Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Roby Charma

orang biasa dengan pikiran biasa dan tindakan biasa berharap INDONESIA menjadi LUAR BIASA

Jangan Hanya Menghujat UN

OPINI | 20 April 2013 | 14:03 Dibaca: 249   Komentar: 3   0

Akhir-akhir ini semua tayangan berita televisi hampir berisikan mengenai pendapat para ahli, aktifis, pakar, bahkan budayawan mengenai keterlambatan UN… umumnya dan kebenyakan pendapat mereka hanya berisi hujatan dan ketidak senangan terhadap keterlambatan UN, namun semakin didengarkan, diperhatikan isi dari hujatan mereka tersebut semakin lama malah semakin ngawur, ada yang berpendapat untuk tahun depan UN ditiadakan, bahkan RIDWAN SAIDI salah seorang budayawan BETAWI pada saat acara apa kabar indonesia malam yang tayang pada hari jum’at malam tanggal 19 april 2013 mengusulkan akan peserta UN tahun ini diluluskan saja semuanya, ini malah kurang perwawasan yang memberikan pendapat.

UJIAN NASIONAL merupakan salah satu tolak ukur kualitas pendidikan kita di INDONESIA, dari hasil Ujian nasional ini kita akan mengetahui langkah-langkah kedepannya yang harus dilakukan kementrian pendidikan dan kebudayaan untuk menghasilkan generasi muda indonesia yang berkualitas, jika UN dihilangkan atau tidak lagi diselenggarakan, maka apa yang akan menjadi tolak ukur pendidikan nasional kita nantinya, kita tidak boleh munafik bahwa nilai rapor bukan lah nilai murni dari seorang siswa, tetapi dari nilai rapor juga terdapat nilai tugas, dan kasihan dari seorang guru, sehingga nilai rapor tidak akan bisa dijadikan sebagai tolak ukur kemampuan putra-putri bangsa ini.

Beberapa orangpun berpendapat bahwa UN menjadi beban bagi siswa, saya ragu apakan orang-orang berpendapat ini pernah merasakan sekolah diindonesia atau tidak, diindonesia bagi siswa-siswi sekolah apapun yang namanya TEST/UJIAN jika ditanyakan kepada para siswa maka mereka akan menjawab itu adalah beban, bahkan hidup ini adalah beban sehingga jika tidak ingin terbebani ya jangan sekolah, jangan hidup,jadi jika ingin meraih kesuksesan kita harus menghadapi beban itu dan menjalankannya.

Untuk saat ini karena cara untuk mengetahui tolak ukur kualitas pendidikan kita belum ada yang lain maka tidak masalah jika UN tetap dilanjutkan, toh UN bukanlah satu-satunya penentu KELULUSAN siswa. tetapi dari UN kita akan memiliki tolak ukur kualitas pendidikan kita, dan dengan UN juga kita bisa menentukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita.

untuk memperoleh suatu kualitas yang bagus dan baik tidaklah segampang membalikan telapak tangan, butuh waktu, butuh biaya, dan butuh tenaga, namun sepertinya BANGSA KITA tidak akan pernah maju, karena ketika kita tersandung dalam proses peningkatan kualitas kita maka RATUSAN BAHKAN RIBUAN PUTRA-PUTRI BANGSA INI YANG AKAN MENGHUJAN, TOMAS ALVA EDISON mengalami 999 KEGAGALAN tetapi TIDAK SEKALIPUN IBUNYA MENGHUJAN DAN MENJATUHKAN SEMANGAT NYA, namun kali ini dengan metode baru dan sistim baru MENDIKBUD KITA baru mengalami sekali KEGAGALAN Sudah diHUJAT SEMINGGU LEBIH.

BRAVO UN dan MENDIKBUD

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 60 menit lalu

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 13 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 13 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: