Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Petrus Kanisius

Belajar menulis dan suka membaca

Oleh-oleh Cerita Pulkam: Musim Buah, Tangga Gereja, Rencana Masuknya Perkebunan Sawit dan PLN Mulai Menyala

REP | 02 January 2013 | 17:24 Dibaca: 467   Komentar: 0   1

13571216491445480717

Buah pekawai (Durio kutejensis), foto doc. wikipedia/pekawai

Beberapa waktu lalu (20/12), saya liburan menuju kampung halaman di Bengkolok, Dusun Sekucing Baru, Kec. Simpang Dua, Ketapang, Kalbar. Pulkam (Pulang Kampung) kali ini dengan maksud berkumpul bersama sanak saudara (Keluarga Besar) untuk merayakan natal atau natalan di Kampong (kampung halaman- red).

Selama 10 hari liburan di kampong, saya banyak mendapat informasi dan cerita dari keluarga dan masyarakat. Informasi dan cerita di kampong sungguh sangat beragam. Cerita musim buah, cerita tangga gereja roboh saat natal, cerita kampong akan di landa perkebunan sawit dan ada cerita tentang masuknya PLN (Perusahaan Listrik Negara) di Kecamatan dan desa kami.

Cerita pertama, saat saya tiba di rumah, saya langsung di suguhkan oleh Ibu (mama) beraneka macam buah; dimulai dengan buah durian, buah pekawai, buah duku dan buah langsat. Tanpa menunggu saya langsung menyantap buah tersebut. Sangat nikmat dan enak sekali rasanya buah-buah yang saya makan tersebut. Menurutku yang paling enak dari buah-buahan yang lain adalah buah pekawai. Buah pekawai atau ada juga yang menyebutnya buah nyekak atau dalam bahasa latinnya dengan nama Durio kutejensis. Buah pekawai adalah sejenis buah durian, warnanya kuning kusam agak jingga. Buah pekawai rasanya manis dan baunya enak. Saat saya pulkam kebetulan sedang musim buah. Rata-rata masyarakat di kampungku memiliki pohon durian, pekawai, duku, langsat dan beberapa jenis lainnnya seperti rambutan serta mangga atau bacang. Keesokan harinya saya bersempatan untuk ikut menyandau (menunggu buah jatuh dari pokok/pohonnya) daurian dan pekawai. Beruntung saya, sebelum saya nyandau, saya sudah di beri oleh ponakan 3 buah durian dan 2 buah pekawai. Saat saya menunggu nyandau malah tidak dapat satupun buah. Hehehe… nasib-nasib. Namun kesokan harinya, saya mendapat 2 buah pekawai dari hasil menyandau. Senangnya. hehehe…

Cerita kedua, malam natal 2012, saya menyempatkan diri bersama keluarga dan adik-adik saya datang ke Gereja St. Mikael, Simpang Dua. Misa pada malam natal, suasananya hikmat dan tenang. Mungkin karena berada di kampung kali ya?. Setelah misa selesai saya menyempatkan untuk bertegur sapa dan bersalaman dengan teman-teman, keluarga dan handai taulan sambil berbincang-bincang menanyakan kabar masing-masing. setelah pulang kembali ke rumah, mata sudah tidak sabar untuk terpejam, saatnya tidur. Rencana keesokan harinya (25/12), hendak menghadiri misa kembali. Tapi apa boleh buat, mata enggan terbuka dan badan enggan bangun di tempat peraduan. Akhirnya bangun jadi kesiangan dan tidak menghadiri misa. Di pagi hari (25/12) sekitar pukul 07.50 wib, seorang teman mengirim pesan singkat, isi pesannya ; pit, ke gereja sekarang, tangga gereja roboh. Setelah itu saya menjawab pesan singkat dari teman saya tersebut, saya katakan ingin ke gereja tetapi tidak ada kendaraan dan saya baru bangun tidur. Peristiwa robohnya tangga gereja yang menyebabkan 7 orang luka-luka dari 11 orang korban tangga roboh menjadi cerita sedih saat suka cita natal 2012 tiba. Beruntung hanya luka-luka gumam salah seorang umat yang enggan namanya disebut. Robohnya tangga gereja menjadi berita heboh, bahkan dibeberapa media menyebutkan bukan tangga yang roboh namun bangunannya. Berita tangga gereja roboh juga muncul di running teks di salah satu TV Swasta. Satu hari setelah kejadian (26/12), Kapolda Kalbar, Brigjen Pol Tugas Dwi Apriyanto yang berkenan berkunjung meninjau langsung lokasi gereja St. Mikael. Begitu turun dari helikopter, kapolda langsung ke gereja. Beliau ingin mengecek karena di beberapa media massa yang diberitakan gerejanya roboh. Kapolda menyerahkan bantuan ke korban yang luka-luka, dan sebelumnya pada pagi anggota Polsek tentara bersama masyarakat juga merehap gereja, ada yang mengecat ada juga yang cari kayu ulin. Pada kesempatan yang sama, Bupati Ketapang juga menitipkan uang bantuan sebesar Rp. 41juta melalui Kapolres Ketapang, yang langsung diserahkan kepada pihak kecamatan dan gereja.

13571227471740453566

Gereja St. Mikael Simpang Dua, foto doc. Victorohadi

13571220031190819808

Kunjungan Kapolda Kalbar ke Gereja St. Mikael Simpang Dua, foto saat berbincang dengan korban luka korban tangga roboh. Foto Doc. tribunpontianak.co.id

Selanjutnya cerita rencana masuknya perkebunan kelapa sawit di wilayah Simpang Dua, terlebih khusus di dusun Sekucing Baru. Gonjang-ganjing rencana masuknya perkebunan kelapa sawit di kampung kami sedikit banyak menuai pro dan kontra. Memang secara ijin perusahaan perkebunan sawit akan masuk ke daerah ini dengan ijin pembukaan lahan 17.000 ha. Bahkan menurut keterangan masyarakat perusahaan sudah bersosialisasi dengan rencana masuknya sawit tersebut. Sebagian besar masyarakat Simpang Dua, adalah petani karet. Sebagian besar masyarakat menolak dengan rencana masuknya perkebunan. Masyarakat menganggap karet masih menjadi sumber utama dalam pemenuhan kebutuhan hidup mereka sehari-hari bahkan membiayai anak mereka yang sedang studi. Berbagai kalangan dan akademisi (28/12), berkesempatan datang ke kampung untuk memaparkan dan menjelaskan tentang dampak-dampak bila sawit beroperasi di wilayah Sekucing Baru, Kecamatan Simpang Dua. Mereka menjelaskan bila sawit masuk sudah siap belum masyarakat menerimanya, dampak-dampaknya seperti konflik batas wilayah, rusaknya lingkungan hidup dan satwa, dampak social dan ekonomi, rawan akan tindakan kriminalitas serta hilangnya tajuk-tajuk hutan yang masih rimbun. Secara nyata masyarakat Simpankg (sebutan masyarakat setempat-red) saat ini terbantu dengan hasil karet.

1357121892936047727

Peta rencana masuknya sawit di Simpang Dua dan Simpang Hulu, doc. Masyarakat Simpang.

Cerita penutup, cerita tentang masuknya PLN sebagai sumber penerangan di wilayah ini. Seperti di ketahui PLN menerangi/ menyala di Kecamatan Simpang Dua mulai pertengahan dan masyarakat merasakan terangnya sejak 3 bulan terakhir. Masuknya fasilitas umum berupa PLN tersebut di sambut baik oleh banyak pihak. Namun ada juga yang bertanya-tanya, pertanyaan tidak lain dan tidak bukan karena fasilitas umum tersebut tidak merata yang merasakan. Mereka sangat heran dan bertanya, kenapa sumber penerangan tidak merata yang merasakan. Ironisnya wilayah yang tidak atau pun belum merasakan adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan Ibukota Kecamatan. Bahkan ada masyarakat yang bersuara, kira-kira begini bunyinya : “aneh tapi nyata wilayah yang dekat dengan kecamatan tidak mendapatkan sumber penerangan, sementara yang di ujung kampung dan jauh dari kecamatan menikmatinya”.

Oleh-oleh cerita pulkam ini sebagai sarana berbagi bagi semua. Mudah-mudahan cerita dari kampung ku ini bisa menjadi pengingat dan obat penawar rindu bagi teman-teman yang belum sempat untuk pulang kampung halamannya.

BY : Petrus Kanisius “Pit”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 12 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 13 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 14 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Kejujuran …

Rahmat Mahmudi | 8 jam lalu

Berupaya Mencapai Target Angka 7,12% …

Kun Prastowo | 8 jam lalu

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Jazz Atas Awan, Mendengar Musik Menikmati …

Pradhany Widityan | 8 jam lalu

Indahnya Kebersamaan di Ultah Freebikers …

Widodo Harsono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: