Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Musriadi Musanif

Wartawan Harian Umum Singgalang, staf pengajar jurnalistik pada berbagai perguruan tinggi di Padang, Padang Panjang selengkapnya

Menapaktilasi Jejak Silek Kumango

REP | 16 December 2012 | 17:41 Dibaca: 491   Komentar: 3   0

TANAH DATAR – Berdasarkan catatan Kahar Syamsuddin yang bersumber dari orangtuanya dan Angku Gadang Syech Muhammad Dali diketahui, silek kumango tidaklah tiba-tiba saja ada, melainkan dirancang dan diramu sehingga tumbuh menjadi sebuah aliran yang berdiri sendiri.

RANGKIANG DAN RUMAH GADANG

Sebenarnya, silek kumango menjadi bagian tak terpisahkan dari silat-silat klasik yang ada di Minangkabau, semisal Lintau, Pauah, Maninjau, Balubus, dan Pariaman.

Berdasarkan sejarahnya, silek kumango dirancang dan diramu oleh seorang ulama terkemuka, Syech Abdul Rahman Al-Khalidi yang kerap disapa Baliau Kumango. Syech dilahirkan pada tahun 1850 di Kampuang Jambak, Nagari Kumango.

Referensi yang ada menyebutkan, Beliau Kumango pergi menuntut ilmu silat ke Lintau ketika masih berusia 25 tahun. Namun setelah tiga bulan berguru di sana, beliau tidak puas lantaran tidak diberi kesempatan untuk berlatih dalam arti sesungguhnya. Posisinya tak lebih dari seorang penonton dan membantu Datuk Guru Silat setempat.

Lewat petunjuk dari mimpi, akhirnya Beliau Kumango bisa belajar silat kepada seorang guru yang kemudian dikenal sebagai guru besar persilatan. Beliau Kumango juga diajari ilmu tasawuf yang membawanya menguasai secara penuh ilmu suluk dan tarekat. Ilmu silat inilah yang kemudian dikenal dengan silek kumango.

Beliau Kumango tidak hanya mengembangkan ilmu silatnya di Kumango, tetapi juga sampai ke Pasar Gadang Padang. Sesuai dengan karakter dasarnya sebagai seorang sufi yang gemar menyampaikan dakwah dan melakukan perjalanan jauh, silek kumango juga beliau ajarkan sampai ke Tanah Deli, Tapanuli, Aceh, Indrapura (Pessel), Negeri Sembilan dan negara-negara lain yang beliau lalui saat ke Mekkah dengan berjalan kaki.

Mulanya yang boleh belajar silek kumango hanya terbatas pada keluarga kerabat beliau semata, termasuk murid-murid suluknya. Salah seorang dari muridnya itu bernama Muhammad Kodim yang kemudian populer dengan sebutan Syeh Muhammad Kodim Belubus alias Baliau Balubuih. Murid syech ini yang terkenal Syech Baringin yang bermukim di Tebing Tinggi, Sumatra Utara.

Sejak 1910, silek kumango telah berkembang pesat. Hampir seluruh anak nagari di Kumango mempelajari aliran silat ini. Aliran silek kumango pun terus berkembang, baik dilakukan oleh murid-muridnya langsung maupun murid dari muridnya ke berbagai kota di dunia.

Kini, asal bicara tentang persilatan di belahan dunia mana pun, orang takkan bisa melupakan silek kumango yang sudah termasyhur itu. (musriadi musanif, artikel ini sudah dimuat di edisi cetak Harian Umum Singgalang dan edisi online di http://hariansinggalang.co.id/menapaktilasi-jejak-sejarah-silek-kumango/)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 4 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 6 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 11 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 15 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: