Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Bendera GAM Berkibar, Sebagai Usaha Memerdekakan Diri?

REP | 28 March 2013 | 17:31 Dibaca: 422   Komentar: 4   1

Bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kini sah menjadi bendera Aceh setelah diundangkan dalam lembaran daerah. Bendera bulan bintang itu kini mulai berkibar di sejumlah tempat. Salah satunya di bekas rumah tempat tinggal petinggi GAM almarhum Hasan Muhammad di Tiro di Jalan Pemancar, Lamteumen Timur, Banda Aceh. Sejak pagi, bendera bulan bintang itu terlihat berkibar di halamannya.

Menurut berita yang dikutip dari http://news.okezone.com/read/2013/03/26/340/781894/bendera-gam-resmi-berkibar-di-aceh , bendera tersebut telah dinaikkan mulai Senin (25/3) meskipun hanya setengah hari.

Di Kota Banda Aceh, hingga Selasa (26/3) baru di rumah itu yang naik bendera bulan bintang. Namun, di kantor-kantor pemerintahan atau instansi swasta belum terlihat pengibaran bendera tersebut. Sementara itu, di Aceh Utara, Langsa, Nagan Raya sejak Senin (25/3) sudah mulai berkibar bendera bulan bintang dibeberapa titik. Bahkan di wilayah pantai timur Aceh, warga mulai berkonvoi bersama mengusung bendera yang haram dikabarkan saat konflik dulu.

Tak ada insiden dalam pengibaran bendera itu, meski beberapa di antaranya sempat diturunkan aparat, seperti yang terjadi di Nagan Raya. Bendera bulan bintang dan logo burak singa yang menjadi simbol kebesaran GAM, sudah menjadi bendera dan lambang Aceh menggantikan Pancacita, setelah disahkannya Qanun (Perda) Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh pada 22 Maret lalu.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah resmi menandatangani Qanun pada Senin 25 Maret kemarin. Kepala Biro Hukum Pemerintah Aceh, Edrian, mengatakan, dengan ditandatangani oleh Gubernur selaku Kepala Pemerintahan Aceh, maka Qanun tersebut sah berlaku dan memiliki kekuatan hukum.

Aceh memiliki kewenangan menggunakan bendera dan lambang serta himne khusus atas persetujuan legaslitaf dan eksekutif Aceh, sebagaimana disebut dalam MoU Helsinki dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Dalam Qanun tentang Bendera dan Lambang Aceh disebutkan barang siapa yang merusak atau merendahkan bendera bulan bintang bisa dipidana enam bulan penjara atau denda maksimal Rp50 juta.

Masyarakat mengharapkan dengan disahkannya Qanun Bendera dan Lambang Aceh itu bisa mengakhiri pro kontra yang terjadi selama ini. Apakah usaha tersebut merupakan sebuah usaha tertunda dari para pejuang Aceh merdeka?

Tentu tidak ada yang mengetahuinya. Masyarakat luas khususnya masyarakat Aceh sangat mengharapkan perdamaian dan kedamaian di bumi Aceh. Oleh sebab itu, setiap orang diharapkan mampu menjaga perdamaian, kedaiaman serta keamanan Aceh. Dan yang paling penting adalah Aceh tetap berada dipangkuan Ibu Pertiwi, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ridwan Kamil: “Bandung Teknopolis, Hadiah …

Alvidhiansyah Putra... | | 27 March 2015 | 13:55

Nyeri pada Depresi …

Dr Andri,spkj,fapm ... | | 27 March 2015 | 09:24

Tri Rismaharini Mengalahkan Mark Zuckerberg …

Edi Abdullah | | 27 March 2015 | 14:07

Jadi Pembaca Kritis, Jadi Penulis Kreatif …

Isson Khairul | | 27 March 2015 | 09:36

Melamar Sebagai Penyiar Radio Hanya Modal …

Lastboy T | | 26 March 2015 | 22:06


TRENDING ARTICLES

Risma Masuk 50 Pemimpin Terbaik Dunia, …

Bejo Al-bantani | 4 jam lalu

Janda Muda Diperkosa & Disekap 35 Hari, …

Bambang Setyawan | 4 jam lalu

Sampai Kapan Pun Ahok Akan Diincar …

Lilik Agus Purwanto | 4 jam lalu

Komjen Badrodin Haiti dan Jilbab …

Susy Haryawan | 9 jam lalu

Timnas U-23 Rasa U-19: Terlalu Cepat …

Irwan Rinaldi Sikum... | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: