widuri berupaya membujuk Kholifah agar bersabar. Bahkan ia sempat meminta kepada pengacara Sofiyan, JJ Amstrong Sembiring SH MH agar membantu menenangkan sang ibu terpidana dengan penjelasan-penjelasan yang memadai terhadap putusan sidang putusan No.24/Pid.Ban/2011/PN.PSR.
Peristiwa pemerkosaan yang dilakukan oleh Sofiyan,Juhari, Yanto,Fais, Lukman, Roni, Nur, Fakhtur, dan Munir terhadap saksi korban Nur Azizah hingga hari ini baru mampu memenjarakan 2 orang pelaku, yaitu Sofyan yang menyerahkan diri dengan baik-baik dan Munir yang tertangkap saat melarikan diri. Namun, hingga hari ini 7 orang pelaku lainnya belum juga dapat ditangkap oleh pihak Polresta Pasuruan.

13292890112117176164

Aksi sidang pertama, Senin (13/2) berisi pembacaan puisi,fragmen singkat, dan nyanyi

Penjelasan pengacara selama sidang diselenggarakan sudah memadai mengenai adanya kelemahan surat dakwaan jaksa penuntut umum buat Kholifah. Sehingga ia yakin anaknya akan divonis bebas karena telah terjadi error in persona (salah orang). Namun, begitu mengikuti persidangan yang singkat dimana ia dengar bahwa semua berkas pemeriksaan yang telah ditandatangani bersama antara hakim, jaksa,pengacara dan panitera mendadak ia kaget dan terharu karena tidak puas dengan persidangan.

Di tengah raungan dan jawaban antara Kholifah dan Hakim Wahyu Widuri yang meminta agar Kholifah bersabar saja, karena PN Pasuruan hanyalah “kepanjangan tangan” dari Mahkamah Agung (MA) di Jakarta tidak cukup membuat puas sang ibu yang menyangi anaknya Sofiyan.

1329289184369346522

Abdul Madjid, ayah terpidana Sofiyan mengharapkan Hakim membebaskan anaknya

Kholifah terus mengiba kepada majelis hakim agar memberi keadilan pada anak ketiganya tersebut,”Tolong Bu Hakim bebaskan anak saya!” Pinta ibu 4 anak itu menghiba sambil menangis.
“Sabar saja ya ibu, ini semua masih proses, karena pengadilan di sini adalah “kepanjangan tangan dari MA” jawab ketua Majelis Hakim, Wahyu Widuri memberi pengertian.

Mendengar jawaban hakim yang singkat tersebut, Kholifah langsung kalap. Ia meronta sejadi-jadinya sambil terus meneriakkan agar hukuman anaknya diringankan. Sambil terus menangis histeris, Kholifah lalu membanting tubuhnya ke lantai ruang persidangan dan terus meronta berguling-guling.

Suasana PN Pasuruan menjadi gaduh. Suami dan beberapa anggota keluarga dan petugas keamanan pun berusaha menenangkan Kholifah dan memapahnya keluar ruang. Kholifah terus menangis di luar ruang persidangan.

” Bu Hakim hendaknya adil, saya ingin keadilan bagi anak saya, bebaskan dia karena ia telah menyerahkan diri waktu itu” kata Abdul Majid, suami Kholifah.

Sidang selasa ini adalah sidang hari kedua, setelah sehari sebelumnya digelar karena pihak terpidana, Sopian mengajukan permohonan Peninjauan Kembali (PK). Permohonan PK dilakukan karena proses hukum yang dijalani Sopian atas dugaan pemerkosaan diduga penuh manipulasi data.

13292895551348752853

Ibu Kholifah menuntut hakim agar membebaskan Sofyan

Menurut pengacara Amstrong, hukuman bagi Sofyan yang masih di bawah umur saat sidang 2010 hingga putus 24 Pebruari 2011 dan berkekuatan tetap hingga 4 Maret 2011 karena tidak ada upaya banding saat itu menyimpan misteri. Hal itu terlihat dengan adanya selisih umur yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum yang menulis umur saksi korban masih berumur 17 (dengan bukti dokumen KK) dan hasil investigasi tim pengacara Kantor Hukum dan Konsultan Hukum Amstrong Sembiring SH MH & Rekan yang mendapatkan bukti baru (novum) di Pengadilan Agama Kota Pasuruan atas perkara perceraian Nur Azizah yang ternyata sudah berumur lebih 22 tahun pada saat cerai 6 Januari 2010.

Jelas pengacara Amstrong Sembiring, “Ada manipulasi usia Nur Azizah sebagai saksi korban pemerkosaan. Seharusnya, ditulis 22 tahun saat kejadian (7/8/2010) namun mengapa ditulis belum berusia 18 tahun?” tanya Amstrong Sembiring.

“Ini kan berarti ia lahir 1 Januari 1992 bukan 1 Januari 1993 sebagaimana bukti lembaran Kartu Keluarga (KK) yang disodorkan oleh Jaksa?” Tanya Amstrong lebih lanjut.

Sementara itu, seusai sidang Ketua Majelis Hakim, Wahyu Widuri mengatakan berita acara PK sudah lengkap seusai ditandatangi antara hakim, panitera, jaksa dan pengacara sehingga akan segera dikirim ke Mahkamah Agung. “Kita tunggu saja apa yang akan menjadi keputusan pada MA nanti,” kata Widuri sambil berlalu meninggalkan ruang sidang I.

13292893811716558006

Salah satu berita sidang PK di PN Pasuruan yang dimulai dengan hiburan pengingat

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haru Jokowi-JK di Kapal Phinisi …

Yusran Darmawan | | 25 July 2014 | 10:00

Island Getaway ala Robinson Crusoe ke Nusa …

Ivani Christiani Is... | | 25 July 2014 | 14:32

US Dollar Bukan Sekedar Mata Uang …

Arif Rifano | | 25 July 2014 | 11:21

Yuk Bikin Cincau Sendiri! …

Ahmad Imam Satriya | | 25 July 2014 | 15:03

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 2 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 6 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 7 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 8 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: