Back to Kompasiana
Artikel

Regional

2013 Tahun Darurat Narkoba di Indonesia

REP | 15 January 2013 | 13:47 Dibaca: 360   Komentar: 0   0

13582323581108409500Masalah narkoba yang semakin hari dirasakan semakin gawat dan telah menimbulkan keprihatinan dari berbagai kalangan, Sugeng Sarjadi Syndicate, (SSS) merasa terpanggil untuk mengangkat tema tentang bahaya narkoba dalam program dialognya yang ditayangkan stasiun televisi milik pemerintah TVRI, dengan narasumber Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol. Anang Iskandar, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Wahyu Muryadi dan Pakar Sosiologi UI, Dr. Tamrin A. Tomagola.

Ketiga narasumber tersebut sepakat bahwa tahun 2013 merupakan tahun darurat narkoba di Indonesia, mengingat dari tahun ke tahun angka penyalahguna narkoba terus mengalami peningkatan, bahkan diprediksi tahun 2013 penyalahguna narkoba di Indonesia akan mencapai 4.583 jiwa, meningkat dibandingkan tahun 2012 sebesar 4.323 jiwa.

Kepala BNN Komjen Pol. Anang Iskandar, dalam kesempatan tersebut menjelaskan, masalah narkoba sudah menjadi masalah dunia. Meskipun Indonesia juga urun dalam perdagangan narkoba, yaitu ganja dari Aceh, tapi sumbernya sendiri bukan dari Indonesia, yaitu dari Afganistan untuk jenis opium. Untuk jenis lain ada dari India dan yang paling banyak dari Iran, “Narkoba masuk ke Indonesia, karena para sindikat narkoba melihat bahwa Indonesia merupakan pasar yang enak. Karena orang Indonesia menganggap bahwa narkoba itu tidak berbahaya, tapi bisa menambah kekuatan tubuh atau obat. Anggapan masyarakat ini sangat keliru dan harus dibalik,” kata Anang.

Menurut Anang, masalah narkoba ini juga identik dengan masalah bisnis. Mereka punya cara-cara yang canggih untuk memasarkannya, karena ini bisnis besar, “UNODC, organisasi yang menangani masalah narkoba dunia, pada tahun 2008 merilis hasil penelitiannya, bahwa dari bisnis narkoba itu keuntungannya mencapai Rp 300 triliun lebih. Ini tentunya menjadi power yang besar untuk bisa menghindar dari masalah hukum. Ini bagian yang perlu kita cermati,” ujar Anang.

Di Indonesia dengan prevalensi penyalahguna narkoba yang mencapai 4 juta lebih, kerugiannya ditaksir sekitar Rp 40 triliun. Kalau kita ingin merehabilitasi para pecandu narkoba diperlukan dana yang sangat besar. Masalahnya besar dan pelik, karena menyangkut bisnis dan uang besar, “Ini perlu warning bagi kita semua, dan kita harus membalik paradigma di masyarakat yang menganggap bahwa narkoba itu dapat menyehatkan. Tapi ini sampah yang bisa merusak tubuh kita dan bisa menjadi ketergantungan secara terus menerus. Dibalik itu ada bisnis besar yang mempengaruhi pengambil kebijakan. Ini yang perlu kita semua cermati sebagai warning,” tandas Anang.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Wahyu Muryadi mengungkapkan, ada dua hal yang perlu kita perhatikan khusus mengenai masalah narkoba, yaitu satu, bagaimana kita melakukan sosialisasi program penyembuhan secara maksimal terhadap pecandu narkoba yang angkanya terus meningkat setiap tahun. Kedua, menghentikan hulunya yang disebut dengan sumber atau bandar-bandar yang sampai sekarang belum tersentuh oleh hukum kita.

“Saya setuju kalau tahun ini dicanangkan sebagai tahun darurat narkoba di Indonesia. Karena sudah sangat seriusnya. Kalau kita lihat dari jumlah pecandu narkoba di tanah air yang angkanya terus naik. Jika kita tidak bisa menangani para pecandu dengan seksama, ini akan menjadi problem yang serius bagi bangsa Indonesia,” ujar Wahyu.

Sedangkan Pakar Sosiologi Universitas Indonesia, Dr. Tamrin A. Tomagola, merasa prihatin dengan maraknya penyalahguna narkoba di Indonesia, “Kalau membahas masalah narkoba saya agak prihatin, karena di kota saya yang ada di ujung Indonesia, Ternate, pengguna narkoba itu sudah sampai pada anak SD. Di Ternate pengguna narkoba cukup besar dan didominasi oleh anak usia SD. Ini sangat gawat. Narkoba masuk ke mereka lewat kelompoknya, kemudian menyebar dan menjadi marak,” kata Tamrin.

Menurutnya, penyalahguna narkoba saat ini tidak hanya didominasi oleh orang-orang gedongan, atau orang kaya saja, tapi orang-orang di daerah kumuh juga banyak yang pake, “Jadi saya setuju bahwa tahun 2013 adalah tahun darurat narkoba di Indonesia,” tandasnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Anak Kabur dari Pesantren, Salah Siapa? …

Mauliah Mulkin | | 28 August 2014 | 14:00

Pulau Saonek Cikal Bakal Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 28 August 2014 | 10:40

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Gap Year: Setahun Nganggur …

Marlistya Citraning... | | 28 August 2014 | 11:39

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 6 jam lalu

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 10 jam lalu

Tomi & Icuk Sugiarto Nepotisme! …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Ramping Jokowi: Cukup 20 Menteri …

Roes Haryanto | 7 jam lalu

Listrik dari Sampah, Mungkinkah? …

Annie Moengiel | 7 jam lalu

Sensasi Rasa Es Krim Goreng …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Indonesia Abad ke-9 Masehi …

Ahmad Farid Mubarok | 8 jam lalu

Catatan Harian: Prioritas di Kereta Wanita …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: