Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumsel: Mura terendah Palembang tertinggi

REP | 19 November 2012 | 15:45 Dibaca: 45   Komentar: 1   0

Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi ekonomi yang cukup kuat di Indonesia. Provinsi yang disebut-sebut sebagai yang terkaya nomor lima se-Indonesia ini terus melakukan percepatan pembangunan dan pemerataan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Kemajuan pembangunan di Sumatera Selatan bukan hanya dapat dilihat dari pertumbuhan ekonominya, akan tetapi bisa dinilai dari Indeks Prestasi Manusia (IPM).

Berdasarkan data BPS tahun 2011, persentase pertumbuhan ekonomi Sumsel terus meningkat dibanding tahun 2010 yaitu dari angka 6,98 % di tahun 2010 melejit menjadi 8,03 % tahun 2011. Dengan demikian, angka pertumbuhan ekonomi tersebut meningkat sebanyak 86,92 % dibanding angka di tahun lalu, sementara rata-rata laju pertumbuhannya adalah 6,7 % selama tiga tahun terakhir.

Untuk Indeks Prestasi Manusia (IPM), Provinsi Sumatera Selatan juga terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Menurut BPS, IPM Sumsel tahun 2011 naik angkanya menjadi 73,31 dibanding angka tahun 2010 yang sebesar 72,95. Data BPS menunjukkan bahwa selama 5 tahun terakhir IPM sumsel terus meningkat dengan rata-rata angka sebesar 72,46.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan suatu indikator yang menjelaskan bagaimana penduduk suatu wilayah mempunyai kesempatan untuk mengakses hasil dari suatu pembangunan sebagai bagian dari haknya dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Nilai IPM ini menunjukkan seberapa jauh wilayah tersebut telah mencapai sasaran yang ditentukan yaitu angka harapan hidup 85 tahun, pendidikan dasar bagi semua lapisan masyarakat (tanpa kecuali), dan tingkat pengeluaran dan konsumsi yang telah mencapai standar hidup layak. Semakin dekat nilai IPM suatu wilayah terhadap angka 100, maka semakin dekat jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sasaran itu (Zuhaifah, http://bartimkab.bps.go.id).

1353314410252971129

IPM merupakan indeks komposit yang dihitung sebagai rata-rata sederhana dari tiga indeks yang terdiri dari indeks harapan hidup yang diukur dengan harapan hidup pada saat lahir, indeks pendidikan yang diukur dengan kombinasi antara angka melek huruf pada penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah, serta indeks standar hidup layak yang diukur dengan pengeluaran perkapita yang telah disesuaikan atau paritas daya beli.

Berdasarkan kajian aspek status pembangunan manusia, tinggi rendahnya status pembangunan manusia menurut UNDP dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu :

1. Tingkatan rendah, jika IPM < 50.

2. Tingkatan menengah, jika 50 < IPM < 80.

3. Tingkatan tinggi, jika IPM > 80.

Namun untuk perbandingan antar daerah di Indonesia, yaitu perbandingan antar kabupaten/kota, maka kriteria kedua, yaitu “Tingkatan menengah”, dipecah menjadi 2 (dua) golongan, sehingga gambaran status akan berubah menjadi sebagai berikut :

1. Tingkatan rendah, jika IPM < 50

2. Tingkatan menengah-bawah, jika 50 < IPM < 66

3. Tingkatan menengah-atas, jika 66 < IPM < 80

4. Tingkatan atas, jika IPM > 80

Merujuk data BPS nasional tahun 2010, IPM Sumsel berada pada peringkat ke-8 di bawah Sulawesi Utara, Yogyakarta, Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Angka IPM Sumsel tahun 2010 tergolong masuk kategori ketiga yaitu tingkatan menengah-atas yaitu sebesar 72,95. Angka IPM tersebut adalah lebih tinggi dari Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Apabila dilihat dari angka IPM-nya, seluruh kabupaten dan kota di wilayah Sumatera Selatan juga masih berada pada level ketiga yaitu tingkatan menengah-atas dengan IPM antara 68 sampai 76. Jika dirinci lagi maka ada 3 kota besar yang memiliki angka IPM tertinggi yaitu Kota Palembang dengan IPM 76,63, Prabumulih 74,81, dan Pagar Alam 73,51. Angka-angka tersebut menggambarkan bahwa kesempatan yang dimilik masyarakat di 3 kota tersebut untuk mengakses hasil dari suatu pembangunan sudah tergolong cukup tinggi. Dengan demikian dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pemerataan pembangunan di 3 kota tersebut telah cukup baik.

Untuk IPM terendah di wilayah Sumsel dicapai oleh 3 Kabupaten yaitu Ogan Ilir, Empat Lawang dan Musi Rawas. Angka IPM Kabupaten Ogan Ilir sebesar 69,91, disusul oleh Empat Lawang 68,92, lalu kemudian yang terendah Musi Rawas sebesar 68,92. Angka-angka ini menunjukkan bahwa ketiga kabupaten tersebut masih tertinggal untuk urusan pemerataan kesempatan menikmati hasil pembangunan dibanding kabupaten/kota lainnya di wilayah Sumatera Selatan.

Kabupaten Ogan Ilir (OI) dan Kabupaten Empat Lawang notabene adalah kabupaten-kabupaten baru di Sumatera Selatan hasil pemekaran wilayah. Ogan Ilir adalah kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sejak 18 Desember 2003, sedangkan Empat Lawang dimekarkan dari Kabupaten Lahat sejak 2 Januari 2007. Angka IPM yang rendah pada kedua kabupaten ini bisa disebabkan belum meratanya pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan untuk melayani kebutuhan masyarakat hingga ke pelosok-pelosok daerah mengingat kedua wilayah tersebut merupakan wilayah administratif baru. Sementara angka IPM Musi Rawas (Mura) yang masih rendah di wilayah Sumsel dapat disebabkan oleh tidak efektifnya pelaksanaan proyek-proyek pembangunan yang dikelola pemerintah setempat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Foto: Slamet, Raksasa dari Pulau Jawa …

Hendra Wardhana | | 17 September 2014 | 12:29

Referendum Skotlandia, Aktivis Papua Merdeka …

Wonenuka Sampari | | 17 September 2014 | 13:07

Anggota BPK, Jabatan Karier atau Politik? …

Galumbang Sitinjak | | 17 September 2014 | 13:37

Etika Meng-counter Tulisan di Kompasiana …

Samandayu | | 16 September 2014 | 19:16

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 5 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 5 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 6 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 7 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenaikan LPG 12 Kg Sebagai Sarana Berbagi …

Bai Ruindra | 7 jam lalu

Mesut Oezil: Playmaker tanpa Dukungan …

Agung Wicaksono | 7 jam lalu

Komunitas Membuka Pintu Rejeki …

Lazismu Pusat | 8 jam lalu

Jogjakarta, 17 September 2014 …

Ahmad Robitul Wafa | 8 jam lalu

Ternyata Gak Gampang Ya, Pak Jokowi …

Heno Bharata | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: