Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Abanggeutanyo

Pengamat itu : Mengamati dan Diamati

Fenomena Berlalu Lintas di Banda Aceh, Makin Hari Makin Seru

REP | 28 February 2013 | 09:45 Dibaca: 686   Komentar: 0   1

1362018724444827555

Salah satu bentuk ketegasan polisi, menggembok ban mobil dinas yang parkir sembarangan. Sumber gambar : http://acehimage.com/wp-content/uploads/2012/11/afid.mobildigembok.jpg

Melihat kota Banda Aceh sekarang ini bukan saja membuat takjub dengan aneka pembangunan dan pegembangan jalan dan kota di mana-mana. Jalan yang mulus. lebar dan bersih serta aneka kendaraan modern dan mewah menawan bertebaran di mana-mana.

Polisi lalulintas yang mengatur jalan raya juga lebih siap, siaga dan menjalankan tugasnya di setiap persimpangan dalam kota. Selama tiga bulan berturut saya pergi kerja hampir setiap hari (kecuali Sabtu) polisi lalulintas dibantu satuan dalam jajarannya siaga baik hujan menerjang kota maupun tidak.

Akan tetapi yang menyesakkan dada adalah melihat fenomena berkendara pada umumnya warga di kota ini rasa-rasanya masih jauh di bawah standarisasi berlalu lintas di jalan raya. Kebanyakan tidak memahami rambu-rambu berlalulintas dengan baik.

Berdasarkan UU No.22 tahun 2009 tentang Lalulintas, pengertian lalu lintas adalah “Gerak Kendaraan dan Orang dalam Ruang Lalu Lintas.”  Untuk menggerakkan orang dan kendaraan telah tersosialisasi beberapa rambu-rambu lalu lintas yang mempunyai pesan kepada pengguna lalu lintas sebagai :

  1. Perintah
  2. Larangan
  3. Peringatan
  4. Anjuran
  5. Petunjuk

Atas dasar itu, ada beberapa kejadian yang benar-benar tidak masuk akal yang terlihat dan penulis alami sendiri selama tiga bulan kembali berada di kota ini, yaitu :

  • Di persimpangan lampu pengatur lalu lintas, posisi kendaraan yang mau ke kanan atau ke kiri tidak berada pada tempatnya. Yang mau belok ke kiri berada sebelah kanan, sedangkan yang sebelah kiri memotong ke kanan. Kendaraan pada jalur tengah haruskah terjepit?.
  • Posisi kendaraan tidak berada dalam marka jalan sehingga dalam satu marka harusnya bisa terisi dua kendaraan mobil pribadi sejenis minibus atau sedan hanya terisi satu kendaraan saja, akibatnya antrian panjang ke belakang.
  • Posisi kendaraan di hadapan kita (seberang jalan bagian depan) yang mau berbelok ke arah kanannya bahkan yang mau terus lurus ke depan sering memakan jalan. Padahal sudah tersedia dua jalur untuk mereka, masih ingin menambah satu porsi lagi hingga jadi tiga jalur. Akibatnya pengguna jalan dari arah berlawanan terganggu arusnya karena ruangan untuk dilalui menjadi sempit.
  • Saat kendaraan dijalankan posisi garis jalan (marka) terlindas bahkan dikangkangi, tidak jelas mau ke kiri atau kenan.
  • Lampu sein (rencana arah) tidak berjalan semestinya. Ada yang lampu nyala sebelah kiri tapi malah belok ke kanan. Atau lampu sein sebelah kanan nyala terus sepanjang jalan seolah-olah hendak menyalib kendaraan di depannya, padahal di depannya tidak ada kendaraan untuk dilewati. Entah karena lupa mematikan saat berbelok sebelumnya tapi harusnya bisa melihat ke arah indikator pada dashboard kendaraan, indikator pasti mengeluarkan bunyi halus dan lampunya berkedip-kedip memberi pesan pada pemakainya bahwa alat itu masih menyala (dikembalikan ke normal).
  • Posisi parkir tidak berbentuk. Pada tempat-tempat tertentu di perkantoran dan pertokoan, posisi parkir ada yang melintang, serong, arah semraut sehingga ketika kita akan keluar sangat sulit. Petugas parkir sendiri angin-anginan, kalau panas datang menyengat ia lebih suka berteduh di bawah pohon pakai topi rimba dan menarik rokoknya dalam-dalam. Begitu juga kalau hujan, petugas parkir lebih suka ngopi ketimbang mengatur kendaraan yang akan keluar dalam posisi tidak karuan seperti itu.
  • Kendaraan bermotor dan mobil yang berbelok tiba-tiba jangan tanya lagi. Kendaraan yang berada di hadapan kita itu jangan kira lurus-lurus saja jalannya. Tanpa angin dan gangguan apapun bisa tiba-tiba mencelat ke arah kanan atau tiba-tiba saja mengarah lebih ke kanan.

Yang terakhir adalah soal skala prioritas. Manakah yang lebih diduluankan antara pejalan kaki, sepeda, motor, mobil kecil hingga besar (bis kota dan truk 6 roda dan seterusnya). Fenomena berlau lintas  ini sepertinya sudah tak jelas lagi aturannya di seluruh Indonesia. Siapa yang berani sorong kepala kendaraannya itulah yang duluan masuk. Padahal etikanya adalah duluankan yang lebih kecil pada posisi wajar (normal).

Pengguna sepeda harus menduluan pejalan kaki pada posisi normal (wajar). Begitu juga pemakai sepeda motor harus mengutamakan pengguna sepeda (pada posisi wajar atau normal), begitu juga seterusnya hingga kendaraan paling besar.

Tapi apa yang terjadi kini??? Banyak ditemukan sepeda babak belur dihantam oleh sepeda belur, bahkan pejalan kaki pun dibikin semaput -kalau masih panjang umurnya- oleh atraksi pembalap motor yang akhir-akhir ini tumbuh berkembang biak setanah air.  Kondisi ini juga terjadi di kota Banda Aceh dengan hadirnya “pembalap kambuhan” saat memacu waktu ke tujuan masing-masing setiap pagi dan sore.

Apa dan bagaimana cara mengatasi semua ini?

Satu sisi pemerintah kota , polisi lalu lintas dan warga lainnya yang patuh dan taat berlalu lintas penuh etika dan memiliki seni berlalu lintas telah memperlihatkan dan memberi contoh teladan bagaimana saling menghormati dan menghargai sesama pemakai ruang lalu lintas agar sama-sama selamat sampai tujuan.

Akan tetapi  ironisnya sebagian lainnya sepertinya tidak mementingkan hal seperti ini. Entah dalam benaknya yang terpenting adalah lekas sampai, karena ia punya target, karena ia hanya mikir apa yang bisa dimakan hari ini. Padahal pada kondisi yang  sama pengguna jalan lainnya juga mempunyai kondisi dan kepentingan yang sama, ingin lekas sampai di tujuan, punya target, punya beban ekonomi, punya keluarga yang harus dihidupi setiap harinya dan sebagainya.

Jadi pantaskah tidak mengindahkan etika berlalu lintas karena alasan-alasan klise disebutkan di atas? Tidak bukan?

Lalu apa yang harus dilakukan oleh petugas polantas Banda Aceh dan kota lainnya di Aceh untuk mengeliminir bahkan menekan habis pengguna jalan raya yang tidak disiplin berlalu lintas? Berikut ini ada beberapa tips yang mungkin sudah sering didengarkan atau didiskusikan tapi tak apalah untuk dipahami kembali, yaitu sebagai berikut :

  • Perbanyak petugas polantas dan satuan lainnya di setiap jalan.
  • Jangan segan-segan tegur jika ada pelanggaran. Biarkan ada pejabat atau kepala preman yang marah dan menampar polisi jika ditegur oleh polisi. Biarkan masyarakat yang menilainya bagaimana arogannya sang pejabat dan preman itu merenndahkan martabad polisi hanya ditegur karena ia melanggar etika berlalu lintas. Lama-lama masyarakat akan lebih simpati seperti mulai simpatinya masyarakat dengan hadirnya polisi setiap pagi di jalan-jalan kota meskipun masih pada batas yang penting nongol saja..
  • Perketat proses ujian penerimaan SIM
  • Bagi yang tidak ada SIM harus rela kendaraannya dikandangkan apa pun resikonya.
  • Bagi pemilik SIM tapi melanggar lalulintas, SIM nya harus dibolongi, sehingga jika sempat dibolongi tiga kali berarti pemiliknya harus sekolah lagi untuk belajar berlalulintas.
  • Calo SIM dan apapun jenisnya harus ditindak tegas. Mengapa harus tegas? Karena dialah sumber malapetaka pembuat bencana. Nikmat sesaat karena mendapat uang haram dan panas dari pemohon SIM mengundang petaka yakni cibiran terhadap polisi yang pada satu sisi lainnya sedang memperbaiki kredibilitas dan reputasinya untuk berkarya profesional sesuai fungsinya saat dibentuk sebagai POLISI RI pada 1 Juli 1946 dengan motto : Rastra Swakottama atau “Abdi utama untuk rakyat.”

Belasan tahun lalu perkembangan kota mungkin tidak seperti ini, akan tetapi tata tertib dan tatakrama berlalu lintas di kota tercinta ini pada saat itu masih dapat diandalkan, bisa dirasakan masih sangat tertib. Mengapa dengan kondisi bertambah maju di berbagai bidang tapi soal berlalu lintas menjadi tak karuan?

Semoga kesadaran berlalu lintas warga Aceh khususnya di kotaku tercinta Banda Aceh yang sudah maju dan berkembang pesat di segala bidang harus dibarengi dengan seni dan taat berlalu lintas yang handal dan bisa jadi contoh positif berlalu lintas di seluruh Republik Indonesia.

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 14 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 16 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 9 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 9 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 9 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: