Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Indra Sastrawat

Wija to Luwu, Alumni FE-Unhas. RELAWAN KALLA Lewat tulisan kita bisa saling berbagi dan mencurahkan selengkapnya

Siapa Bilang Pelaut Mata Keranjang

REP | 27 March 2012 | 15:04 Dibaca: 2872   Komentar: 6   1

1332860463829563617

ilustrasi

Kenaikan BBM disambut demonstrasi, pasalnya kenaikan BBM menyulut naiknya harga barang-barang. Bagi pegawai yang baru saja menikmati kenaikan gaji di awal tahun mesti gigit jari kembali karena kenaikan yang tidak seberapa banyak itu di timpah dengan melambungnya harga barang-barang.

Di balik kenaikan BBM itu, ada sebagian yang merasa gembira dengan rencana pemerintah ini. Pihak atau yang tepatnya sekelompok profesi menyambut suka cita kenaikan BBM. Tahu kah anda bahwa pelaut yang berlayar di lautan nusantara menikmati kenaikan BBM. Sudah bukan rahasia lagi jika sebagian pelaut punya hobi menjual solar atau BBM di tengah laut. Sebenarnya modus seperti ini sudah hal yang lumrah di pelayaran kita.

Ada pengalaman ketika saya bekerja di perusahaan pelayaran nasional, salah satu pegawainya yang bertugas di bagian audit menceritakan bagaimana praktek penjualan BBM ini membuat laporan keuangan perusahaan menjadi merah. Karena gusar sang pemilik yang juga tokoh muda di HIPMI lantas mengultimatum karyawannya jika dalam 3 bulan masih rugi perusahaa akan di bubarkan.

Lalu direksi bergerak cepat dengan membentuk tim pengawas yang terdiri dari para auditor. Satu persatu laporan bunker di periksa secara detail. Perhitungan jarak tempuh pelayaran dengan pemakain BBM di perhitungkan dengan hati-hati. Dari cerita teman langkah ini sukses membuat laporan keuangan perusahaan menjadi baik.

Ada semacam pameo diantara pelaut yang mengatakan biar gaji kecil yang penting uang solarnya besar. Saya biasa menemukan kenyataan seperti itu, mereka tidak terlalu peduli dengan gaji mereka tapi yang utama adalah seberapa banyak uang BBM yang mereka dapatkan nanti. Tapi ini tidak berlaku buat kapal asing, atau mungkin juga buat kapal cargo. Biasanya kapal jenis Tug boat yang biasa melepas solarnya di tengah laut.

1332860522684974916

Kapal Tug Boat

Mungkin karena itu sebagian pemilik kapal sengaja hanya menggaji karyawannya dengan gaji standar, tapi membiarkan mereka menjual BBM. Si pelaut juga tidak kalah cerdik, di gaji kecil mereka terima tapi dibalik itu mereka bermain dengan bunker, mereka menjaul BBM di tengah laut. Kalau begini saya bingung siapa sebenarnya yang salah !! pemilik kapal yang pelit menggaji atau pelaut/crew kapal yang doyan korup ???

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana praktek macam ini bisa terjadi ??? bukankah di kapal ada Captain dan Chief Engineer. Untuk urusan solar/BBM merupakan domain dari Chief Engineer, dia yang membuat rencana permintaan BBM yang biasa disebut dengan istilah bunker tentu dengan persetujuan Master kapal. Angka yang masuk kemudian di pelajari dan di periksa oleh petugas kantor di darat (marine), biasanya yang diberi tugas adalah mereka yang berpengalaman di laut dulu. Setelah disetujui baru permintaan tersebut di teruskan di bagian keuangan atau accounting.

Seharusnya karyawan di bagian marine dengan segala pengalamanya bisa menghitung apakah bunker tersebut masuk akal atau tidak. Permaianan bisa saja terjadi antara bagian marine dengan chief engineer. Kalau ini terjadi maka garda terakhir ada pada bagian keuangan, tentu dengan keahliannya yang lebih banyak berkutat dengan uang, debit, kredit, invoice dst sangat sulit bagian keuangan/accounting bisa mencium permainan kotor ini. Yang parahnya kalau bagian keuangan juga kena mantra-mantra dari kapal, mantra itu berupa fulus yang menggoda.

Tidak berlebihan jika gaji seorang Chief Enggineer bisa sampai puluhan juta, di tempat saya dulu gajinya berkisaran 30 juta. Saya tentu tidak omong doang alias omdo, karena sebagai akuntan saya tahu detail gaji orang-orang kapal. Oh yah di tempat saya,  gaji crew kapal terendah merupakan gaji tertinggi staf/karyawan biasa.

Secara umum hanya sebagain kecil perusahaan seperti di tempat saya  yang mau menggaji crew kapal yang kerjanya ekstra keras dengan segala resiko dengan gaji bagus layaknya bekerja di kapal Eropa atau asing. Jadi menjual BBM di tengah laut merupakan jawaban atas gaji kecil yang mereka dapatkan. Saya tidak menyetujui semua bentuk korupsi tapi tanyakan pada hati nurani anda si pemilik kapal apakah gaji dan kesejahteraan yang anda berika sudah memadai !!!

Dan 1 April nanti disaat sebagian besar rakyat berduka dengan naiknya BBM, di keheningan laut  sana para pelaut menikmati fulus yang besar. Sambil melantunkan lagu “sapa bilang pelaut mata keranjang, kapal bastom lapas tali lapas cinta…”mungkin benar lirik lagu itu, pelaut memang mata keranjang, di kapal suka lirik-lirik solar, di darat suka lirik-lirik wanita…hehehehehe

salam

gambar:

twitter.com

equatorline.indonetwork.co.id

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: