Back to Kompasiana
Artikel

Regional

KTM (seperti) Kota Tanpa Masterplan

HL | 23 November 2012 | 14:40 Dibaca: 889   Komentar: 0   2

13536561271795992203

Kalau soal memberi bungkus, nama, label, judul, atau sejenisnya, Indonesia memang jagonya. Kita kerap mendengar ada program dengan nama yang bagus, tetapi isinya nol. Ada pula konsep, masterplan, dari luar terkesan bagus, tetapi realisasinya banyak masalah.

Kota Terpadu Mandiri (KTM) sejatinya adalah sebuah konsep pembangunan kota baru di kawasan transmigrasi yang dirancang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kalau merujuk dari namanya, muncul kesan program ini sangat bagus dan prestisius: membentuk sebuah “kota” baru, yang “terpadu”, dan relatif “mandiri” dari kota lain (yang sudah ada). Bayangan kita ketika program ini terlaksana, akan lahir sebuah kota baru dengan sarana prasarana lengkap (terpadu)—ada kantor, pasar, ruang publik, terminal, kawasan perumahan, dll—yang kira-kira mirip dengan Bumi Serpong Damai (BSD).

Tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Entah karena kurangnya anggaran, tidak seriusnya pelaksana program, atau adanya indikasi korupsi, di beberapa daerah, pembangunan KTM terlihat kurang maksimal, bahkan ada kesan dibangun seadanya. Paling tidak kesan itu saya lihat ketika mengunjungi KTM Tobadak di Mamuju, Sulawesi Barat. Jangankan mengimpikan lahirnya sebuah kota satelit seperti BSD, kota kecil dengan aktivitas ekonomi kecil pun belum tentu hadir di pusat KTM.

Terdorong oleh pernyataan Gubernur Sulawesi Barat yang menyebutkan bahwa KTM Tobadak Bisa Terindah di Indonesia akhir tahun lalu saya mencoba mengintip hasil pembangunan KTM tersebut. Hasilnya? Boleh dibilang jauh dari sempurna, apalagi indah. Kondisi di pusat KTM yang dibangun sejak tahun 2006 itu sangat sepi dan hampir tidak ada aktivitas manusia. Kantor Badan Pengelola KTM juga terlihat tidak pernah ditempati.

Yang lebih parah adalah kondisi Masjid di pusat KTM yang infonya dibangun pada tahun 2008 ternyata hampir tidak pernah dipakai. Lantai kotor dan pada beberapa titik bangunan mulai hancur sehingga sangat tidak mungkin dimanfaatkan untuk sholat berjamaah dan kegiatan keagamaan lainnya.

13536561851566870245

1353656214163260500

Fasilitas keagamaan lainnya seperti gereja juga setali tiga uang. Namun karena saat saya mengunjungi lokasi KTM, gereja masih dalam proses pengerjaan, saya belum melihat ada kerusakan di sana sini.

Setelah melihat masjid, saya coba melongok pasar dan bangunan terminal. Bangunan pasar memang terlihat lebih bagus, tetapi sejak dibangun, belum juga ada pedagang yang menempati. Demikian pula bangunan terminalnya, habis dibangun, tidak pernah operasional. Banyak rerumputan hijau yang merambat bebas di kawasan terminal mengindikasikan bahwa hampir tidak ada angkutan umum yang mampir ke terminal ini.

1353656241434162132

Melihat kondisi KTM Tobadak yang sangat mengenaskan tersebut, saya ingin membandingkannya dengan KTM di daerah lain. Dan kesempatan itu datang akhir Oktober kemarin ketika saya mengunjungi Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat yang memiliki KTM Lunang Silaut.

1353656313866084690

Saya sengaja mengatur jadwal untuk datang ke kawasan KTM Lunang Silaut dengan harapan bisa melihat sejauh mana realisasi program pembangunan KTM. Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah pusat KTM yang berada di Kecamatan Silaut. Setali tiga uang dengan KTM Tobadak, pembangunan pusat KTM Lunang Silaut juga belum tuntas. Masih terlihat tiang pancang pembangunan pasar yang entah kapan tuntasnya. Ada pula pasar grosir yang kembali direnovasi, juga belum selesai.

Yang agak melegakan adalah pembangunan infrastruktur jalan di kawasan KTM Lunang Silaut yang menurut pengamatan saya relatif cukup baik. Jalan akses dari permukiman warga maupun kawasan perkebunan kelapa sawit ke pusat KTM dan ke kawasan Silaut Luar sudah terlihat bagus.

1353656335451560589

Keberadaan infrastruktur yang memadai menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan KTM. Adanya geliat ekonomi warga itu bisa terlihat dari munculnya banyak pertokoan di sekitar pusat KTM. Meski pusat KTM belum sepenuhnya tuntas, mereka melihat ada peningkatan perputaran ekonomi sejak kawasan tersebut dibangun.

13536563681039333175

Di pusat KTM saya juga melihat ada Teras BRI yang baru dibuka sekitar 6 bulan lalu. Adanya Teras BRI adalah indikasi sederhana bahwa ada aktivitas ekonomi di daerah ini. Saya sempat berbincang dengan Dedi Wahyudi, kepala Teras BRI Silaut untuk meminta pendapatnya mengenai pembangunan KTM. Jawabannya sederhana,”Kami buka Teras BRI karena melihat ada prospek bisnis di kawasan ini. Analisis sederhana kami, pertumbuhan ekonomi di daerah ini lebih besar dibanding ibukota kabupaten,” kata dia.

Adanya pertumbuhan ekonomi di KTM Lunang Silaut itu tidak lepas dari merebaknya pembukaan lahan sawit di sana yang dibarengi dengan pembangunan infrastruktur yang cukup memadai. Menurut Dedi, pembangunan infrastruktur jalan yang menghubungkan kawasan perkebunan ke pusat KTM dan sentra penjualan hasil perkebunan menjadi pendorong utama tumbuhnya ekonomi masyarakat.

Ya..kuncinya adalah infrastruktur. Selama pembangunan infrastruktur menjadi prioritas dalam mengembangkan kota baru seperti KTM, dampaknya akan lebih terasa daripada membangun sarana perkantoran di pusat KTM. Yang tak kalah penting adalah penempatan lokasi pusat KTM sebaiknya memilih tempat yang sebelumnya memang sudah dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi warga. Pemerintah tinggal melakukan revitalisasi terhadap fasilitas-fasilitas yang sudah eksisting di sana, DAN TENTU SAJA TANPA KORUPSI (*)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 12 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 14 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kompasianer Dian Kelana Nulis Novel …

Thamrin Sonata | 9 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | 10 jam lalu

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | 10 jam lalu

Semua Anak Kreatif? …

Khoeri Abdul Muid | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: