Back to Kompasiana
Artikel

Regional

T.s Trisno

Political & Economic Research

Tantangan Indonesia Menuju Pasar Tunggal ASEAN

OPINI | 28 January 2013 | 17:35 Dibaca: 338   Komentar: 0   0

1359369333728575008Pasar Tunggal ASEAN akan segera berlaku pada 2015 mendatang. Pemberlakuan Pasar Tunggal ASEAN ini menjadi tantangan tersendiri bagi di Indonesia, di tengah permbelakuan perdagangan bebas internasional. Artinya, Indonesia harus bersiap, khususnya para pengusahanya untuk bersaing dengan negara-negara ASEAN.

Perlu dipahami bahwa pemberlakuan Pasar Tunggal ASEAN akan menghilangkan batasan, dimana para pengusaha dari seluruh negara ASEAN bebas membuka usaha, termasuk di Indonesia. Kondisi ini tentu saja akan mengurangi peran para pengusaha dalam negeri.

Mengutip pernyataan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, saat ini Indonesia baru memiliki 1,58% pengusaha dari total jumlah penduduk. Menyambut Pasar Tunggal ASEAN, kita wajib khawatir dengan jumlah pengusaha yang sangat minim tersebut.

Dalam kondisi Indonesia yang terus berkembang, pembangunan terjadi dimana-mana, akan sangat riskan kalau jumlah pengusaha dalam negeri tidak ditingkatkan. Karena, dengan keterbatasan pengusaha, sangat dimungkinkan jika pembangunan yang dilakukukan Indonesia saat ini diambil alih oleh pengusaha luar, khususnya dari negara-negara ASEAN.

Bisa dibayangkan bagaimana ruginya Indonesia, jika fasilitas-fasilitas umum seperti jalan, pelabuhan, bandara maupun rumah sakit dimiliki oleh pengusaha asing. Untuk itu, seperti yang dikatakan Hatta Rajasa, mulai dari sekarang kita harus mendidik, melatih dan melahirkan pengusaha-pengusaha nasional. Kalau dididik dan dilatih dari sekarang, kemungkinan kita akan memiliki pengusaha-pengusaha tangguh pada 2015, sehingga mampu bersaing dengan pengusaha luar dalam Pasar Tunggal ASEAN.

Untuk diketahui, untuk menjadi negara maju dan siap bersaing di era perdagangan bebas, kita harus memiliki pengusaha sekurang-kurangnya 4% dari total jumlah penduduk.  Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan Korea saat ini memiliki pengusaha lebih dari 5%. Begitu juga dengan Singapura, yang notabenenya adalah negara anggota ASEAN.

Sementara Indonesia baru memiliki 1,58% pengusaha. Menurut Hatta, kita tidak harus menggeber jumlah pengusaha mencapai 5% atau lebih. Bisa menumbuhkan pengusaha hingga 4% saja, sebenarnya itu sudah cukup untuk bersaing dalam era globalisasi, khususnya Pasar Tunggal ASEAN. Sayangnya, saat ini kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya menjadi pengusaha atau entrepeneur masih kecil.

Untuk memunculkan kesadaran ber-entrepeneur tersebut tentunya memerlukan kerja keras dari semua pihak. Hanya seorang Hatta Rajasa yang berkeliling ke daerah untuk mendorong munculnya entrepeneur-entrepeneur baru, tentunya tidak cukup. Langkah yang dilakukan Menko Perekonomian RI ini harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya lembaga-lembaga yang memiliki kekuatan untuk menyediakan modal, seperti perbankan, koperasi dan investor dalam negeri.

Seperti yang disampaikan Hatta, untuk merealisasikan mimpi Indonesia masuk dalam peringkat 10 besar negara dengan ekonomi terbesar di dunia, target menumbuhkan minimal 4% jumlah pengusaha itu harus tercapai. Kalau tidak, jangan harap Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara maju. Kalau pengusaha di Indonesia masih berkutat di angka 1-2% dari total jumlah penduduk, kita harus bersiap berada dalam penguasaan pengusaha-pengusaha dari luar negeri.

Saat ini pemerintah sudah memberikan berbagai kemudahan dalam merangsang pertumbuhan entrepeneur baru. Diantaranya, Kredit Untuk Rakyat (KUR), kredit untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), kredit lunak untuk pengusaha kelas menengah. Salah satu yang perlu ditumbuhkan pada diri masyarakat Indonesia adalah niat untuk menjadi entrepeneur.

Hatta Rajasa mengatakan kita harus merubah ‘jiwa pegawai’ atau mental karyawan menjadi ‘jiwa entrepeneurship.  Intinya, jangan hanya berpuas diri menjadi seorang karyawan, pegawai yang bekerja kepada pemilik modal atau pengusaha. Kita harus punya niat untuk menjadi entrepeneur atau pengusaha yang akan mempekerjakan orang.

Dengan semangat entrepeneur tersebut, selain mendukung Indonesia menjadi negara maju, juga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semakin meningkatnya jumlah entrepeneur di Indonesia, akan diikuti oleh terbukanya lapangan pekerjaan. Dan semakin banyak orang bisa bekerja, kesejahteraan masyarakat pun akan meningkat.(***)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Kami Hadir di Kompasianival …

Hibah Buku | | 21 November 2014 | 17:54

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 9 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 9 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: