Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Wayan Budiartha

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Ogoh Ogoh Mulai Bermunculan

REP | 05 March 2012 | 07:32 Dibaca: 1720   Komentar: 6   0

13309324341083196157

Walau puncak perayaan pergantian tahun icaka (nyepi) di Bali masihpun 2 minggu lagi tapi di beberapa sudut jalan sudah bermunculan ogoh ogoh. Mahluk besar seram yang nanti menjelang nyepi akan diarak keliling kampung. Di Kusamba, 46 km arah timur Denpasar di setiap banjar pemuda dan remaja membuat ogoh ogoh ukuran 2 meter. Mereka membuatnya dari anyaman bambu kemudian menutup dengan koran bekas, diberi warna warna seminggu menjelang puncak nyepi dan diberi topeng seram sehari menjelang diarak keliling kampung.

“Karena dibuat dari bahan daur ulang biayanya tidak terlampau mahal, tak sampai sejuta ngabisinnya,” tutur Ketut Wana, 24 tahun pemuda di Kusamba yang sedang sibuk membuah ogoh ogoh.

Mereka membuatnya dengan penuh ketekunan, bambu yang telah dihilangkan bukunya, dibuat menjadi serpihan kecil yang gampang dianyam. Mereka membuatnya dari betis, lutut, kaki paha sampai pinggang dalam waktu seminggu. Membuat bokong dan lengannya yang paling sulit, karena harus ada gerak di daerah itu.

“Kami membuat ogoh-ogoh yang meniru bentuk celuluk, raksasa dengan wajah seram yang jidatnya bundar taringnya mencuat,” tambah Wana lagi. Di hari libur seperti hari minggu lalu, semua pemuda di Kusamba berkumpul di balai desa. Mereka merampungkan pembuatan ogoh ogoh secara bergotong royong.

Ada yang menggergaji bambu, memasang kertas koran atau sekedar melakukan kontrol bentuk agar ogoh-ogoh nantinya tidak tampil kurang proporsional.

“Walaupun dia nanti setelah diarak keliling kampung kemudian dibakar di kuburan tapi tetap saja harus dibuat sesuai dengan posturnya yang menyeramkan, tidak boleh kebesaran payudara atau kekecilan kepala,” ucap Wana lagi.

13309324851102794348Lain lagi dengan ogoh ogoh di Banjar Umo Poh Penarungan 15 km utara Denpasar. Dibuat dari bahan gabus diberi resin dan dilabur dengan warna bergaya air brush. Mengambil bentuk banteng putih yang siap menyeruduk.

Ogoh ogoh yang tingginya semeter panjang tiga meter ini sudah beberapa hari rampung dibuat oleh pemuda setempat. Ada banyak seniman patung lukis dan arsitek dadakan dikampung itu yang membuat ogoh ogoh siap sebelum waktunya.

“Biasanya kami membuat bentuk butakala, bisa celuluk atau bentuk seram lainnya, kali ini bentuk banteng untuk sekedar berlainan dengan yang lain,” ujar Made Karma, 25 tahun pembuat ogoh-ogoh banteng di tempat itu.

Nantinya pada puncak hari pengerupukan semua ogoh ogoh di Penarungan diarak menuju perempatan jalan dekat pasar. Mulai matahari tenggelam sampai tengah malam. Pengarakan itu bermakna semua kekuatan gaib diusir oleh bentuk seram yang ditampilkan oleh ogoh ogoh. Biasanya setiap ogoh ogoh didahului oleh pawai obor, kemudian ada gamelan dan pemudi yang menarikan tarian lenda lendi.

13309326341858753586Sedangkan di Munggu 25 km arah barat Denpasar, ogoh ogoh yang dibuat kebanyakan tokoh jenaka. Ada yang bentuknya seperti upin ipin, ada juga tokoh kartun. Dibuat dari gabus yang ditancapkan dalam besi, kemudian diberi kertas semen sebagai penutup dan dicat dengan cat acrilyk atau cat tembok.

“Sekarang yang dibuat hanya yang kecil saja, karena kalau terlalu besar seperti tahun sebelumnya kami kesulitan mengaraknya keliling kampung,” ucap Wayan Lanus, 26 tahun pemuda asli Munggu. Sekitar 25 ogoh ogoh diarak nantinya pada malam pengerupukan di Munggu. Kampung yang luasnya 2 km itu akan mulai dipadati penonton begitu matahari tenggelam. Setiap ogoh ogoh akan berkeliling kampung selama 3 jam.

Sampai kemudian menjelang tengah malam semua ogoh ogoh diarak menuju pekuburan dan akhirnya dibakar.

Selain yang membuat ogoh ogoh dengan cara patungan, ada juga kelompok kecil biasanya anak anak di gang sempit yang membuat ogoh ogoh mungil. Tidak ikut diarak keliling kampung tapi di pajang di pelataran.

13309327381581440529Mereka tidak perlu repot membuat ogoh ogoh sampai berminggu minggu. Cukup menancapkan kayu atau bambu dan dibagian atasnya diberi topeng. Untuk urusan topeng ini, Ketut Letri adalah jagoannya. Dia menjual topeng pelengkap ogoh ogoh di Sempidi Bali, 10km arah barat Denpasar. Dia tak punya kios khusus, cukup menggantung topeng diantara pohon penghijauan di pinggir jalan.

“Topeng kosongan saya beli di pasar seni Sukawati cuma 8 ribu sebijinya, kemudian diberi rambut dari daun palm Bali yang dikeringkan disebut praksok,” tuturnya. Dalam sehari tak kurang 10 topeng seram berhasil dijualnya.

Harganya hanya Rp 20.000 berbuahnya. Topeng celuluk jenis ini biasanya dijadikan pajangan di ruang tamu atau untuk oleh oleh kalangan bule domestik. Tapi Letri menyulapnya menjadi topeng ogoh-ogoh. Dia telah 5 tahun melakukannya dan selalu laris manis, terbukti selama seminggu berjualan dia telah bolak balik sampai 5 kali ke pasar seni Sukawati untuk memborong topeng celuluk.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 11 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 12 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 12 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Phsycologhy Dangdut Pengaruhi Cara Pandang …

Asep Rizal | 8 jam lalu

“Triple Steps Solution” Upaya …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Every Children is Special …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Pemilik Bagasi Lost 500 Juta Rupiah Itu …

Irawan | 8 jam lalu

Habibi & Kakak vs Sentimentil Sang Guru …

Daniel Oslanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: