Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Muhammad Iqbal

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa |

Undercover Penambangan Pasir Laut Lontar

REP | 30 December 2012 | 02:47 Dibaca: 303   Komentar: 0   0

Terlihat amarah dari raut wajah para penduduk Lontar Kecamatan Tirtayasa Kabupaten Serang. Seakan tak terima bahwa lahan mata pencaharian mereka kini terusik oleh penambangan pasir yang merusak bukan saja ekosistem laut akan tetapi merusak hasil mata pencarian yang berujung pada terkikisnya kepercayaan mereka terhadap pemerintah daerah.

Dulu, sebelum adanya aktifitas penambangan pasir sejak tahun 2004 silam, masyarakat Lontar hidup dalam damai layaknya angin pesisir pantai. Tak ada kegaduhan, perkelahian, korban luka tembak aparat, serta pengusiran kapal tongkang milik perusahaan. Namun, kini mereka hidup dalam suasana serba diintai kebimbangan dan juga keresahan atas hasil jerih payah mereka dilaut. Ketika aktifitas penambangan belum dilakukan, penghasilan mereka mencapai seratus ribu lebih per hari. Berbanding terbalik setelah adanya kegiatan penjarah hak rakyat, hanya lima puluh ribu sampai sembilan puluh ribu mereka dapatkan tiap harinya. Tak sebanding dengan apa yang mereka keluarkan ketika hendak melaut mencari nafkah untuk keluarganya.

Berbagai keluhan terucap dari bibir hitam sengatan matahri di tengah laut. Akan tetapi, hanya kepercayaan kepada Sang Esa membuat mereka tetap mensyukuri kehidupan. Segala upaya untuk menghentikan akfitas penebal kantong para elit itu dilakukan. Mulai dari pengusiran kapal pengeruk pasir yang tak jauh dari bibir pantai, berbondong-bondong mendatangi kantor Bupati, hingga mengadu kepada pemerintah pusatpun dilakukan. Tetap saja harapan kebeneran berpihak pada mereka belum terwujud. Kini mereka hanya bisa pasrah pada keadaan bahwa lahan tempat mereka mencari nafkah sudah tak subur lagi.

Berbagai gejolak dan kerusuhan kerap terjadi ditengah-tengah masayarakat Lontar. Dua bulan yang lalu, ketika warga Lontar hendak mengusir kapal pengeruk pasir sebagai peringatan bahwa lahan mereka rusak akibat penambangan. Yang terjadi justru jatuhnya korban luka akibat brondongan peluru karet dari aparat penegak hukum poliso air laut Banten. (Bersambung)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hati-Hati Meletakkan Foto Rahasia di …

Pical Gadi | | 02 September 2014 | 15:36

Yohanes Surya Intan yang Terabaikan …

Alobatnic | | 02 September 2014 | 10:24

Plus Minus kalau Birokrat yang Jadi …

Shendy Adam | | 02 September 2014 | 10:03

Mereka Sedang Latihan Perang …

Arimbi Bimoseno | | 02 September 2014 | 10:15

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 4 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 7 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengenal dan Mengenang IH Doko, Pahlawan …

Blasius Mengkaka | 8 jam lalu

Kenormalan yang Abnormal …

Sofiatri Tito Hiday... | 8 jam lalu

Aku Akan Pulang …

Dias | 8 jam lalu

Terpenuhikah Hak Kami, Hak Anak Indonesia? …

Syifa Aslamiyah | 8 jam lalu

UUD 1945 Tak Sama dengan Jakarta …

Adinda Agustaulima ... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: