Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Muhammad Iqbal

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa |

Undercover Penambangan Pasir Laut Lontar

REP | 30 December 2012 | 02:47 Dibaca: 306   Komentar: 0   0

Terlihat amarah dari raut wajah para penduduk Lontar Kecamatan Tirtayasa Kabupaten Serang. Seakan tak terima bahwa lahan mata pencaharian mereka kini terusik oleh penambangan pasir yang merusak bukan saja ekosistem laut akan tetapi merusak hasil mata pencarian yang berujung pada terkikisnya kepercayaan mereka terhadap pemerintah daerah.

Dulu, sebelum adanya aktifitas penambangan pasir sejak tahun 2004 silam, masyarakat Lontar hidup dalam damai layaknya angin pesisir pantai. Tak ada kegaduhan, perkelahian, korban luka tembak aparat, serta pengusiran kapal tongkang milik perusahaan. Namun, kini mereka hidup dalam suasana serba diintai kebimbangan dan juga keresahan atas hasil jerih payah mereka dilaut. Ketika aktifitas penambangan belum dilakukan, penghasilan mereka mencapai seratus ribu lebih per hari. Berbanding terbalik setelah adanya kegiatan penjarah hak rakyat, hanya lima puluh ribu sampai sembilan puluh ribu mereka dapatkan tiap harinya. Tak sebanding dengan apa yang mereka keluarkan ketika hendak melaut mencari nafkah untuk keluarganya.

Berbagai keluhan terucap dari bibir hitam sengatan matahri di tengah laut. Akan tetapi, hanya kepercayaan kepada Sang Esa membuat mereka tetap mensyukuri kehidupan. Segala upaya untuk menghentikan akfitas penebal kantong para elit itu dilakukan. Mulai dari pengusiran kapal pengeruk pasir yang tak jauh dari bibir pantai, berbondong-bondong mendatangi kantor Bupati, hingga mengadu kepada pemerintah pusatpun dilakukan. Tetap saja harapan kebeneran berpihak pada mereka belum terwujud. Kini mereka hanya bisa pasrah pada keadaan bahwa lahan tempat mereka mencari nafkah sudah tak subur lagi.

Berbagai gejolak dan kerusuhan kerap terjadi ditengah-tengah masayarakat Lontar. Dua bulan yang lalu, ketika warga Lontar hendak mengusir kapal pengeruk pasir sebagai peringatan bahwa lahan mereka rusak akibat penambangan. Yang terjadi justru jatuhnya korban luka akibat brondongan peluru karet dari aparat penegak hukum poliso air laut Banten. (Bersambung)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tarian Malinau yang Eksotis Memukau Ribuan …

Tjiptadinata Effend... | | 24 November 2014 | 11:47

Ini Sumber Dana Rp 700 T untuk Membeli Mimpi …

Eddy Mesakh | | 24 November 2014 | 09:46

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Nyicipi Rujak Uleg sampai Coklat Hungary di …

Mas Lahab | | 24 November 2014 | 16:16

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 7 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 10 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 11 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: