Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Yudhi Bean

Iptek itu terkadang rumit, kadang juga menakutkan, iptek nuklir misalnya. Secara umum setiap benda atau selengkapnya

Tiket KA Senja Utama Jogja Mencapai 190 ribuuu..!!!

REP | 29 February 2012 | 15:20 Dibaca: 3727   Komentar: 12   0

13304841692018812626

Kereta api Indonesia yang masih harus melakukan perbaikan peningkatan pelayanannya (foto: http://cobrasweatmatoa.blogspot.com/2010/10/misteri-gerbong-senja-bromo.html)

Harga tiket kereta api Senja Utama jurusan Yogyakarta ke Jakarta benar-benar fantastis. Tiket yang pada hari biasa dipatok dengan harga Rp. 135.000,- bisa mencapai harga Rp. 190.000,-. Berarti dinaikkan sebesar 55 ribu..! atau 40 persen lebih. Kenaikan tersebut terjadi di hari Minggu, 4 Maret 2012 yang akan datang.

Bila mengacu pada pernyataan Direktur Utama PT KAI, Ignasius Jonan beberapa waktu lalu yang mengatakan, PT KAI bakal menaikkan tarif tiket untuk KA kelas eksekutif dan bisnis sebesar 5-10% mulai April 2011. “Ini karena tarif kereta bisnis dan eksekutif dalam 2 tahun terakhir belum pernah naik”. Demikian pernyataan Jonan. Pernyataan tersebut bisa dikatakan sebagai pernyataan yang membohongi atau membodohi publik pengguna jasa kereta api khususnya. Mengapa demikian?

Coba tengok kembali harga tiket kereta api pada hari-hari tertentu, seperti Jumat, Sabtu, Minggu, dan hari libur lainnya. Pada hari-hari tersebut harga tiket sudah dinaikan secara sepihak tanpa pemberitahuan kepada publik oleh PT KAI, kadang 155 ribu. Kadang 165 ribu. Kenaikan yang lebih parah lagi bila ada libur pada hari Jumat atau Senin, harga tiket bisa sampai 175 ribu sampai 180 ribu. Belum lagi libur pada hari raya seperti Idul Fitri, harga tiket akan naik semakin tinggi dan tinggi sekali.

Kalimat pernyataan Ignasius Jonan memberi gambaran seolah-olah PT KAI ini masih menerapkan tarif yang meringankan masyarakat, sepertinya PT KAI belum pernah menaikkan tarifnya. Lalu kenaikan signifikan yang terjadi seperti diatas itu kenaikan apa bukan? Apakah itu hanya penyesuaian tarif?

Sepertinya para pengelola yang mengurusi perkeretaapian ini sangat jeli melihat kebutuhan pelanggan. Bila belajar dari ilmu dagang di pasar misalnya, biasanya harga barang akan menjadi murah bila banyak pengunjung yang datang untuk membeli. Berbeda dengan jualan tiket kereta api ini. Makin banyak calon penumpang yang ingin memakai jasa kereta api, maka harga tiket justru dinaikan dengan signifikan.

Kenaikan harga tiket sudah seharusnya diimbangi dengan peningkatan mutu layanan dan perbaikan sarana dan prasarana yang ada. Kita masih melihat kondisi WC yang kotor, bau, dan tidak ada airnya. Kaca jendela juga tidak berfungsi optimal, kipas angin ada yang mati dan tidak berputar, meja kecil tempat meletakkan minuman dan makanan kecil dalam kondisi rusak. Disisi lain, semua pelayanan di stasiun-stasiun juga harus ditingkatkan seperti reservasi tiket, ruang tunggu, toilet, satpam yang ramah, lintasan kereta yang aman, dan kemudahan lain yang dibutuhkan pelanggan. Beruntung saat ini PT KAI sedang menerapkan sistem pas tiket pas bangku atau tiket yang dijual sesuai dengan jumlah bangku. Jadi tidak ada penumpang yang berdiri alias tidak punya tempat duduk.

Masalah pada perkeretaapian selalu dan selalu seperti ini. Para pelanggan ataupun pemerhati tak akan pernah berhenti menyampaikan keluhannya selama kenyamanan yang menjadi hak pelanggan belum terpenuhi.

Tidaklah etis pabila hanya karena satu-satunya perusahaan jasa yang melayani angkutan kereta api dan tidak punya saingan, maka PT KAI kemudian mengorbankan kualitas layanan kepada pelanggannya. Baik dan buruk pelayanan kereta api dimanapun akan tetap dicari masyarakat. Namun citra yang baik akan lebih memberikan kesan indah wajah perusahaan di mata pelanggannya. Jangan sampai kelakar tentang kereta api menjadi kenyataan, dicaci tapi dicari, itulah kereta api.


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 4 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 5 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 10 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 11 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: