Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Syaifud Adidharta

Hidup Ini Hanya Satu Kali. Bisakah Kita Hidup Berbuat Indah Untuk Semua ?

Benarkah Indonesia Menuju Negara Gagal? Ya…

REP | 06 July 2012 | 23:22 Dibaca: 1336   Komentar: 13   4

Fund for Peace (FFP)  merilis Indonesia masuk dalam Negara-negara gagal di dunia. FFP menempatkan Indonesia pada urutan ke-63 bersama dengan Negara Gambia sebagai Negara gagal.Data ini dirilis FFP dalam situs resminya http://www.fundforpeace.org/, Senin (18/6/2012). Dari 178 negara, Indonesia menduduki urutan ke-63 negara gagal. Indeks Negara Gagal ini adalah edisi delapan tahunan yang lebih menyoroti tekanan politik, ekonomi dan sosial global yang dialami negara (photo: republika.co.id)

Fund for Peace (FFP) merilis Indonesia masuk dalam Negara-negara gagal di dunia. FFP menempatkan Indonesia pada urutan ke-63 bersama dengan Negara Gambia sebagai Negara gagal.Data ini dirilis FFP dalam situs resminya http://www.fundforpeace.org/, Senin (18/6/2012). Dari 178 negara, Indonesia menduduki urutan ke-63 negara gagal. Indeks Negara Gagal ini adalah edisi delapan tahunan yang lebih menyoroti tekanan politik, ekonomi dan sosial global yang dialami negara (photo: republika.co.id)

Sepakatkah kita mengatakan kalau banar Indonesia akan menjadi negara yang gagal?. Kalau memang kita sepakat, lalu apa kesimpulan kita sebenarnya?, dan kalau kita tidak sepakat apa yang menjadi alasan dan analis kita?.

Beberapa hari ini fenomena tentang keberadaan atas kondisi bangsa Indonesia mulai terusik dengan adanya sebuah kabar yang menggemparkan publik. Ya kabar itu tentang terlansirnya sebuah kabar bahwa Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang bakal mengalami kegagalan dalam segala sektor kehidupannya. Berita ini sempat terlansir dari salah satu situs ternama  The Fund for Peace (FFP), www.fundforpeace.org

Dalam situs tersebut meliris Indonesia masuk dalam Negara-negara gagal di dunia. FFP menempatkan Indonesia pada urutan ke-63 bersama dengan Negara Gambia sebagai Negara gagal (18 Juni 2012). Dari 178 negara, Indonesia menduduki urutan ke-63 negara gagal. Indeks Negara Gagal ini adalah edisi delapan tahunan yang lebih menyoroti tekanan politik, ekonomi dan sosial global yang dialami negara.

Sementara itu di tahun 2012 ini, peringkat puncak ditempati Somalia, dengan alasan pelanggaran hukum meluas, pemerintah tidak efektif, terorisme, pemberontakan, kejahatan, dan serangan aksi bajak laut baik terhadap kapal-kapal asing. Sementara itu, Finlandia tetap dalam posisi terbaik, dengan Skandinavia tetangganya Swedia dan Denmark tiga peringkat terbaik. Tiga Negara ini dinilai baik dari indikator sosial dan ekonomi yang kuat, pelayanan publik yang sangat baik dan menghormati hak asasi manusia dan supremasi hukum. Peringkat 178 negara gagal ini diurutkan berdasarkan 12 indikator, yakni  sosial, ekonomi, dan politik, dan lebih dari 100 sub-indikator. Ini termasuk isu-isu seperti pembangunan tidak merata, Legitimasi Negara, dan HAM.

————-

Tiga belas tahun reformasi nasib negeri ini kian terpuruk. Pelan tapi pasti bakal menuju negara gagal (failed state). Rupanya asinglah yang memetik buah reformasi 1998 (photo: suara-islam.com)

Tiga belas tahun reformasi nasib negeri ini kian terpuruk. Pelan tapi pasti bakal menuju negara gagal (failed state). Rupanya asinglah yang memetik buah reformasi 1998 (photo: suara-islam.com)

Lalu bagaimana dengan Indonesia sendiri, apakah permasalahannya sama seperti yang tertera diatas?. Bisa jadi sama, dan bahkan lebih komplek kondisinya dengan sebab musabab negara-negara gagal yang tertera tersebut.

Kita harus mengakui dan jujur berkata, bahwa benar Indonesia bakal menjadi sebuah negara yang mengalami kegagalan dari segala sektor. Hal ini jelas terlihat kondisinya sekarang, bahkan bisa kita perhatikan gejala-gejala kegagalan Indonesia sudah terlihat jauh sebelumnya, sebagai berikut :

1). Pemberlakuan dan keadilan dalam praktek penerapan perundang-undangan negara yang berjalan tidak menunjukan bukti kebenaran atas berjalannya undang-undang negara di dalam lingkungan eksekutif, legislatif  bahkan birokratif, termasuk pula pelaksanaannya didalam penyelenggaraan negara. Hal ini terbukti tidak adanya bukti nyata dalam penerapan keadilan atas hukum yang berjalan ditengah-tengah kehibupan berbangsa dan bernegara.

2). Kemudian, pelaksanaan pembangunan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia seutuhnya ternyata berjalan tidak seimbang, pemerataan kesejahteraan dan kemakmuran tidak merata sampai kepelosok-pelosok daerah terpencil yang ada di Indonesia. Masih saja ada rakyat miskin, masih saja ada petani miskin, masih saja ada pedagang miskin, dan masih saja ada banyak rakyat tidak memiliki penghidupan yang pasti di negara ini.

3). Pembangunan pencerdasan bangsa untuk rakyat ternyata pula di Indonesia masih belum bisa berjalan sebagaimana mestinya. Pasalnya pendidikan di Indonesia adalah barang yang sangat mahal untuk rakyat Indonesia, terutama bagi rakyat miskin, dan khusus hanya untuk kalangan orang-orang tertentu (kaum/kelompok si kaya, pengusaha, pejabat) yang bisa mengeyam pendidikan dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi.

Jadi selama ini dengang dengung pendidikan gratis dari anggaran khusus pendidikan dari APBN dan APBD (dari setiap daerah otonomi) yang katanya 20 % ternyata tidak sepenuhnya sampai kelembaga-lembaga pendidikan yang memang sangat memerlukannya. Justru anggaran pendidikan yang menjadi program nasional itu lebih banyak jatuh kekelompok-kelompok tertentu, kelembaga-lembaga pendidikan yang sudah maju terlebih dahulu. Dan anggaran pendidikan 20 % tersebut setiap tahunnya hanya diperebutkan untuk membentuk proyek-proyek tidak jelas dari lembaga-lembaga pendidikan yang nakal. Contoh, proyek sekolah bestandar nasional dan Internasional sertifikat ISO, proyek rintisan sekolah berstadar internasional (RSBI), dan lain sebagainya.

Sekolah gratis, tapi bagi siswa baru harus membayar uang gedung dengan alasan yang beraneka rupa dari pihak sekolah dan pengurus komite sekolahnya. Daftar ulang siswa yang naik kelas, dengan alasan dan lain sebagainya yang menjadi dalil pihak sekolah bersama pengurus komite sekolah, kalau tidak mendaftar ulang maka akan ada sanksi bagi orang tua siswa dan siswa yang bersangkutan.

Contoh, adalah salah satunya bila orang tua siswa tidak mendaftarkan ulang anaknya yang baru saja naik kelas, maka anak tersebut dinyata secara otomatis sudah tidak terdaftar disekolah tersebut (sekolah asalnya). Kejadian ini banyak terjadi disekolah-sekolah negera maupun swasta.

Potret rakyat miskin menjadi bagian gambaran kehidupan bangsa Indonesia. Ketidakadilan menjadi bagian sisi kehidupan mereka dalam menjalani dan menopang hidup sehari – hari. Janji – janji kesejahteraan secara merata tinggal sebuah janji manis yang seakan dilupakan begitu saja. Kebijakan – kebijakan yang di buat seakan mempersulit hidup bukannya memperbaiki menjadi lebih baik (ilustrasi: economicofmind.blogspot.com)

Potret rakyat miskin menjadi bagian gambaran kehidupan bangsa Indonesia. Ketidakadilan menjadi bagian sisi kehidupan mereka dalam menjalani dan menopang hidup sehari – hari. Janji – janji kesejahteraan secara merata tinggal sebuah janji manis yang seakan dilupakan begitu saja. Kebijakan – kebijakan yang di buat seakan mempersulit hidup bukannya memperbaiki menjadi lebih baik (ilustrasi: economicofmind.blogspot.com)

4.) Pembagunan kesehatan dan keselamatan ibu dan anak. Pada bidang yang satu ini juga masih saja menjadi folemik bagi rakyat Indonesia, khususnya rakyat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan. Untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan di rumah sakit maupun puskesmas, kita masih saja mendapatkan pelayanan yang kurang memuaskan dan bahkan tidak adil, apalagi bagi kita yang melakukan pengobatan atau perawatan dengan adanya surat/kartu jaminan kesehatan gratis dari pemerintah, maka kita seringkali mendapatkan pelayanan yang tidak adil sama sekali, dan kita dianggapnya bagaikan sampah oleh pihak rumah sakit atau puskesmas.

Karena pengobatan yang ada kartu jaminan kesehatan gratis tersebut tidak menguntungkan pihak rumah sakit atau puskemas yang bersangkutan dengan dalil bermacam-macam. Itupun kita sebagai rakyat kecil atau rakyat miskin, untuk mendapatkan pelayanan rumah sakit atau puskesmas secara gratis, kita harus dan wajib mengurus banyak surat-surat tertentu untuk menguatkan dokumen pengobatan gratis tersebut. Kita harus meminta surat pengantar RT dan RW setempat, setelah itu kita harus kekelurahan dan kekecamatan, setelah itu kita juga harus ke kantor kabupaten/kotamadya untuk meminta surat keterangan lainnya sebagai pembuktian kuat atas ketidak mampuan kita sebagai rakyat miskin.

Nah kalau begitu itu juga namanya tidak gratis, belum-belum harus mengeluarkan biaya dulu untuk mengurus surat-surat kesana kemari.. inilah birokrasi di negara kita, Indonesia. Kemudahan dan keistimewahan pelayanan publik hanya untuk si kaya, pengusaha, dan pejabat. Sedangkan bagi rakyat kecil hanya bisa gigit jari, selanjutnya tinggal mati sia-sia..

5). Pembangunan untuk pengadaan lapangan pekerjaan. Sungguh sedih rasanya melihat nyata keadaan bangsa ini. Banyak rakyat Indonesia harus diekspor ke luar negeri untuk menjadi TKI. Dan ujung-ujungnya hanya menjadi lahan keuntungan bagi pihak-pihak PJTKI (Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia), Depnakertrans (Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia), dan oknum-oknum pejabat pemerintahan yang ada di Republik ini.

Padahal seperti kita ketahui, TKI yang bekerja di luar negeri sangatlah menderita dan benar-benar bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang ditinggalkannya di Indonesia, terlebih lagi TKI lebih banyak andilnya untuk pendapatan devisa negara, namun kenyataannya mereka hanya bagaikan sapi perahan untuk bangsa ini oleh pemerintah. Keselamatan dan kesejahteraan mereka tidak sedikit mendapatkan ketidak adilan dari majikannya dan negara tujuan kerja mereka sendiri, sementara peran aktif pemerintah negara ini untuk jaminan mereka para TKI belum seberapa nilainya, dan hampir tidak ada sama sekali TKI mendapat perlindungan payung hukum dari pemerintah maupun PJTKI itu sendiri.

Belum lagi pengadaan lapangan pekerjaan di dalam negeri sampai saat ini masih sangatlah lamban. Dimana-mana banyak pengangguran, dan hampir setiap tahun kelulusan sekolah maupun perguruan tinggi, mereka tidak tertampung dalam lapangan pekerjaan.

Mau berwirausaha harus mengeluarkan banyak biaya. Oke bagi yang mampu mungkin bisa melakukan wirausaha, tapi bagi yang tidak mampu bagaimana?. Justu bagi yang tidak mampu untuk bisa berwirausaha harus berupaya mendapatkan modal dengan mengajuan permodalan usaha ke bank, akan tetapi tidaklah mudah. Sebab sudah pasti akan ada syarat-syarat yang memberatkan, contoh kecil adalah arus ada jaminan, seperti sertifikat tanah, atau surat-surat berharga lainnya. Nah bagi rakyat kecil yang tidak mampu apakah bisa untuk mendapatkan permodalan?. Ya sangatlah impossible sekali bagi mereka..

Bagaikan sandal jepit yang terkunci tak bebas untuk melangkah, inilah gambaran kondisi rakyat yang tidak sepenuhnya bisa menikmati kekayaan alam Indonesia, hanya sang penguasa dan bangsa asing yang bisa merasakannya sampai sekarang.. (ilustrasi: Syaifud Adidharta)

Bagaikan sandal jepit yang terkunci tak bebas untuk melangkah, inilah gambaran kondisi rakyat yang tidak sepenuhnya bisa menikmati kekayaan alam Indonesia, hanya sang penguasa dan bangsa asing yang bisa merasakannya sampai sekarang.. (ilustrasi: Syaifud Adidharta)

6). Untuk keadilan pengelolaan hasil bumi Indonesia atas segala kekayaan sumber alamnya, rakyat Indonesia tidak sepernuhnya dapat merasakan hasilnya. Memang betul dalam UUD 45 “Segala kekayaan alam Indonesia dan isinya yang berupa kekayaan alam terdiri dari flora, fauna, tambang dan sumber alam lainnya dikelola oleh negara untuk dikembalikan kembali untuk kesejahteraan rakyat Indonesia seutuhnya”.

Namun kenyataannya tidak !!!, justru kekayaan alam Indonesia banyak dijual belikan oleh pemerintah kepada pihak asing, sementara itu bagi Indonesia sendiri hanya mendapatkan keuntungannya tidak seberapa, dan selebihnya masuk kekantong para pejabat-pejabat rakus yang berwenang…, dan rakyat Indonesia tinggal gigit jari, kemiskin, kelaparan dan ketidak adilan dalam kemakmuran menjadi bagian hidup rakyat Indonesia sampai sekarang, contohnya di beberapa daerah banyak terjadi sengketa tanah, perampasan lahan-lahan tanah subur oleh pemerintah dan pihak-pihak swasta (yang kebanyakan dari pihak asing), mereka selalu dibela dan difasilitasi dengan fasilitas negara dan kemudahan lainnya.

7). Sementara itu untuk pembangunan dibidang sosial, politik maupun budaya di Indonesia juga masihlah sangat tidak jelas. Dimana-mana nampak ketidak adilan dalam kehidupan sosial, politik maupun budaya itu sendiri. SARA banyak terjadi, perpecahan dalam persatuan berbangsa semakin tidak kuat. Kesenjangan kehidupan sosial semakin melebar, kegotong-royongan semakin pudar, belum lagi soal saling menghargai satu sama lain juga semakin tidak nampak didalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negara Indonesia ini.

Kemudian banyaknya kasus-kasus korupsi yang semakin merajalela. Banyak uang negara dirampok dan dicuri oleh para oknum-oknum pejabat pemerintahan di negeri ini. Baik dari kalangan eksekutif maupun legislatif, mereka banyak menyimpan dan memelihara tikus-tikus berdasi, sementara itu ada lembaga yang benar-benar serius untuk memberantas dan membumi hanguskan para korupsi, masih saja lembaga itu sering diobok-obok oleh penguasa negeri ini dengan taktik politiknya. Sungguh naif negara ini kondisinya…

————-

Mereka berjuang untuk kemerdekaan Indonesia bukan untuk Indonesia menjadi negara yang gagal disegala sektor pembangunan bangsa (photo : Arsip Nasional)

Mereka berjuang untuk kemerdekaan Indonesia bukan untuk Indonesia menjadi negara yang gagal disegala sektor pembangunan bangsa (photo : Arsip Nasional)

Nah berarti benar kalau negara yang kita cintai ini bakalan menjadi negara yang akan gagal dimasa depan, dan mungkin tinggal hitungan jari saja.. Pasalnya jelas apa yang terungkap diatas tersebut, semua yang terlansir adalah bukti nyata kondisi bangsa ini sekarang, maka tidaklah salah bila ada salah satu lembaga atau situs dunia lainnya mengamati, meneliti dan melansir sebuah bukti dan kenyataan yang ada saat ini di Indonesia. Kita tidak perlu menutup-nutupi atau bersembunyi dari kenyataan. Inilah adanya di Indonesia..

Maka dari itu, pemerintah yang berkuasa, baik ditingkat  pusat maupun daerah segeralah kembali kejalan yang benar, janganlah terus mengumbar kerakusan yang hanya bisa membuat rakyat Indonesia semakin miskin dan miskin, yang pada akhirnya Indonesia itu sendiri akan hancur dan hilang dari daftar dunia sebagai negara yang berdaulat.

Dan bisa kemungkinan besar Republik Indonesia bakal bubar, terpecah-pecah belah, contohnya sudah ada, seperti merdekanya Timor Timor, sekarang menjadi Timor Leste Republik, kemudian bisa besar kemungkinan nanti Papua dan daerah-daerah lainnya akan memisahkan diri dari Negara Republik Kesatuan Indonesia (NKRI). Hal ini bisa terjadi karena adanya ketidak adilan dari penguasa negera ini menjalan kebijakannya untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia, selain itu sudah pasti bakal menjadi modal utama bagi negara-negara asing untuk mengadu domba persatuan Indonesia, karena mereka tahu bahwa Indonesia adalah negara yang paling kaya di dunia atas segala sumber alamnya. Itulah yang bakal mereka incar sampai sekarang ini…

Semua kembali berpulang kepada kita, masihkah kita terus mengumbar keserakahan, kerakusan dan kekuasaan yang sewenang-wenang?. Dan sampai kapankah kita mau dan mudah untuk diadu domba oleh pihak-pihak yang memang tidak menyukai kita bersatu, makmur dan pandai disegala bidang ilmu pengetahuan. Maka dengan demikian mari kita sama-sama kembali kejalan yang benar untuk benar-benar mewujutkan negeri ini adil makmur dan sejahtera. Jangan kita sia-siakan segala pengorbanan para pahlawan perjuangan bangsa ini yang sudah dengan gagah berani menaruhkan nyawanya untuk kemerdekaan Indonesia..

Wahai para penguasa, presiden, menteri, gubernur, walikota/bupati dan jajaran pemerintah lainnya di negeri ini. Mari kita sama-sama bersatu untuk memajukan bangsa ini, jangan kita jadikan negara ini sebagai tempat untuk mencari keuntungan perut sendiri-sendiri, tapi jadikanlah negara ini sebagai tempat tinggal yang nyaman, aman, makmur dan adil untuk kita semua. Bangsa ini ada bukan datang dengan sendirinya, Bangsa ini ada karena kerelaan para pahlawan kita yang melahirkannya dengan perjuangannya mengusir penajajahan..

————-

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: