Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Progam RS-RTLH di Kelurahan Pamulang Timur Sadarkan Warga Untuk Ajukan Proposal

REP | 21 January 2013 | 22:54 Dibaca: 1100   Komentar: 0   0

13587827791089523416

Dinamisnya harga material dan bangunan, cenderung membuat pesimis warga,

Sungguh tanpa diduga, rumah Sofyan (45) warga Pamulang Timur  , Kota Tangerang Selatan, Banten.Kini  terlihat lumayan bagus. Sebagian atap  dan dindingnya yang tadinya  rusak dan bolong di sana sini, kini sudah diganti.  Terlihat rumahnya  sudah layak  huni.

“Saya berterimakasih kepada Dinas Sosial yang telah memberi  bantuan kepada kami Rp 10 juta untuk perbaikan rumah.  Alhamdulilah, sudah kami laksanakan mesti belum selesai semua. Tinggal ngefloor. Ya., masih  ada dua  tahapan lagi,” kata Sofyan. “Insya  Allah, minggu ini kelar kalau  hujan tak  deras.”

Sofyan  adalah salah satu warga  kelurahan Pamulang Timur, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan yang mendapat dana  bantuan  perbaikan Rumah Tak Layak Huni (RTLH) dari  Kementrian Sosial  dengan fasilitator  Dinas Sosial Tangerang  Selatan.  Jumlah  keseluruhan yang mendapatkan   100 warga yang terbagi dalam 10 kelompok  dengan nilai bantuan  Rp 1 miliar.

Tak pelak kegiatan ini mengundang keinginan warga lainnya untuk menerima bantuan yang sama, meski hanya Rp.10 juta, tapi, hari gini, mau dapat rezeki nomplok dariman lagi…?! Demikian ucap, Dudi,  kepada wartawan, Dudi  merupakan salah seorang warga Tangsel yang mengaku tidak mengerti bagaimana caranya menerima bantuan bedah rumah dari pemerintah,Jumat 18/1 kemarin kepada wartawan.

Kementerian Sosial RI hingga saat ini  terus berusaha untuk menjangkau seluruh sasaran permasalahan kesejahteraan sosial, termasuk yang berada di daerah-daerah yang relatif tertinggal.

Tujuan dari Pencanangan Bedah Rumah ini dalam rangka mengimplementasikan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin telah dilakukan melalui berbagai langkah, termasuk diantaranya kegiatan bedah kampung ini.

Pelaksanaan bedah Rumah ini dilakukan melalui kegiatan Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH), Pembangunan Sarana Prasarana Lingkungan (Sarling) serta pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan penanganan PMKS lainnya yang diharapkan mampu mempercepat penanganan fakir miskin dengan mengoptimalkan peran masing-masing pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun masyarakat bersinergi mengatasi kemiskinan pada suatu area tertentu secara terpadu.

A. Kriteria Kepala Keluarga Penerima Bantuan RS-RTLH

1. Memiliki KTP/identitas diri yang berlaku;

2. Kepala keluarga /anggota keluarga tidak mempunyai sumber mata pencaharian atau mempunyai mata pencaharian tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiian;

3. Kehidupan sehari-hari masih memerlukan bantuan pangan untuk penduduk miskin seperti zakat dan raskin;

4. Tidak memiliki asset lain apabila dijual tidak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup anggota keluarga selama 3 bulan kecuali tanah dan rumah yang ditempati;

5. Memiliki rumah di atas tanah milik sendiri yang dibuktikan dengan sertifikat atau girik atau ada surat keterangan kepemilikan dari kelurahan /desa atas status tanah.

6. Rumah yang dimiliki dan ditempati adalah rumah tidak layak huni yang tidak memenuhi syarat kesehatan, keamanan dan sosial, dengan kondisi sebagai berikut :

a. Tidak permanen dan / atau rusak;

b. Dinding dan atap dibuat dari bahan yang mudah rusak/lapuk, seperti : papan, ilalang, bamboo yang dianyam/gedeg, dsb;

c. Dinding dan atap sudah rusak sehingga membahayakan, mengganggu keselamatan penghuninya;

d. Lantai tanah/semen dalam kondisi rusak;

e. Diutamakan rumah tidak memiliki fasilitas kamar mandi, cuci dan kakus.

B. Kriteria Sarana dan Prasarana Lingkungan Sarana prasarana lingkungan yang menjadi sasaran kegiatan adalah :

1. Terletak pada lokasi RS-RTLH;

2. Merupakan fasilitas umum yang mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat terutama warga miskin;

3. Menjadi kebutuhan dan diusulkan oleh masyarakat;

4. Legal dan tidak berpotensi menimbulkan konflik sosial;

5. Masyarakat setempat bersedia untuk mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki seperti : lahan, tenaga dan material.

C. Kelompok Penerima Bantuan

Kepala Keluarga penerima bantuan dengan difasilitasi oleh Dinas Sosial Kota Tangsel membentuk kelompok dengan anggota berjumlah 5 sampai dengan 10 KK.

Tugas kelompok adalah :

1. Membentuk pengurus kelompok terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara;

2. Membuka rekening di Bank Pemerintah atas nama kelompok dengan specimen ditandatangani ketua dan bendahara;

3. Melakukan penilaian bagian rumah yang akan direhabilitasi;

4. Menetapkan toko bangunan yang akan menjamin penyediaan barang;

5. Mengusulkan pelaksana yang ahli dalam bidang bangunan (tukang);

6. Mengajukan usulan kebutuhan perbaikan rumah beserta dana yang diperlukan maksimal sebesar Rp. 10.000.000,- setiap rumah untuk disetujui oleh Dinas SosialKab/Kota;

7. Membantu tukang yang telah ditunjuk untuk mengerjakan perbaikan rumah secara gotong royong dalam satu kelompok;

8. Setelah uang diterima, ketua membuat dan menandatangani tanda terima uang bantuan dari Kementerian Sosial sejumlah yang tercantum dalam rekening dengan diketahui aparat desa/kelurahan setempat dan segera dikirim ke Direktorat Pemberdayaan Fakir Miskin melalui Dinsosnakertrans Kota Tangsel

9. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan dan kegiatan RS-RTLH kepada Direktorat Pemberdayaan Fakir Miskin melalui Dinsosnakertrans Kota dan tembusan disampaikan kepada Dinas Sosial Provinsi dengan malampirkan bukti-bukti kwitansi pengeluaran dan surat pernyataan telah diselesaikannya pekerjaan yang diketahui kepala desa/lurah.

13587830502005169203

Salbini, Msc Kasie Penanggulangan Bencana & Rakyat Miskin, Dinsosnakertrans Kota Tangsel

Hal tersebut  ditegaskan  pula  oleh   Salbini Msc, Kasi Penanggulangan Bencana dan Rakyat Miskin.  100 warga yang memdapat bantuan dana “bedah” rumah   terdiri 10 kelompok dan  tiap kelompok terdiri 10 warga.

“Penyaluran  dananya langsung ke rekening  kelompok.  Kami hanya  memantau , memberi  pengarahan agar  dana bantuan  dipergunakan    sesuai peruntukanya,” kata  Salbini.  “Mengingat  dana yang diterima masing –masing  Rp 10 juta belum  mencukupi,  kami menghimbau bagi warga yang mampu untuk membantu. Kepedulian  semacam itu mudah-mudahan   disambut baik.”

Masih menurut Salbini,  di Kota  Tangerang Selatan  hanya warga kelurahan Pamulang Timur saja yang mendapat bantuan dana RTLH.  Alasanya,  proposal  warga yang diajukan  ke Kementrian Sosial  RI dianggap paling layak untuk mendapatkan bantuan. “Mudah –mudahan, cara pembuatan  proposal  warga Pamulang Timur dapat  ditiru oleh warga di lain kelurahan yang ada di Tangsel,” kata Salbini.

H.Moch Ramlie MA, Lurah Pamulang Timur membenarkan  warganya mendapat dana bantuan Rp 1 Milyar  untuk 100 orang  dalam  program  bantuan RTLH  dari Kemensos. Dan semuanya berjalan sesuai  tahapan yang berlaku. Hanya saja, mengingat datangnya musim penghujan target waktu  penyelesaian  rehabilitasi rumah mungkin tak terkejar.

“Kita menetapkan penyelesaian  perbaikan rumahnya 20 Januari  esok. Cuma karena  beberapa pekan lalu hujan tiap hari, mungkin tak tercapai.  Tak apa –apa,  factor alam tak bisa kita  tolak. Tapi  sdh 90% kelar,kami  senang ,” kata  H. Moch Ramle saat dihubungi wartawan kemarin, (18/1) .

13587834361724428796

H.Moch.Ramlie, MA Lurah Pamulang Timur - Tangsel

Lurah yang akrab dipanggil Haji Abi  ini menjamin,  untuk bantuan  “bedah rumah”  kepada warganya  uangnya tak ada potongan apapun. Selain karena  uang ditransfer lewat rekening warga,  pengawasan  juga dilakukan oleh banyak pihak.

“Silakan cek ke lapangan.  Tak mungkin ada  oknum  yang berani memotong  bantuan,  sebab itu uang rakyat dan sensitive.Pengawasannya pun ketat,”tegas  Abi kepada wartawan.

Tags: bedah rumah

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiprah Ibu-ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | | 27 November 2014 | 07:38

Jakarta Street Food Festival: Ketika Kuliner …

Sutiono | | 27 November 2014 | 11:06

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 5 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 6 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 7 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Dipertanyakan Molornya Pembangunan Dermaga …

Mahaji Noesa | 8 jam lalu

Malunya Tuh Disini (Tepok Jidat) …

Atin Inayatin | 8 jam lalu

Abdi Negara dan Gaya Hidup Sederhana …

Dhita Mona | 8 jam lalu

Kau, Aku, Angin …

Wahyu Saptorini Ber... | 8 jam lalu

Wisata Alam Sejarah Klasik Goa Selomangleng …

Siwi Sang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: