Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Riri Wijaya

Announcer and Producer@Radio 103.4FM. Humas Portupencanak, MC, Moderator,pengajar, pengisi suara iklan.

Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Ummat

REP | 22 February 2013 | 11:20 Dibaca: 1044   Komentar: 3   1

“Posdaya berbasis masjid merupakan gerakan masyarakat dengan  menyegarkan modal social, memperkuat komitmen dan jejaring berbasis kearifan dan potensi local yang dilakukan dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.” Demikian antara lain penjabaran yang disampaikan oleh                           Dr. Hj. Mufidah Ch, M Ag, Ketua lembaga pengabdian masyarakat UIN Maliki Malang.

Menurutnya, Posdaya berbasis masjid merupakan forum  yang berfungsi sebagai medan budaya untuk belajar bersama antara masyarakat, mahasiswa dan dosen,  ketiga  unsur ini merupakan sinergi dan soliditas yang kuat untuk eksistensi keberadaan posdaya-posdaya yang telah dibangun.

Kenapa Masjid pelu dijadikan sebagai pusat pemberdayaan ummat? Beribadah itu bukan melulu pada kewajiban menjalankan sholat wajib 5 waktu tetapi bagaimana ummat Islam dapat bangkit dari kemiskinan, disinilah  konsep pembangunan menjadi integrative antara dunia akhirat.

Konsep pengentasan kemiskinan bukan semata-mata menjadi urusan pemerintah tetapi telah menjadi tanggung jawab jama’ah. “Perang melawan kemiskinan merupakan jihad di jalan Allah, ujarnya lagi.”

Tampaknya Posdaya telah mengubah pola relasi aparat di tingkat desa atau kecamatan, para pengusaha, kalangan profesi dengan jama’ah di masjid yang semula pola relasi out sider-in sider, ‘berbeda kepentingan,’ menjadi pola kekeluargaan, kepentingan bersama untuk mengubah masyarakat menjadi sejahtera mandiri.

Berdasarkan pengalaman terjun langsung dilapangan Mufida merasakan gerakan yang sangat dinamis, dimana sekang ini para aparat mendatangi masjid atau sebaliknya, para takmir masjid, kader posdaya menghadiri forum-forum formal maupun silaturahim informal yang produktif.

Sejumlah keluarga miskinpun telah berhasil didampingi untuk penguatan kewirausahaan dan mengakses permodalan melalui dana masjid, dana Lakzis, BMT, dan bank UMKM dengan sistem tanggung renteng.

Hal lain yang positif terjadi dengan optimalnya kegiatan posdaya berbasis Masjid adalah, meningkatnya rasa percaya diri dari kalangan masyarakat termarjinal.  Mereka telah memiliki teman dari beragam unsur baik  kalangan akademisi, kalangan profesi, pejabat setempat dan tokoh-tokoh lokal yang mudah diakses dan diajak diskusi.

Demikian pula perubahan mindset para takmir Masjid bahwa selama ini hanya menggunakan masjid sebagai tempat ibadah murni menjadi masjid sebagai pusat pemberdayaan umat .

Ketika ditanya tentang program  charity untuk pengentasan kemiskinan, Ibu dari 4 anak yang sampai akhir hayat berkomitmen untuk tetap aktif dalam  mendampingi masyarakat melalui bidang pemberdayaan ini, ’sangat tidak setuju.’ Menurutnya,  charity hanya menyuburkan mental lemah dalam  masyarakat kita.  Menjadi sangat tergantung, peminta-minta, dependent, dan tidak mudah bersyukur atas nikmat Allah SWT.

Untuk itu,  masjid yang sangat dekat keberadaannya dengan lingkungan masyarakat harus dapat menjadi  program kajian ke-Islaman dan mampu menggali nilai-nilai  Rahmatan Lil Alamin.  Bukan dipahami mengasihi dengan membagi-bagikan harta kepada sesama, tetapi mengajak sesama untuk bangkit berdaya, mandiri dan memiliki integritas sebagai umat yang beragama.

Kiprah Doktor lulusan  IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 2009 ini tak lepas dari bimbingan kedua orangtuanya yang sangat concern dengan kegiatan kemasyarakatan, dimana sang ibunda adalah  guru ngaji di pedesaan sedangkan  Bapaknya  seorang veteran dan pernah menjadi komandan Hisbullah wilayah Karesidenan Bojonegoro. Setelah merdeka menjadi asisten wedana, mengajar ngaji di pesantren salaf dan aktif berdakwah di berbagai komunitas.

Pendidikan agama dan kemasyarakatan memang lebih banyak ditanamkan oleh orang tua Mufida kepada 12 anak-anaknya. Dengan harapan kelak anak-anak ini dapat menjadi pemimpin yang berakhlak mulia.

“Meski saya hanya 10 tahun bersama Ayahanda, saya anak ke 11,  namun ibu  selalu bercerita bagaimana keluarga kami memiliki perhatian khusus terhadap lingkungan masyarakat. Mereka menanamkan jiwa kepemimpinan sangat kuat. Meskipun saya perempuan harus bermental kuat seperti saudara laki-laki saya.” Ujarnya mengenang masa silam.

Ditambahkan pula, ada pesan  dari orang tua yang sangat berkesan sampai saat ini, yaitu  ”jangan kamu membiarkan jika ada orang yang punya kesulitan atau minta pertolongan sepanjang kamu bisa melakukan meskipun hanya saran atau menjadi pendengar yang baik.”

Tak ada sukses jika  tanpa dukungan dari pasangan hidup, Mufida bersyukur memiliki suami yang merestui seluruh aktifitasnya diluar rumah. Senior di kampus 4 angkatan diatasnya mampu mencuri hati Mufida kala itu, selepas dirinya lulus dari Sarjana Muda merekapun menikah. Komitmen membangun keluarga yang berkesetaraan saling mendukung dan memberdayakan menjadi kunci kelanggengan rumah tangga, dan  suami  adalah orang yang berjasa mengantarkan dirinya untuk eksis hingga sekarang.

Mufida memaparkan kembali kiprahnya sebagai Ketua LPM UIN Malang yang berawal pada bulan  September tahun  2009, dimana  revitalisasi  peran sosial keagamaan dosen dan mahasiswa mulai dilakukan.

Dukungan pengembangan konsep dipelajari dari para pakar dan lembaga-lembaga mapan dalam pengembangan  masyarakat,  team yang terdiri dari sekretaris dan staff LPM di support pula oleh  pimpinan universitas, mulailah team ini bekerja dan  mengedentifikasi tokoh pemberdayaan yang akan dihadirkan sebagai  narasumber seminar nasional.

Bulan Maret 2010, ketika  mengundang Prof. Dr. Haryono Suyono Ketua Yayasan Damandiri ke kampus UIN Malang, menjadi titik awal dari kerjasama yang solid. Gayung bersambut ini menjadi landasan awal pengembangan Posdaya berbasis Masjid.

Kalau pada awalnya LPM UIN Maliki Malang menjadi anggota dari UNMER Malang sebagai Korwil Jawa-Timur- 2. Pada akhirnya Satu tahun kemudian, Mufida mulai  mencari teman-teman Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) lainnya untuk mengintegrasikan posdaya ini kedalam program KKN tematik berbasis Masjid.

Respon positif tampaknya didapatkan dari 16 PTAI  Yaitu UIN Maliki Malang, IAIN Sunan Ampel Surabaya, STAIN Jember, STAIN Pamekasan, STAIN Tulungagung, STAIN Ponorogo, STAIN Kediri, IAI Ibrahimy Situbondo, IAI Nurul Jadid Probolinggo, STAI Zainul Hasan Probolinggo, STAI Ibrahimy Banyuwangi, STAI At Taqwa Bondowoso, Univ. Yudharta Pasuruan, IAI Tribhakti Kediri, UNISMA Malang, dan STAI Al Qolam Malang.

Sehingga dimulailah KKN versi baru berbasis Masjid menjambangi   24 Kabupaten dan Kota di Jawa Timur  Meliputi wilayah:  Kota Malang,  Kota Batu , Kota Pasuruan, Kota Blitar,  Kota Kediri,  Kab. Malang,             Kab. Pasuruan,  Kab. Blitar,  Kab. Bojonegoro,  Kab. Jombang,  Kab. Sidoarjo,  Kab.Kediri,   Kab. Tulungagung,   Kab. Madiun, Kab. Ponorogo,  Kab. Probolinggo,  Kab. Bondowoso,  Kab. Jember,                 Kab. Lumajang , Kab. Situbondo, Kab. Banyuwangi, Kab.Pamekasan, Kab. Sumenep dan Kab. Sampang.  Kedepannya akan dikembangkan pula KKN berbasis Masjid ini ke NTB dan Bali.

Dukungan dari stake holder muthlak diperlukan, untuk itulah LPM UIN Maliki Malang  menggandeng  Kanwil dan Kantor Kementerian Agama Kab/Kota, Pemda (SKPD terkait), Kecamatan, dan Desa, Dewan Masjid Indonesia Wilayah dan Kab/Kota, BKKBN, Bank UMKM Jatim, Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah, TP-PKK, Puskesmas, Kelompok Tani,  organisasi sosial keagamaan, kepemudaan, ormas perempuan, lembaga pendidikan, pesantren, pengusaha, kalangan profesi, dll. Karena keberhasil program Posdaya mengacu pada tingginya tingkat partisipasi masyarakat dan dukungan berbagai Instansi Pemerintah dan swasta.

Tiga tahun berkiprah, Dari program KKN tematik Posdaya berbasis masjid ini telah banyak menghasilkan berbagai produk
pemberdayaan, mulai dari tumbuh suburnya modal sosial masyarakat sekitar masjid, menguatnya komitmen stake holders dan meluasnya jejaring antar posdaya, lembaga, instansi terkait khususnya untuk pengentasan kemiskinan demikian pula dengan
Munculnya tokoh-tokoh local yang inspiratif untuk pemberdayaan masyarakat serta bertambahnya jamaah Masjid dari semua kelompok usia.

Demikian pula  berdirinya TPQ baru, majunya PAUD, terbentuknya perpustakaan Masjid, termasuk terjadinya perubahan materi ceramah/khothbah dari doktrin teologis menjadi doktrin pemberdayaan,

Terbentuknya   forum diskusi sosial keagamaan kelompok remaja dan perempuan yang lebih substantif dan praktis turut terjadi, dimana  penggunaan  IT dengan benar untuk media pendidikan, akses beasiswa bagi jama’ah kurang mampu, pelatihan untuk guru TPQ dan PAUD, bertambahnya jumlah penerima bea siswa setiap tingkatan serta perubahan mindset masyarakat terhadap pentingnya pendidikan semakin besar.

Para anggora dan pengurus Posdayapun telah Membangun jejaring dengan puskesmas, Bidan desa, PLKB, Posyandu dan PKK. Dari identifikasi yang telah dilakukan sebelumnya, akhirnya dapat dengan mudah memilah dan menfasilitasi keluarga miskin dalam akses layanan kesehatan, termasuk prioritas bagi lansia, ibu hamil dan bayi/balita.

Posdaya memacu anggotanya untuk mandiri, pada akhirnya dapat  menguatnya mental kewirausahaan terutama bagi jama’ah miskin dan pengangguran serta kaum ibu untuk membuka usaha kecil berbasis rumah tangga dengan beragam produk berbasis potensi lokal.

Karena masjid dijadikan pusat kegiatan maka secara sukarela terbangun kesadaran masyarakat untuk  Menjaga kebersihan lingkungannya demikian pula penanaman aneka sayuran dan tanaman obat,  masjid. Halaman Masjid menjadi ijo royo-royo dan sampahpun mulai dipilah menjadi  pupuk kompos dan lain-lainnya.

Selain berbasis Masjid, UIN Maliki Malang saat ini membina pula Posdaya berbasis pesantren rakyat yang saat ini jumlahnya ada 20 posdaya.

Lalu berapa banyak mahasiswa yang terlibat dalam program berkesinambungan ini?  Tak kurang dari 5338 mahasiswa KKN dari 16 PTAI dengan 547 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) telah berdiri 640 posdaya di Masjid Se-Jawa Timur. Rencananya, di tahun 2013 ini, jumlahnya  akan ditambah menjadi 1.128 posdaya berbasis masjid.

Sebagian anggota masyarakat pernah Merasa  khawatir setelah KKN mahasiswa tidak ada tindak lanjutnya.  Namun inilah yang Menjadi tantangan bagi para akademisi untuk menunjukkan kemampuan beradaptasi dan membina masyarakat. Kampus adalah menara air bukan menara gading, sehingga pendampingan kepada masyarakat dapat berlanjut dengan terjunnya mahasiswa KKN di angkatan berikutnya.

Para relawan Posdayapun dapat di rekrut, mereka ini terdiri dari mahasiswa, dosen muda, dan kader terbaik posdaya yang mendampingi posdaya  dalam menindaklanjuti atau mengisi posdaya yang telah berdiri. Relawan ini juga berfungsi menjembatani antara LPM dan posdaya, serta pihak-pihak lain yang mendukung pengembangan posdaya antara lain Dewan Masjid Indonesia dan kementerian Agama setempat untuk memetakan masjid yang siap membentuk posdaya untuk dilatih terutama dalam memperkuat perubahan mindset mereka tentang peran dan fungsi masjid.

Agar program pengentasan kemiskinan berbasis Masjid ini dapat berjalan lancar, dapat dihubungkan  antara masjid yang surplus secara SDM, dana, dan memiliki system manajemen yang telah mapan untuk membantu posdaya di masjid-masjid minus yang memerlukan bantuan, agar program pengentasan kemiskinan berbasis masjid ini berjalan lancar.

Terkait  dengan penelitian para dosen dan mahasiswa tentang posdaya masjid,  kiranya hal ini dapat dipublikasikan baik  dalam bentuk buku agar dapat dibaca oleh semua pihak yang ingin mendapatkan informasi tentang posdaya berbasis masjid, atau melalui jejaring sosial dan situs Internet dengan cara ini,  masjid-masjid lain yang ingin mendirikan posdaya bisa belajar dari panduan yang ada.

Menutup Perbincangan, tokoh pemberdayaan ini menyatakan keinginan dan   harapan, dimana  menurutnya, sebagian besar generasi muda kita sekarang ini sedang kehilangan figur yang menjadi role model atau uswah hasanah yang dapat  mengantarkan mereka menuju bangsa yang lebih maju, dan lebih bermartabat.  Untuk itu melalui posdaya, kita semua dapat  mencari tokoh-tokoh local yang ikhas, care, dan cerdas dalam menangkap problem masyarakat serta menangkap  ide-ide kreatif mereka untuk solusi, dan mendesiminasikan figure-figure kecil, sederhana, tidak terkenal, untuk di promosikan menjadi role model generasi muda di lingkungannya.

Posdaya juga berfungsi mengaktifkan peer group di masjid-masjid untuk diskusi, belajar bersama, beraktifitas social agar meraka terbiasa hidup perspektif dunia akhirat tanpa dikotomi. Tetap relegius di luar masjid, dan tetap semangat membangun masyarakat di dalam masjid, Ujarnya menutup perbincangan.13615067371601178112

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 12 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 13 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 14 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 17 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: