Artikel

Regional

Albertus Andrei

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

ekspresikan aksi sejujur mungkin

SIM Mudah Didapat, Jalanan Makin Amburadul


HL | 24 February 2012 | 20:15 Dibaca: 293   Komentar: 11   2 dari 2 Kompasianer menilai aktual

133010361338655217

Ilustrasi: Seorang anggota TNI melakukan praktik uji Surat Izin Mengemudi melalui pelayanan pembuatan SIM Komunitas di Kodam Jaya, Jakarta Timur, Minggu (6/7/2008). Pembuatan SIM Komunitas di Kodam Jaya ini berlaku untuk warga Kesatuan Badan Pelaksana Kodam Jaya yang terdiri dari prajurit, pegawai negeri sipil, dan keluarga. (KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Hari ini tepatnya tanggal 24 Februari 2012, pukul 13.20 WIB di jalan sekitar Rawa Bebek Jakarta Timur, saya melihat ada kejadian pertengkaran bahkan perkelahian antara 2 orang bapak-bapak karena hampir tertabrak salah satu dari mereka yang sama-sama mengandarai sepeda motor.

Peristiwa ini saya saksikan secara langsung dari awal hingga berakhirnya. Pada saat itu cuaca sangat terik sekali, suhu yang sangat panas membuat tingkat emosi seseorang menjadi cepat meledak. Hal ini berdampak langsung pada kedua bapak ini sebut saja A dan B. Si A pada waktu itu berada tepat di depan motor saya, pada waktu itu ada sebuah truk besar ingin berbelok ke kiri, namun ada sebuah mikrolet sedang menurunkan penumpang tepat sebelum tikungan tersebut yang tentunya sudah sangat menguras emosi saya dan pengendara yang lain. Klakso pun berbunyi sangat keras dari berbagai arah kepada si mikrolet tersebut, akhirnya ia pun menyingkir setelah menurunkan penumpangnya. Si A yang nampak tidak sabar lagi, langsung menancap gas kencang menyalip truk dari seblah kiri, padahal truk tersebut ingin berbelok ke kiri, ketika ia hampir menabrak truk ia berhasil lolos dan ia ingin ke arah lurus bukan berbelok, namun di depan nya tepat si B yang berasal dari tikungan tersebut ingin belok ke kanan, sehingga bertemulah kedua moncong kedua motor tersebut.

Si A yang menurut saya orang yang salah ternyata yang memancing keributan. Ia tidak bergerak dari tempatnya beradu motor itu, saling bertatap dengan si B.

A :”apa liat2?”

B :”heh gob**k! nyalip dari kiri malah ambil lurus, bisa naik motor kagak lu?”

Percakapan yang sebentar itu membuat si A langsung memukul helm si B, dan si B turun dari motor ingin menghajar balik si A, saya yang sengaja berhenti ingin melerai mereka, namun sudah banyak yang melerai mereka, pikir saya, si A kaya anak kecil, ud tau salah masih ngotot, ga salah si B bilang dia goblok,hehe.. apabila saya berada di posisi A mungkin saya akan sama bertindak kepada si A.

Pengendara motor di Indonesia seb enarnya sudah sangat banyak, tahun 2010 jumlahnya sudah 8.244.346 dan tahun 2011 atau sekarang mungkin jumlahnya sudah 9juta atau lebih. Banyak nya jumlah pengendara motor tidak di imbangi dengan pelayanan bagi pengendara motor dengan maksimal, terutama dari segi jalan raya yang masih kurang, dan yang paling penting Surat Izin Mengemudi sangat mudah didapat tanpa harus melewati tes yang sebenarnya.

SIM seharusnya didapat dengan jalur yang sulit apabila anda memang melakukan semua prosedur yang dibutuhkan untuk mendapatkan SIM. Namun, banyak sekali calo-calo dan biro jasa yang mempermudah kita untuk mendapatkan SIM tersebut tanpa harus melewati tes-tes yang seharusnya. Ketika sampai di kantor pembuatan SIM, sudah banyak sekali orang yang menghampiri menawarkan jasa untuk dibuatkan SIM secara cepat dan hanya menunggu foto langsung jadi.

Peristiwa pertengkaran antara si A dan si B tadi bisa jadi karena mereka tidak mendapatkan SIM melalui jalur yang sebenarnya. Jika kita melewati jalur yang sebenarnya harusnya dia tau bahwa menyalip harus melewati sebelah kanan, dan apabila sudah melihat truk yang memberi lampu sen ke kiri, untuk apa dia memaksakan kehendaknya untuk menyalip? tentu ini sangat meresahkan para pengguna jalan yang lain, dan pasti memancing emosi. Supir mikrolet yang semena-mena menurunkan penumpang pun belum tentu mendapatkan SIM dengan benar, atau bahkan banyak sekali supir angkot sekarang yang belum memiliki SIM, hanya bermodal nekad demi mendapatkan uang.

Sekarang di kompleks perumahan pun sudah banyak sekali anak-anak SD yang sudah bisa mengendarai sepeda motor. Anak-anak SMP pun ke sekolah sudah mengendarai sepeda motor, padahal zaman saya dulu, punya sepeda saja sudah bangga. Hal ini tentu berdampak tidak baik, karena mereka mengendarai sepeda motor tanpa SIM yang secara hukum baru bisa diperoleh anak berusia 16 tahun atau lebih. Oleh sebab itu, tidak heran jika kita sering melihat aksi ugal-ugalan di jalan, dan banyaknya tingkat kecelakaan yang terjadi pada anak dibawah umur karena tidak memiliki SIM.

Pemerintah seharusnya menindak tegas hal ini. Supir angkot, bus, atau pengguna jalan yang lain harus diberi pengarahan serta peraturan yang sangat tegas guna menertibkan jalan, terutama di Jakarta yang sudah sangat padat. Sumber kemacetan di Jakarta selain padatnya penduduk, juga banyak nya angkutan umum yang tidak pernah ditindak tegas yang bebas ngetem dan menurun naikan penumpang sesuka hatinya, serta banyaknya pasar tumpah dan parkir bebas di pinggir jalan. Pemerintah harusnya dapat mengendalikan hal ini dengan melakukan inspeksi mendadak guna mengurangi pengendara tanpa SIM yang berkeliaran, membuat halte-halte yang tepat untuk menurun naikkan penumpang, menindak tegas para pemberi SIM tanpa jalur sebenarnya, menindk lanjut pula banyak nya aksi suap polantas yang sering terjadi.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: