Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Ulul Rosyad

Menyukai hal yang berbau misteri dan tempat bersejarah. http//www.akarasa.com

Di Petilasan Ini, Bicara Sembarangan Langsung “Kuwalat”

HL | 06 April 2013 | 08:45 Dibaca: 5486   Komentar: 4   2

13651867201128430196

(dok.pri)

Sebenarnya sudah dua kali saya ke petilasan Jipang ini. namun saat yang pertama kali setahun yang lalu, saya sampai pada Desa Jipang ini menjelang maghrib jadi tidak banyak informasi yang saya dapat. Setidaknya sudah cukup untuk mengobati rasa keingintahuan saya pada petilasan yang dalam sejarahnya penuh dengan tumpahan darah tersebut.

Bersama seorang kawan dengan berkendara motor saya meluncur ke petilasan kadipaten Jipang yang terkait erat dengan berdirinya Kerajaan Pajang yang terletak di desa Jipang, Kecamatan Cepu yang kurang lebihnya 50 KM-an arah tenggara Kabupaten Blora, Jawa tengah beberapa bulan yang lalu untuk kedua kalinya. Meski pada saat itu sedang musim kemarau yang lagi terik-teriknya.

Dalam sejarahnya, kadipaten ini lebih terkenal dengan nama Jipang Panolan yang berkedudukan di Desa Jipang yang berada persis di tepi Bengawan Solo, dulu, disamping sebagai pusat pemerintahan sekaligus juga sebagai bandar Perdagangan, kata kuncen yang saya temui. Dan pada saat itu pemimpin Kadipaten Jipang adalah sosok fenomenal yakni Adipati Arya Penangsang dengan kudanya yang konon terkenal sakti, “Gagak Rimang”.

1365186841404189945

juru kunci sedang memandu peziarah

Sisa petilasan kadipaten Jipang Panolan setelah dihancurkan oleh Pajang yang masih ada hingga sekarang antara lain Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore dan Petilasan Masjid. Selain itu ada juga Makam Kerabat Kadipaten waktu itu disebut Makam Gedong, didalam area makan tersebut terdapat Makam R. Bagus Sumantri, R. Sosrokusumo, R.A. Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Admojo.

Kurang lebih 20 meter ditepian Bengawan Solo terdapat Makam Santri Songo yang dibunuh karena diduga mata-mata Pajang, di antara kesembilan makam tersebut menurut kuncennya, ada beberapa nama yang dikenal yaitu, R. Bagus Sulaiman, Ismail, dan Sulastri.

Terbukti petilasan ini banyak juga dikunjungi peziarah, seperti saat saya di lokasi makam tersebut. Ada seorang peziarah yang dipandu oleh juru kunci bertawasul di beberapa makam. Dalam keterangan tutur yang saya dapat dari kuncen yang katannya usianya sudah 80an tahun tersebut, peziarah yang datang ke lokasi ini tak hanya penduduk sekitar Blora dan sekitarnya saja. Namun juga ada yang datang khusus dari Surabaya, Jakarta bahkan dari Kalimantan pun ada. Mereka datang dengan berbagai maksud. Ada yang sekadar ingin mengunjungi dan melihat dari dekat peninggalan sejarah zaman Mataram Islam ini.

13651869631526241946

pohon yang berusia ratusan tahun

Karena hari sudah menjelang Dzuhur dan setelah urusan sang kuncen selesai dengan peziarah yang satu-satunya dan katannya berasal dari Bojonegoro, Jawa timur tersebut. Akhirnya kami berdua diajak mampir kerumahnya dan meneruskan obrolan tentang sosok Arya Penangsang, ikon kadipaten Jipang Panolan.

Dengan disuguhi teh hangat akhirnya dengan dengan menghela nafas panjang dan sangat hati-hati dia mulai bercerita. Yang sebelumnya dia wanti-wanti agar saya tidak salah dalam menulis apa yang diceritakannya. Berikut saya rangkaikan cerita tentang sosok legendaris arya Penangsang dan mitos-mitos lain yang menyertainya….

Arya Penangsang adalah merupakan putra dari Pangeran Sekar Sedalepen, adik dari Sultan Demak yang kedua: Pangeran Pati Unus, dan merupakan anak kedua dari Raden Patah, Sultan Pertama dari Kesultanan Demak Bintoro.

13651870791434570391

juru kunci

Pati Unus hanya sebentar saja menjadi raja di Demak, karena ia kemudian gugur ketika memimpin pasukan yang mencoba mengusir sepasukan bangsa Portugis yang menguasai Malaka. Karena Pangeran Sekar Sedalepen adik kedua dari Pati Unus juga meninggal, akhirnya yang menjadi raja selanjutnya adalah P. Trenggono putra ketiga R. Patah.

Menurut cerita Pangeran Sekar Sedalepen ini meninggal di tepi sungai yang dibunuh oleh prajurit suruhan Pangeran Trenggono adiknya sendiri. Dan ia menghanyutkan anaknya Arya Penangsang yang masih bayi ke sungai agar selamat. Karena peristiwa konspirasi ini, posisi raja di Demak kemudian diambil alih oleh Sultan Trenggono.

Singkat cerita, bayi yang dihanyutkan bapaknya ini kemudian ditemukan Sunan Kudus, ia dinamai Arya Penangsang karena saat ditemukan bayi tersebut tersangkut pada tumbuh-tumbuhan di pinggir sungai (Penangsang atau Temangsang atau tersangkut).

136518716710660120

seorang peziarah sedang

Setelah dewasa Arya Penangsang menjadi Adipati Jipang dan berebut kekuasaan bekas kerajaan Demak dengan Raja Pajang Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir yang memindahkan pusat kerajaan Demak ke Pajang. Jaka Tingkr atau Mas Karebet ini hanya merupakan menantu dari Sultan Trenggono.

Dalam peperangan ini banyak terjadi peristiwa yang hingga kini masih melegenda di masyarakat jipang. Konon, dalam perang itu untuk pertahanan digalilah semacam parit yang mengelilingi jipang lalu dihubungkan dengan Bengawan Solo hingga terbentuk lingkaran sungai mengelilingi pusat kadipaten jipang.

Pada sore hari, karena pengaruh gravitasi bulan, air bengawan solo pasang sehingga parit yang memgelilingi Jipang tadi menjadi penuh. Oleh karena itu parit ini dinamai bengawan sore. Dan mitosnya parit tersebut juga diberi semacam kutukan bahwa siapa yang menyeberanginya akan celaka.

Dan akhirnya kutukan itu memakan tumbalnya yang justru menjadi bumerang bagi Arya Penangsang sendiri. Dengan cerdiknya Ki Juru Mertani seorang penasehat militer pasukan Pajang, meyuruh prajuritnya menunggangi kuda betina di luar sungai Bengawan Sore. Dan saat itu juga Arya Penangsang yang sedang menunggangi kuda jantannya yang terkenal , Gagak Rimang, sedang berada di sisi lain Bengawan Sore.

13651873271558415598

(dok.pri)

Kontan saja si gagak rimang langsung berlari tak bisa dikendalikan oleh Arya Penangsang menyeberangi Bengawan Sore karena tertarik dengan kuda-kuda betina yang ditunggangi prajurit Pajang. Akhirnya terjadilah kejadian pilu tersebut. Terjadi peperangan sengit Arya Penangsang dengan Sutawijaya, salah seorang senapati Pajang, yang membawa tombak pusaka Kerajaan demak, Tombak Kyai Plered.

Cerita terputus karena tiba-tiba ada serombongan peziarah yang meminta diantar oleh juru kunci. Selang hampir satu jam kemudian dia datang namun terlebih dahulu mengurus hewan ternak piaraanya.

“Wis tekan ngendi mau cetane (sudah sampai mana tadi ceritanya) ?” sapanya sambil menghisap kreteknya dalam-dalam.

“Tombak Kyai Plered, Mbah?” jawab saya mengingatkan. Sejurus kemudian cerita sambunganya pun meluncur disela kepulan asap rokoknya.

Sebenarnya Sutawijaya itu sendiri adalah masih terbilang keponakan Arya Penangsang dan pada waktu itu masih muda sekali sehingga Arya Penangsang setengah hati meladeninya dan hanya menangkis serangan-serangan bocah ingusan tersebut dengan tangan kosong. Tanpa menghunus keris saktinya, Keris Setan Kober. Dan dengan Tombak Kyai Plered Sutawijaya dapat merobek perut Arya Penangsang.

Tetapi dengan kesaktiannya arya Penangsang meskipun perutnya robek dan ususnya terburai keluar, tidak sedikitpun merasa kesakitan. Dengan santainya dia mengalungkan ususnya yang terburai pada gagang keris dipinggangnya. Dan dengan kesaktiannya juga Sutawijaya dapat dikalahkan. Namun, Arya Penangsang tidak berniat membunuh keponakannya tersebut, yang diincar adalah Joko Tinggir musuh bebuyutannya.

Sekali lagi, karena Ki Juru Mertani yang banget cerdiknya memanas-manasi Arya Penangsang untuk membunuh Sutawijaya. Akhirnya Aryo Penangsang terprovokasi juga. Dan mencabut keris saktinya setan Kober tersebut. Arya Penangsang lupa bahwa ia masih mengalungkan ususnya dikeris tersebut hingga akhirnya ususnya terpotong lalu meninggal. Tubuhnya lalu dibawa lari oleh kudanya dan lari entah kemana. Hingga saat ini tidak ada yang tahu pasti dimana sebenarnya kuburan Arya Penangsang.

Seperti diketahui dalam sejarah, Sutawijaya di kemudian hari akhirnya menjadi raja pertama Mataram Islam dengan gelar Panembahan Senopati. Dan setelah kekalahan itu tampaknya Jipang tak lagi menjadi pusat kadipaten dan sekarang Jipang hanya sebuah Desa yang tanahnya begitu subur karena Bengawan Solo yang setiap kali selesai banjir meninggalkan lumpur humus yang subur.

Sisa-sisa kraton Kadipaten Jipang saat ini masih begitu menyimpan keangkeran terlihat dari makam gedong yang di kelilingi pohon-pohon besar yang begitu lebat yang sudah berumur ratusan tahun, dab beberapa makam yang dikelilingi kain mori putih. Terlihat sangat angker meskipun pada siang hari.

Sosok Arya Penangsang sebagai penguasa Jipang Panolan sangat dihormati masyarakat Jipang. Karena rasa hormat itu pula, warga setempat sampai tak berani membicarakan tentang Adipati ini yang dibunuh oleh Danang Sutawijaya. Saat pertama kali saya mencari sumber cerita pada penduduk disekitar makam, mereka bungkam dan wanti-wanti agar saya menjaga sopan santun, terutama saat masuk cungkup makam. Ada beberapa pantangan yang tak boleh dilanggar saat berkunjung ke makam. Pantangan tersebut antara lain dilarang membawa benda-benda apapun yang ada dilingkungan makam, bahkan secuil tanah sekalipun.

Kita dianjurkan untuk uluk salam terlebih dahulu saat masuk makam, dan jangan tinggi hati atau menyepelekan hal-hal yang ada di komplek makam. Kalau tidak ingin kualat!

1365187414902836758

(dok.pri)

Mitos-mitos lain yang brkembang di masyarakat jipang terkait dengan Arya Penangsang ini, misalnya ada cerita yang mengatakan bahwa sesekali aliran sungai Sengawan Solo yang berada disekat makam airnya berwarna merah darah. Darah itu diyakini berasal dari darah Arya Penangsang saat terluka terkena Tombak Kyai Plered.Dan tak hanya itu, sesekali terdengar ringkikan kuda tunggangan sanga adipati, “Gagak Rimang” di sekitar an Bengawan Sore. Konon di bekas bengawan Sore tersebut ada pohon kelapa yang dulu ada tempat tambatan si “Gagak Rimang”.

Mitos lain yang tabu bagi masyarakat Jipang adalah menanggap Ketoprak dengan lakon yang mengambil peran “Arya Penangsang” bisa sangat berbahaya.

Karena hari sudah menjelang maghrib, meski cerita yang sebenarnya semakin menarik, kami berdua tetap mohon diri karena kami harus pulang ke Tuban. Akhir kata dari penulis, cerita ini tak lebih dari hanya sekadar cerita tutur. Tentu saja akan banyak yang tidak selaras dengan cerita yang berdasar acuan manuskrip. Hanya ini dulu yang bisa saya sampaikan. Akhir kata mohon maaf jika banyak kesalahan. Matur nuwun…………

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan di Bandara Sydney Ekstra Ketat …

Tjiptadinata Effend... | | 20 November 2014 | 18:49

Ayo! Berswasembada Pangan Mandiri dari …

Luce Rahma | | 20 November 2014 | 20:23

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19

Monas Kurang Diminati Turis Asing, Kenapa? …

Seneng Utami | | 20 November 2014 | 18:55

Seru! Beraksi bareng Komunitas di …

Kompasiana | | 19 November 2014 | 16:28


TRENDING ARTICLES

Islah DPR, Pramono Anung, Ahok, Adian …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Putra Kandias, Kini Ramai Dibully Karena …

Djarwopapua | 9 jam lalu

Ahok, Gubernur Istimewa Jakarta …

Rusmin Sopian | 9 jam lalu

Keberanian Seseorang Bernama Jokowi …

Y Banu | 9 jam lalu

Kesalahan Jokowi Menaikan BBM …

Gunawan | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Inilah 5 Pengedar Gelap Sabu-sabu di …

Seneng Utami | 7 jam lalu

Rindu Sua Denganmu …

Siti Nur Hasanah | 8 jam lalu

Siapa yang Peduli Pada Anak Perempuan yang …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Pentingnya Guru Menulis …

Maria | 8 jam lalu

Grüezie !! Pesona Musim Gugur di Danau …

Cahayahati (acjp) | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: