Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Gie Thok

selalu ingin tahu yang belum tahu

Ketum DPP PKB, Usulkan Pendirian Monumen Gusdur di Singkawang

REP | 18 March 2013 | 15:03 Dibaca: 248   Komentar: 0   0

Ketum PKB/Menakertrans Muhaimin Iskandar menghadiri Festival Cap Go Meh 2013 di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Minggu (24/2/2012), Beliau diundang langsung oleh Pui Sudarman (Ketua Panitia Cap Gomeh Nasional 2013 di Singkawang) sebagai tamu kehormatan. Cak Imin memberikan sambutan dan didaulat secara resmi untuk menutup Festival Cap Go Meh 2013.

Dalam pidatonya , ada beberapa poin yang di sampaikan oleh Cak Imin; sejarah membuktikan bahwa Gusdur sebagai deklarator dan maha guru PKB dan pencetus Imlek di Indonesia. Berkat beliau Gong xi fat chai, barongsai dan cap gomeh dapat dirayakan secara terbuka serta jadi hari nasional. Pada perayaan cap gomeh 2013 , Cak Imin mengusulkan agar Kalbar, khususnya Singkawang secara bersama-sama mendirikan Monumen Gusdur. Hal ini sebagai pusat kesadaran kebhinekaan agar semangat pluralisme yang menjiwai bangsa, sebagai perwujudan untuk menghormati dan meneruskan cita-cita Gusdur, sebagai tongkat spirit pluralism yang mengakui eksistensi etnis Tionghoa di Indonesia.

Saat, Gusdur menjadi presiden RI dengan tegas mencabut Inpres no 14/1967 karena bertentangan dengan UUD 1945. Selama puluhan tahun Inpres ini memasung warga Tionghoa, menjadikan warga Tionghoa menjadi warga kelas dua, Tidak bisa menggelar budaya , berekspresi dan beribadah. Setelah mencabut, Gusdur mengeluarkan Keppres no 6/2000 membuat warga Tionghoa dapat menjalankan kegiatan keagamaan dan lainnya secara terbuka.

Tahun 2001, Gusdur membuat gebrakan dengan menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional fakultatif dan merupakan pertama kalinya digelar perayaan imlek secara nasional yang dihadiri Gusdur selaku presiden RI. Sehingga usulan untuk mendirikan monument Gusdur sangat penting untuk mengenang guru bangsa, setiap generasi paham bahwa Indonesia memiliki tokoh besar, selalu ingat dan meneruskan perjuangan tanpa diskriminasi.

Sesungguhnya antara Tionghoa , kelompok minoritas dan NU memiliki nasib yang sama , sebagai kekuatan yang kuat selama puluhan tahun yang di marginalkan. Gusdur tampil sebagai pendobrak, karena NU dan Tionghoa memiliki hubungan batin yang kuat dengan Gusdur (http://nasional.kompas.com/read/2008/01/30/1847226/Gus.Dur.Ternyata.China.Tulen). Ini menegaskan untuk menegakan pancasila dan rakyat damai.

Setelah festival Cap Go Meh 2013 , Cak Imin akan mengundang bapak/ibu Tionghoa untuk bersama-sama bentuk kepanitiaan pendirian monument Gusdur di Singkawang. Pemerintah daerah , masyarakat dan tokoh setempat menyambut baik hal tersebut. Hal ini di tandakan dengan Pemkot Singkawang sudah siap menyediakan tanah untuk mendirikan monument Gusdur, semoga tahun depan sudah berdiri dan siap menyambut Imlek 2014.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



Subscribe and Follow Kompasiana: