Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Isna Noor Fitria

Dilahirkan di kota seribu sungai, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sekarang melanjutkan sisa nafas di salah satu selengkapnya

Demonstrasi di IAIN Sunan Ampel; Apa Penyebabnya?

REP | 07 March 2013 | 19:25 Dibaca: 805   Komentar: 0   2

Yak pemirsa, kali ini postingan si Galuh agak ’sedikit’ berat.
Mengernyitkan kening adalah suatu kewajaran, asal jangan sampai kentut. *salahfokus

Hari ini di kampusku, (ada yang nggak tahu? IAIN Sunan Ampel Surabaya, itulah kampus tercintaku ), ada demonstrasi lagi. Sebenarnya, sih, biasa aja demo tuh. Sejak aku masuk kuliah, udah berapa kali yang namanya demo. Mulai dari menuntut tanggal KKN yang enggak jelas, terus nuntut pembongkaran gedung fakultas yang menghambat perkuliahan, terus apa lagi, ya. Pokoknya saking banyaknya sampai lupa.  Tapi, kali ini, demontrasi sungguh cetarr membahana bagai halilintar menggelegar ulala. Jika ada tanggal yang harus kuingat, maka 06 Maret 2013 patut dicatat.

Tarik nafas dalam-dalam. Lalu hembuskan.
Sekarang si Galuh akan mulai cerita.

Jadi, sudah 3 hari, sebagian mahasiswa Syariah melakukan aksi dari tanggal 4 Maret kemarin, atau hari pertama masuk kuliah. Aksi hari pertama dan kedua masih biasa aja; orasi depan rektorat sambil bunyiin klakson motor kenceng-kenceng. Nah, baru hari ini, demonstrasi menjadi dramatis sekali.

Back to the story, aku kuliah dari jam 9 sampai jam 10 lewat. Terus, karena lapar, aku makan di Maqha, bareng AA, Nida, Devi dan Rahman. Namanya aja Maqha samping Rektorat, ya, otomatis yang demo pada kedengaran. Tiba-tiba, massa pada keluar tuh dari Rektorat, kellihatannya nyeret seseorang. Wes, rame, kan. Kami berlima yang makan masih santai. Terus, suasana reda lagi. Eh, ujug-ujug langsung rame lagi. Katanya, kaca depan rektorat dipecah. Gilak! Padahal kacanya itu lumayan tebel, lho. Jangan bayangin kayak kaca cermin 5 ribuan. *abaikan –”

Karena aku tipe orang yang penasarannya akut sekali, ikut-ikutan deh sendirian ke depan Rektorat lihat kejadian sebenarnya. Dan, ternyata Rektorat sudah amburadul sekali. Kaca samping kanan pecah, pot-pot bunga berantakan, dan yang demo sudah masuk ke dalam.

Kayak gini nih penampakannya:

Kan teriak-teriak tuh massanya di dalam Rektorat (lihat, enggak?), yang kemudian mereka melakukan aksi bakar jaket almamater. Hmmm.. mungkin simbolisasi kekecewaan yang sangat mendalam.

Di sana, aku sempat ketemu Hajar, temenku anak Ekonomi Syariah. Dia jelasin dikit tentang kenapa sampai pecah-pecah gitu. Sebenarnya pak A’la, rektor kami, sudah turun dan bicara sama demonstran. Ini link beritanya: Demo di IAIN Sunan Ampel. Tapi, mungkin jawaban beliau kurang memuaskan, jadinya ya seperti yang di gambar.

Yah, pokoknya begitulah. Karena aku dan AA mau pergi ke Grand City, ada pameran gadget dan komputer, jadinya enggak tahu lagi kelanjutannya. Dan pulang-pulang, sekitar jam 3, kampus udah rame dengan mobil polisi dan wartawan. Lihat aja gambarnya:

Ne sampai ke belakang dan ke luar kampus, mobilnya antre.
Dan, gedung Rektorat sudah dikasih police line. Sayang, aku enggak sempat foto-foto.
Wah, si Galuh sampai keringetan.
Eh, eh, tapi penyebabnya mereka demo, apaan ya??

Seperti kata peribahasa; tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Bagi orang-orang yang tidak akrab dengan demonstran, mungkin akan mencap mereka anarkis atau berlebihan atau ‘ihh, bikin rame aja’ atau ‘dasar, kayak preman!’ atau lain-lain hal.

Tapi, karena aku lumayan kenal dengan ‘mereka’, jadi aku enggak mau bilang ‘itu salah, ini yang benar’ atau sebaliknya. Kan anak Hukum, harus berpikir secara hukum, kan? *lalu ketawa setan

Yang jadi Koordinator Aksi adalah ka Marlaf Sucipto, dan diikuti kakak-kakak angkatan 2009. Kujelasin dulu, ya. Ka Marlaf adalah Gubernur Senat Mahasiswa Fak. Syariah, dan aku adalah salah satu bagian dari senat (di bagian Intelektual), jadi lumayan tahu dengan kinerja pak Gub.

Jujur, ka Marlaf adalah the best governor that I have ever seen selama aku kuliah di IAIN. Dia orangnya cekatan dan kalau orasi di depan, struktur bahasanya bagus sekali. Aku ingat, waktu OSCAAR, ka Marlaf ketuanya. Kereeennn banget orasinya. Kalo aku ditanya, siapa yang bisa membangkitkan semangatku lewat orasi, maka ka Marlaf adalah salah satu nama.
Ka Marlaf juga memperhatikan kegiatan apa yang harus diberikan kepada mahasiswa. Seperti Dies Natalis Fak. Syariah kemarin. Hmmm,,, dulu-dulu enggak ada tuh kegiatan serame itu. Padahal aku tahu, budget SEMA tidak terlalu besar.
Ada juga yang bilang, “Alah, demonstran pasti kurang ngaji’nya.” Jangan salah! Justru Ka Marlaf tiap hari Jumat di akhir bulan selalu SMS ngajak Yasinan di kantor SEMA. Dia juga rajin nyapu kantor terus dipel sampai bersih. Kalau dulu, enggak pernah kantor SEMA dibersihin seperti ka Marlaf yang rajin ngepel.

Oh, ya, dan satu hal lagi yang paling kuingat, ka Marlaf tidak merokok. It’s great! Soalnya, jarang sekali aktivis di kampus ntuh yang enggak ngerokok. Dan dengan ka Marlaf tidak merokok, padahal lingkungannya perokok semua, ini adalah sebuah attitude yang -yah- menurutku keren.

Sekian pandanganku tentang ka Marlaf, gubernur yang kebetulan jadi koordinator aksi demo. Mungkin, berbeda ya dengan pandangan orang. Tapi, ini jujur dari hati aku yang paling dalam. *mulai

Stay tune! Karena si Galuh belum selesai cerita.
Penyebab kenapa ka Marlaf berani demo adalah tulisannya di sini dan juga di sini. Ada banyak issu, tapi yang paling diangkat adalah kebijakan penarikan uang 200 ribu rupiah/mahasiswa per semester untuk praktikum jurusan dan 20 ribu rupiah/mahasiswa per semester untuk PUSPEMA.
Nah, kalau dipikir-pikir, untuk angkatan jurusanku aja, hanya pernah sekali praktikum. Entah semester III atau IV, aku sudah lupa. Selanjutnya, sampai aku semeter VI sekarang, enggak ada tuh praktikum-praktikuman lagi. Padahal, dari tulisan ka Marlaf (aku belum sempat ngroscek data-datanya), harusnya praktikum dari semester III-VII.
Aneh, kan? Aku juga pasti nanya; kemana uangnya? Yah, mungkin karena aku enggak bayar biaya kuliah secara mandiri, semuanya dibayarkan pihak ketiga. Jadi, mungkin tak terlalu peduli. Tapi, bagaimana dengan yang lain?
Juga PUSPEMA. Kemarin-kemarin sih sempat ada pemilihannya sebelum Ramadhan. Tapi, itu juga dadakan. Dan jujur aja, aku enggak terlalu ngerti masalah ini. Yang jelas, aku belum merasa diberi manfaat oleh PUSPEMA, walaupun katanya lembaga ini menaungi semua jurusan dan angkatan.

Wah, jadi bingung ya, Galuh.
Berarti si Galuh setuju ya, kalo ada demo kemarin?
Aku enggak bisa bilang pro atau kontra. Yang jelas, hal-hal yang ditanyakan demonstran juga kutanyakan. Bingung, kan? Namanya juga manusia sudah diberikan Allah akal untuk berpikir jadi harus kita gunakan.

Mungkin, kalo Rektorat sampai pecah-pecah, orang bakal bilang anarkis. Tapi, kok, aku nganggap gini, ya? Setelah sekian kali audiensi, kok yang dikatakan, belum dijalankan. Kita-kita kan mahasiswa ntuh, yang emosinya gampang naik kalo enggak serta merta diturunkan.

Jadi, aku cuma bisa bilang, mereka mencintai IAIN dengan cara yang ‘berbeda’. Coba kalo enggak demo, mungkin kita-kita yang cuma adem ayem enggak bakal terpikir ada banyak dana yang kalo dipikirkan pasti bikin njelimet.

Cumannnnnn… kalo sampai Rektorat berantakan, aku juga kasihan. Berapa duit tuh nambal kacanya? Belum lagi numbuhin kembang-kembang yang udah hancur. Yeah. Itulah akibat dari sebuah sebab. >.<

Ceritanya Galuh panjang bener, ya. Sampai muncrat, nih!
Aku cuma orang awam, mahasiswa biasa yang kuliah ndengerin dosen dan manggut-manggut ketika baca catatan ka Marlaf. Aku belum seberani mereka sampai turun aksi. Yah, aku masih suka hidup di ‘jalan aman’, tapi bukan ‘zona nyaman’, lho ya.
Yang pasti, aku cuma bisa berharap setelah demo heboh ini, ada perubahannya. Semoga ntar ada praktikum, biar yang kita bayar, kelihatan kalo dipergunakan semestinya. Terus, semoga buku di perpus nambah. Biar kalo aku ikut lomba karya ilmiah, enggak susah-susah nyari di gugel lagi.
Aku memang masih imut dan lugu (?) tapi yang aku tahu, kalo kita dikasih amanah, jalankan sebaik-baiknya. Kayak di organisasi kampus, kan ada LPJ-nya, tuh. Intinya apa? Yah, biar kita enggak lost control, masih ingat kalau amanah itu hanya titipan.
Aduh, si Galuh udah pusing. Udahan aja ah nulisnya.
Pesan moral yang dapat diambil kali ini adalah: don’t judge book by its cover. Atau lihat dan pikir dulu sebelum ngomong dan hindari ke-sotoy-an.
Untuk menutup curcol kali ini, ada puisi Gus Mus yang kayaknya pas dengan situasi:
“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”
Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir


Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain
Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu
Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis
Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja
Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku
Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melongok Dapur Produksi Pesawat Boeing …

Bonekpalsu | | 20 December 2014 | 07:30

Merenungkan Sungai dalam Mimpi Poros Maritim …

Subronto Aji | | 20 December 2014 | 09:46

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46

Ckckc… Capung Ini Harganya 48 Juta …

Muslihudin El Hasan... | | 20 December 2014 | 05:13

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 6 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 6 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 8 jam lalu

Hebat, Pemerintah Sanggup Beli Lumpur …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: