Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Hamid Ramli

Aktivis Lingkungan ingin berkiprah di bidang politik lokal agar kelestarian lingkungan tetap terjaga

Warga Perbatasan Tutup Jalan ke Papua Nugini

REP | 30 September 2012 | 10:34 Dibaca: 1123   Komentar: 7   2

1348959350613924370

situasi perbatasan RI-PNG di Skouw. (Dok. Pribadi)

Sejak 25 September 2012 hingga saat ini, penduduk dari tiga kampung yang bermukim di kawasan sekitar perbatasan RI-Papua Nugini (PNG) melakukan aksi pemalangan jalan menuju PNG, sehingga warga dari PNG tidak bisa memasuki wilayah Skow untuk menjual hasil bumi mereka.

Aksi pemalangan oleh warga kampong Skouw Sae, Skouw Mambo, dan Skouw Yambe itu terpaksa dilakukan untuk memprotes tindakan pemukulan yang dilakukan pemuda-pemuda PNG yang tinggal di daerah perbatasan terhadap pemuda-pemuda Skouw, Papua yang berprofesi sebagai tukang ojek.

13489908461048556836

warga PNG biasanya membeli kebutuhan harian mereka di pasar perbatasan wilayah NKRI menggunakan jasa ojek sepeda motor sbg alat transportasi. (dok. pribadi)

Akibat pemalangan jalan itu, warga PNG yang bermukim di wilayah perbatasan, antara lain dari Vanimo dan sekitarnya tidak bisa lagi berbelanja kebutuhan sehari-hari maupun menjual hasil bumi mereka ke wilayah RI.

http://zonadamai.wordpress.com/2012/09/28/warga-perbatasan-papua-keluhkan-kelakuan-warga-png/

Keterangan dari Kepala Distrik Muara Tami, Nelwan Fakdawer kepada Antara di Jayapura mengatakan, ada salah satu Ondoafi (kepala suku) di Skouw berkebangsaan PNG namun bermukim di wilayah RI. Ia dan anggota sukunya tinggal di wilayah itu karena mereka memang pemilik hak ulayat di kawasan itu. Anak-anak dari Ondoafi itu sering melakukan aksi kriminal, seperti memukul pemuda Skouw. Namun aparat keamanan (Polri dan TNI) yang bertugas di pos perbatasan tidak pernah melakukan tindakan apapun kendati sudah mendapat laporan dari warga dan para korban.

Aksi pemalangan jalan itu, jelas Nelwan, juga sekaligus untuk mendesak pemerintah untuk segera memulangkan penduduk PNG yang bermukim di wilayah RI itu.

13489896532070956540

warga PNG biasanya membeli kebutuhan harian dan menjual hasil bumi di tempat ini. (Dok. pribadi)

Warga tiga kampung itu juga mengharapkan agar pasar perbatasan (marketing point) yang berada di Skow dipindahkan ke kawasan lain. Selama ini, pasar di perbatasan yang dibangun pemerintah RI itu, lebih banyak dimanfaatkan warga PNG untuk menjual hasil kebun mereka serta untuk membeli berbagai kebutuhan sehari-hari.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jebakan Batman di Museum Antonio Blanco …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 06:17

Bu Dokter, Anak Saya Kena Bangka Babi …

Avis | | 22 December 2014 | 07:05

Refleksi Hari Ibu; Dilema Peran Ibu di Era …

Agus Purwadi Umm | | 22 December 2014 | 02:24

Perbaiki Sikap Berkendaraan agar Hemat BBM …

Fajr Muchtar | | 22 December 2014 | 06:22

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 11 jam lalu

Waspada Komplotan Penipu Mengaku dari …

Fey Down | 12 jam lalu

Dear, Bapak Jonru… …

Wagiman Rahardjo | 13 jam lalu

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: