Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Abanggeutanyo

Pengamat : Mengamati dan Diamati

Sulu, Berpotensi Sulut Perang Tri Sula

OPINI | 09 March 2013 | 11:10 Dibaca: 5552   Komentar: 0   8

13628001721033268243

Sumber gambar : http://tausug-global.blogspot.com/2011/07/kegilaan-filipino-bersama-penyamar.html

Sejauh apakah peranan sayap militer Front Pembebasan Moro (MNLF) dalam pemerintahan Filipina? Meskipun kekuatan dan dayanya tidak sebanding angkatan perang Filipina akan tetapi duri kecil itu pernah mengganggu stabilitas politik dan keamanan Filipina.

Duri yang kecil itu  memaksa pemerintah Filipina dan MNLF mencapai kesepakatan damai tahun 1996,meskipun sayap militer lainnya dalam tubuh Moro dari kubu MILF menolaknya dan baru menyatakan damai pada Oktober 2012 lalu. Kini, sekitar 3000-an gerilyawan MILF yang belasan tahun berusaha meneruskan  perjuangan mereka telah kembali ke rumahnya masing-masing di Mindanao dan sekitarnya.

Saat MILF kembali ke barak mereka, tak sampai empat bulan kemudian, tepatnya pada 4 Februari 2013 kita mendengar  sejumlah boat penumpang berisi sejumlah warga Mindanao yang mengaku dari kesultanan Sulu menerobos ke daratan Sabah Timur.

Pejuang Sulu dengan  sejumlah alasan historis dan geografis maupun politisnya telah menciptakan ledakan bom waktu warisan kolonial Inggris di semenanjung Malaysia ini  tidak dapat dianggap enteng, karena tidak tertutup kemungkinan bahwa pejuang Sulu yang masuk ke Sabah utara itu bukan saja dari pejuang kesultanan Sulu tapi juga dari MILF/MNLF bahkan tak tertutup kemungkinan agen Filipina bermain dalam pertikaian ini karena posisi Sabah memang termasuk dalam daftar klaim wilayah Filipina terhadap Malaysia.

Pejuang yang berasal dari  sebuah pulau kecil  di luat China Selatan yang pernah melegenda beberapa abad silam itu berkekuatan kecil saja dengan kekuatan 400 orang bersenjata, tak sampai satu jam mengarungi laut Sulu mereka merangsek ke daratan Sabah, tepatnya di desa Tanduo, Lahad Batu, Sabah Utara, Malaysia.

Apa yang kita khawatirkan dari pertikaian yang berpotensi perang sungguhan di kawasan laut Sulu itu, antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Malaysia, sama halnya dengan pejuang dari kesultanan Sulu, mempunyai alasan yang rumit secara historis, geografis dan politis. Menarik benang merahnya sama halnya dengan membicarakan siapa duluan ayam dan telurnya.
  2. Sikap keras Perdana Menteri Najib satu sisi adalah hak dan kewajibannya menjaga keutuhan dan kedaulatan wilayahnya (dalam versi Malaysia), akan tetapi sikap garis keras itu memancing timbulnya perlawanan dari Mindanao (MILF/MNLF) dan bahkan dari komunis Malaysia sekalipun atau opisisi Malaysia yang selama ini memandang titik (Sabah Utara) tersebut sebagai tempat paling tepat untuk menguji daya tahan Malaysia.
  3. Posisi pemerintah Filipina  sangat sulit, satu sisi mendapat kritikan berat dari wilayah otonomi khusus Mindanao pemerintah membantu warganya sendiri lebih penting ketimbang memihak pemerintah Malaysia.
  4. Meskipun  Nur Missuari (ketua MNLF) dan kini menjabat gubernur Mindanao tidak menyetujui pengiriman pasukan Sulu ke Sabah, akan tetapi Nur Missuari menyetujui perjuangan Sulu merebut Sabah secara diplomatis.
  5. Ketua Dewan Komando Islam MNLF Muhajab Hashim melalui Philstar -salah satu media Filipina- pada 7/3 memberikan pernyataan bahwa ribuan orang dari Tawi-tawi dan Jolo dan Sulu telah berminat dikirim ke Sabah. Mereka mempunyai cara mengelabui dan menerobos perbatasan laut Sulu karena sudah berpengalaman.

Dari sisi Malaysia sendiri kita melihat apa yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia adalah sesuatu yang wajar dalam kapasitas sebuah negara menjagaintegritas teritorial dan kedaulatannya dari ancaman dari siapa dan bentuk apapun. Maka dalam eskalasi yang menimbulkan korban 60 gerilyawan Sulu dan 10 polisi Malaysia itu adalah salah satu resiko yang harus dijalankan oleh pemerintah Malaysia.

Meskipun beberapa kalangan menyebutkan bahwa tindakan perdana menteri Najib sangat berlebihan dalam mereduksi pergolakan itu, ini juga bukanlah sesuatu yang patut untuk disoroti, karena setiap negara dan pemerintah punya cara dan gaya masing-masing menjaga teritorialnya dan mempercepat penyelesaian tugas operasi mereka meskipun kadang berhadapan dengan tuduhan pelanggaran HAM dan sebagainya.

Atas dasar kondisi di atas, yang menarik bagi kita adalah apa jadinya jika eskalasi itu berlarut-larut dan meningkat  menjadi peperangan berkelanjutan antara MILF/MNLF (bantuan Filipina) dengan pemerintah Malaysia.

Sementara di satu sisi komunis Malaysia yang selama ini diam seribu bahasa  bisa jadi memperlihatkan tajinya. Pemerintah Malaysia mempunyai segudang sejarah aktifitas makar dan perlawanan Komunis Malaysia dari era darurat militer pertama  yang diterapkan Inggris (1940 -1960) di perbatasan Thailand - Malaysia. Komunis atau PKM masih menjadi salah satu ancaman serius Malaysia.

Kekahawatiran kita adalah eskalasi itu menyerempet ke Indonesia,  ketika ada pihak-pihak yang tak ingin Indonesia - Malaysia berdamai mulai memancing pertikaian kembali di Sebatik dan Nunukan dengan mengatas namakan pelanggaran wilayah oleh Indonesia atau oleh Malaysia.

Kalau ini terjadi, front pertikaian di Malaysia akan berkembang lebih luas dan tak terkendalikan. Perang segi tiga akan terjadi seperti tri sula atau tombak bermata tiga dalam istilah sankskerta atau Trident yang kita kenal dalam film-film barat.

Dalam jangka waktu lama akan berdampak pada runtuhnya laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Malaysia. Tentu kondisi ini tidaklah diharapkan oleh warga dan pemerintah Malaysia juga para tetangga dalam rumpun ASEAN.

Maka dari itu, yang kita harapkan dari pemerintah Malaysia adalah hadapilah “Pekerjaan Rumah” terberat dalam sejarah operasi militer Malaysia itu dengan efektif dan efisien.

Tidak tertutup kemungkinan Indonesia bisa menjadi negosiator perdamaian, karena Indonesia yang selalu dihina dan dikerdilkan oleh Malaysia dengan aneka sebutan rasis, tidak pernah menganggap itu sebagai sebuah halangan untuk menjadikan Malaysia sebagai negara yang bermartabad dan maju di segala bidang.

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: