Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Danny

Menulis adalah buah karya dari sebuah ide ataupun pemikiran.

Truk dan Bus Dilarang Masuk Tol Semarang-Ungaran

OPINI | 16 April 2013 | 09:26 Dibaca: 436   Komentar: 2   1

Pembangunan jalan tol Semarang-Solo, hingga saat ini sudah menyelesaikan satu ruas yaitu Semarang - Ungaran yang sudah dapat digunakan. Anehnya, ruas jalan tol ini justru tidak boleh dilalui oleh truk-truk besar maupun bus-bus besar antarkota dan antarprovinsi. Padahal bagi anda yang tinggal di daerah Semarang, Ungaran, Bawen pasti menyadari bahwa yang membuat jalan utama pantura itu macet dan rusak bukannya mobil dan motor pribadi, melainkan justru kendaraan muatan besar seperti bus dan truk. Dimanapun pembangunan jalan tol dilakukan, pasti tujuan utamanya untuk kelancaran arus lalu lintas, apalagi arus pantura yang merupakan jantung penghubung antar kota dan antar provinsi tersebut.

Setelah mulai beroperasi ruas Semarang - Ungaran, ternyata jalan tol tersebut dibangun di tanah bergerak alias tanah labil, sehingga kendaraan bobot besar dilarang untuk masuk tol. Tentu saja kebijakan ini tidak membuat adanya perubahan untuk mengatasi arus kemacetan di ruas Semarang - Ungaran, atau dengan kata lain pembangunan jalan tol yang cukup lama dinantikan tersebut ternyata hingga kini kurang bermanfaat. Apakah pihak pengelola atau kontraktor tidak mengetahui bahwa jalan tersebut dibangun di atas tanah yang labil ? Bukankah masukan dari pihak ahli dan akademisi sebenarnya sudah mengingatkan hal tersebut ? Lalu mengapa pembangunan jalan tol tetap dilewatkan pada jalur tersebut jika pada akhirnya yang lewat hanya mobil pribadi yang jumlahnya tentu saja tidak signifikan dan mengurangi kemacetan dibandingkan jika yang melewati truk dan bus besar.

Dampak lain dari tidak diperbolehkannya truk dan bus masuk ruas tol Semarang - Ungaran ini, justru membuat jalan utama pantura makin ramai dan jalan menjadi makin bergelombang, karena memang jalan tersebut seharusnya hanya diperuntukkan bagi mobil angkutan umum, mobil pribadi ataupun sepeda motor. Tidak heran jika kerap terjadi kecelakaan di ruas pantura Semarang - Ungaran atau sebaliknya, karena inilah jalur utama bagi para kendaraan dari Solo, Yogya yang ingin menuju ke Jakarta melalui Pantura. Hingga kini, kebijakan pelarangan tersebut lebih banyak dampak negatifnya dibandingkan positifnya, dan juga makin terlihat jelas bahwa tidak adanya rencana yang jelas dalam pembuatan serta pelaksanaan suatu program jangka panjang.

Selain itu juga belum ada kepastian apakah nantinya ruas tol ini boleh dilewati oleh truk dan bus atau tetap seperti sekarang ini kebijakannya. Apapun kebijakan nantinya, semoga saja pemerintah maupun perusahaan swasta yang menangani bidang infrastruktur negeri ini menjadikan pengalaman ruas tol Semarang - Ungaran ini menjadi sebuah pelajaran dan pengalaman sebagai bahan evaluasi.

16 April 2013

Danny Prasetyo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 11 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 13 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 17 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 19 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: