Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Samandayu

......................................

MUI Tolak Miss World 2013 di Indonesia

REP | 07 April 2013 | 20:25 Dibaca: 5399   Komentar: 58   1

INDONESIA merupakan tuan rumah ajang kecantikan internasional Miss World 2103. Malam final pageant yang dibuat pada awalnya sebagai kontes bikini pada 1951 oleh Eric Morley ini akan diselenggarakan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang diwakili Ketua Bidang Seni Budaya-nya, Cholil Ridwan,  menentang keras Miss World karena ajang tersebut dinilai haram.


Kita tidak pernah lupa bagaimana konser Lady Gaga batal karena MUI mengharamkan. ‘Dibombardir’ media, larangan keras MUI ini sampai ke media luar negeri hingga manajemen Gaga lebih memilih untuk membatalkan. Apakah hal ini akan terjadi pada Miss World? Mengingat keputusuan dijadikannya Indonesia sebagai tuan rumah sudah diputuskan tahun 2012. Segala persiapan pun telah matang, MW akan kedatangan ratusan perempuan cantik dari seluruh dunia untuk menjalani proses karantina pada Agustus 2013.


Miss World Dilarang!

Adalah hal yang wajar jika seseorang yang mengaku berkepentingan berbicara atas nama umat. Meskipun kita suka nanya, umat yang mana dulu, nih? Umat Islam pun ada yang orthodoks atau taat, ada pula yang moderat dan modern (saya pikir keberadaan mereka jauh lebih banyak). Tapi dari kacamata orang MUI, tentu saja Miss World sudah perjara “zinah-zinahan atau ajang pamer-pamer aurat perempuan” yang tentu saja tidak sesuai dengan syariat Islam.

Pandangan ini tentu saja patut dimaklum sebab kita pun harus memosisikan diri jadi beliau-beliau ini. Apalagi mendengar alasannya seperti: “Bogor jangan dikotori oleh (kegiatan) haram dan maksiat, minimal umbar aurat perempuan,” jelas Cholil di hidayatullah.com, 5 April kemarin.

Sementara Ketua MUI Pusat Bidang Kerja Sama dan Hubungan Internasional, Mulyadin Junaedi. Kepada harian Radar Bogor, 5 April kemarin, dia mengatakan bahwa Miss World sangat bergaya hedonisme sehingga tidak cocok dengan budaya bangsa Indonesia. MW dianggap propaganda untuk menumbuhsuburkan ‘budaya’ hedonisme dan matrealisme. Beliau lupa apa bagaimana? Sebelum MW tercium oleh hidungnya dan hidung kelompoknya, budaya hedonisme sudah menggurita, itu pun di kelompok yang punya duit banyak. Ehem, para artis Indonesia (okey, saya sebut sebagian). Dan MUI ini pakah mengkritisi orang-orang “hedon” ini. Dan apakah tolak ukur perilaku hedonisme? Dan seberapa mungkin penyelenggaraan MW memberi pengaruh buruk pada masyarakat televisi? Apakah dengan nonton malam finalnya yang cuma sejam dan non-bikini itu rakyat Indonesia langsung foya-foya kayak kerasukan setan? :) NEXT!

Headline harian lokal.

www.wanasedaju.blogspot.com

Dia juga berkata bahwa MW 2013 sebaiknya diselenggarakan di luar negeri saja. Sementara gubernur Aher bahkan melihatnya dari kacamata kepariwisataan. Sebab dengan menjadi tuan rumah, dunia bisa lebih mengenal Indonesia. Indonesia tidak hanya Bali, tapi banyak tempat dengan keberagaman budaya. Okey, ini sangat klise, seklise seseorang yang melarang sesuatu berdasarkan kadar moral. Asik banget .. NEXT!

Beliau mengatakan bahwa Kota Bogor adalah Bumi Tegar Beriman yang sebaiknya nggak dikotori. Beliau lupa, nggak tahu, atau tutup mata? Bahwa di daerah Stasiun Bogor - Taman Topi, praktek prostitusi bahkan dekat sekali dengan kantor polisi. Itu lebih kotor dari penyelenggaraan MW. Kelihatan memihak? Jelas, dong. Opini gitu looh … NEXT!

Perkara Bikini Lagi

Ajang miss miss-an ini memang identik dengan yang namanya bikini. Untung saja polemik soal perbikinian sudah memudar di tahun 2007-an. Saya pikir MUI atau ormas yang mengatasnamakan agama tertentu, ‘hanya akan’ terlihat jika disinggung. Atau mengkritik dan melarang SESUATU YANG TERLIHAT.  Faktanya kontes bikini di ajang MW hanya ada selama karantina, yaitu dalam program Fast Track, atau penyaringan kontestan di beberapa bidang tertentu.

Vania Larissa, kontestan
Indonesia untuk MW 2013.
kapanlagi.com

Miss World berbeda dengan Miss Universe. Miss World meski kurang prestige dari MU, tapi punya standar penilaian yang jauh lebih “adil, jelas, dan beragam”. Ada penghargaan untuk beauty of purpose (kecantikan karena bakti sosial), sisi olahraga, bakat, dan tentu saja model. Tapi tentu biasanya pemenang MW didasarkan pada siapa “yang paling cantik dan proporsional” secara fisik.

Faktanya malam final Miss World tak ada sesi bikini.

Jadi RCTI sebagai pemilik hak siar dan kreator tidak perlu pakai sensor-sensor segala. Lagipula “bangsa ini sudah rusak” dari berjamurnya konten porno yang gampang akses. Tabloid porno masih eksis, koran-koran kuning dengan judul seksis juga masih berjamur. Ah, kalau gini suka banding-bandngin ke situ, deh. Namanya juga kelompok umat, mereka tak akan memperhatikan semuanya karena keterbatasan diri sebagai manusia. Positifnya, mereka adalah pengontrol dan pengendali sosial. Tapi jangan lupa, negeri ini bukan negeri Islam.

Indonesia Jangan Wakilkan Diri Lagi di Miss World

Astrid Ellena, Top 15 MW 2011

wanasedaju.blogspot.com

Salah satu komentar mumpuni Muhyidin aalah: “Indonesia pun harus menolak mengirimkan perwakilannya ke sana (Miss World). Pemerintah harus memahami suara rakyat karena Kakbah tidak memayungi event-event yang memang direkayasa musuh-musuh Islam”.

Inesh Putri, Top 15 MW 2012

wanasedaju.blogspot.com

Oleh karena bukan negeri bersyariat Islam, kita juga sangat terbuka dengan banyak suara. Tapi karena pemerintah kita juga bukan berkiblat Syariat Islam,maka kacamatanya akan lebih universal. Buktinya negara Arab Saudi tidak pernah mengikutsertakan wakilnya ke ajang beginian. Malaysia yang didalamnya terdapat Islam yang taat pun sudah rutin mengikuti, selama yang menjadi pemenang bukan orang melayu (atau yang bukan penganut Islam) untuk diwakilkan ke Miss Universe.

Sayangnya -atau seperti disengaja (atau kecolongan?) Harian lokal tersebut terkesan membahas hal-hal yang “minus-minus” dari penyelenggaraan Miss World. Lengkap dengan kolom kecil khusus berjudul indah: “Fakta Menarik di Balk Miss World” dengan poin terakhir yang berupa, kontestan Miss USA 1991 yang alih profesi jadi porn star. Mana bagian dua wakil kita yang menang? Tak terlalu cukupkah untuk disentil dikit? :D

Dan sehingga masyarakat awam pun barangkali akan menolak keras MW yang malam finalnya akan diselenggarakan di Bogor. Padahal dua kontestan asal Indonesia sudah dua kali berturut-turut masuk Top 15. Adalah Ines Putri (2012) dan Astrid Ellena (2011).

Score Top 15 MW 2011

wanasedaju.blogspot.com

Score MW 2012

wanasedaju.blogspot.com

Agar terdengar “obyektif” harian tersebut menulis dalam satu paragraf pendek betapa MW punya yayasan sosial, sementara deskripsi “kekurangnnya” tidak jauh lebih sedikit. Contohnya dari perkara mantan pemenang yang dicopot gara-gara banyak kencan, dengan pernyataan yang terbeber yakni : “Sebagai Miss World saya bisa bercinta dengan pria yang saya pilih.”

Majorice Wallce, Pemenang Miss World 1973 yang dicabut kepemangannya
karena dianggap banyak kumpul kebo sama cowok-cowok.
foto: elanecdoctario.com

Namanya juga media elektronik, selalu ada keberpihakan yang dibuat dengan “samar”. Dan sebagai rakyat yang cuma bisa berpendapat, tentulah wajar jika ada kepentingan tertentu juga. Secara Anda-Anda semua kagak sedang baca karya ilmiah. :D

*

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 10 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 11 jam lalu

Psikologi Freud dalam Penarikan Diri Prabowo …

Sono Rumekso | 13 jam lalu

Ke Mana Sebaiknya PKS Pascapilpres? …

Aceng Imam | 13 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: