Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Cah Ngabmoj

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم " Ikhlas dan tauhid adalah pohon yang ditanam di taman hati, Amal perbuatan selengkapnya

Benarkah Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) Dianggap Latah?

REP | 19 November 2012 | 09:46 Dibaca: 751   Komentar: 0   1

13532929681113251558

Foto Salah Satu Peserta BEC 2011

Minggu 18 Nopember 2012 pukul 13.00 dimulai apa yang dikenal dengan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) sebagai salah satu acara dari rangkaian hari jadi Banyuwangi (HARJABA) yang ke-241 tepatnya 17 Desember 2012 nanti, yang bertajuk Banyuwangi Festival, yang dimulai tanggal 15 Nopember 2012 dengan Festival Anak Yatim, 17 Nopember 2012 Parade Gandrung Sewu, dan masih banyak acara lain yang tentunya menarik.

Sesuai judul yang saya sorot adalah BEC yang tahun 2012 ini merupakan tahun ke-2 dengan bertemakan Re Barong Using tersebut. Tahun ini diikuti 200 peserta, yang sebagian besar adalah dari siswa-siswa SMU di wilayah Banyuwangi.

Sebagaimana kita ketahui akhir-akhir ini hampir disetiap daerah demam akan apa yang dikenal dengan Carnival. Daerah yang pertama menggagas carnival ini mungkin Jember kali ya, dengan Jember Fashion Carnival-nya yang dimulai sejak tahun 2001 yang lalu. Solo dengan Karnaval Batik Solo-nya yang digelar sejak 2008. Kemudian diikuti juga oleh Yogyakarta dengan Jogya Java Carnival (JJC), Jakarta dengan Jak Carnival-nya, dan daerah terakhir yang menyelenggarakan carnival tepatnya Oktober 2012 yang lalu adalah Kutai Kertanegara yang untuk pertama kalinya menyelenggarakan Kukar Art Fashion Carnival (KAFC).

Asal muasal kata Carnival sendiri sebetulnya masih diperdebatkan. Salah satu teori menyatakan kata carnival berasal dari berasal dari Bahasa Latin carrus navalis (”gerobak kapal”), yang mengacu pada gerobak dalam suatu pawai keagamaan, seperti gerobak yang digunakan dalam arak-arakan keagamaan pada perayaan tahunan untuk menghormati dewa Apollo. Memang dari beberapa daerah yang saya sebutkan diatas yang mengadakan kegiatan ini secara keseluruhan memiliki ciri-ciri yang hampir sama, yaitu:

· dilakukan dalam rangka memperingati hari ulang tahun kabupaten/kota,

· dilakukan dengan pawai / arak-arakan yang melintasi jalan-jalan utama,

· dengan kostum / pakaian yang disesuaikan dengan tema tertentu yang diusung,

· biasanya ditujukan untuk lebih mengenalkan kabupaten / kota tersebut yang pada akhirnya untuk meningkatkan wisatawan yang masuk

Apalagi beberapa daerah yang mengadakan carnival tersebut tenyata menggunaka EO yang sama yaitu penggagas JFC Dynand Faris.

Namun demikian masing-masing daerah tersebut kalau ditanya pasti punya argumen yang bembedakan dengan carnival di daerah lain. Seperti yang pernah disampaikan oleh Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan kalau BEC diharapkan menjadi jembatan antara kesenian tradisional dan modern supaya bisa lebih diterima di panggung internasional. Selanjutnya yang membedakan juga menurut Bupati bahwa BEC akan lebih mengeksplor kesenian tradisional Banyuwangi.

Apapun argumen yang disampaikan kita sebagai masyarakat cuma berharap masing-masing daerah hendaknya mengemas lebih kreatif dalam mengeksplorasi budaya lokal. Jangan sampai terkesan “latah” atau hanya mengikuti tren yang tidak bisa memunculkan originalitas konsep atas suatu kegiatan. Apalagi kegiatan tersebut dibiayai dari dana APBD yang notabene adalah uang pajak yang dipungut dari masyarakat. Demikian juga peserta juga diharuskan menyiapkan kostum yang disesuaikan dengan tema dengan biaya yang juga mahal untuk ukuran orang Banyuwangi. Sebagai informasi rata-rata peserta harus merogoh kocek paling murah Rp. 2.000.000,00- dan ada juga yang sampai Rp. 10.000.000,00. Dan karena setiap tahun temanya beda sudah pasti kostum tahun ini tidak bisa dipakai lagi untuk kegiatan yang sama tahun depan. Jadi mubazir kan?

Dari rangkaian Banyuwangi Festival, sebetulnya menurut penulis ada yang memang konsepnya original dan lebih mengena dalam memperkenalkan kesenian tradisional Banyuwangi misalnya Parade Gandrung Sewu yang tanggal 17 Nopember 2012 kemarin sudah diselenggarakan di Pantai Boom Banyuwangi dan diikuti 1.000 lebih penari gandrung. Kemudian juga Festival Kuwung yang akan dilaksanakan tanggal 22 Desember 2012, yang menyajikan keanekaragaman budaya Banyuwangi dan sejumlah kabupaten di Jawa Timur. Demikian juga International Banyuwangi Tour De Ijen lomba balap sepeda yang melintasi 12 kecamatan di Banyuwangi yang lebih bertujuan memperkenalkan objek-objek wisata di Banyuwangi dimana diikuti selain atlet lokal, nasional, juga 115 atlet dari 16 negara. Tapi khusus untuk BEC kok ada kesan “njiplak” ya…?

Salam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Intip Lawan Timnas U-23 di Asian Games : …

Achmad Suwefi | | 01 September 2014 | 12:45

Anda Stress? Kenali Gejalanya …

Cahyadi Takariawan | | 01 September 2014 | 11:25

‘Royal Delft Blue’, Keramik …

Christie Damayanti | | 01 September 2014 | 13:32

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 9 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 10 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 10 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Perbaikan Gedung DPRD Kab.Tasikmalaya …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kompasianer, dari Sekedar Komentator Hingga …

Sono Rumekso | 8 jam lalu

Legislator Karawang Sesalkan Lambannya …

Abyan Ananda | 8 jam lalu

Di The Hague [Denhaag], ada …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: