Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Soal UN Bocor, 8 Kepsek Ditangkap Polisi

REP | 24 April 2013 | 16:53 Dibaca: 1311   Komentar: 56   3

Ujian Nasional kembali memakan “korban”, seperti diberitakan oleh banyak media 8 (delapan) kepala Sekolah Madrasah Aliyah (MA)  di Banjarbaru Kalimantan Selatan ditangkap Polisi bersama barangbukti berupa fotocopy soal dan 112 lembar kertas kunci jawaban untuk mata pelajaran Ekonomi dan Bahasa inggris hasil fotokopi yang dipenuhi tulisan dan abjad  namun belum sempat dibagikan.

Kedelapan Kepala Sekolah itu ditangkap bersamaan di Ponpes Al Fatah pada pukul 00.30 WITA  atas laporan warga yang menginformasikan ada oknum kepsek-kepsek  MA yang berkumpul dan diduga membagikan bocoran kunci jawaban UN.  Mereka itu adalah kepsek MA Darul Ilmi, kepsek MA Nurul Hikmah, kepsek MA Misbahul Munir, kepsek MA Zam-Zam Zailani, kepsek MA Al Falah Putra, Waka Kurikulum MA Al Falah Putri, kepsek MAN 1 Bangkal Kecamatan Cempaka Banjarbaru dan kepsek MA Miftahul Khairiyah.

Kasat Reskrim Polres Banjarbaru AKP Jatmiko mengatakan kedelapan Kepsek tersebut masih berstatus saksi dan masih dalam tahap pengembangan kasus untuk mengungkap motif terkait dugaan membocorkan jawaban soal ujian tersebut. Namun Jatmiko juga menambahkan meski pun statusnya masih sebagai saksi namun jika terbukti melakukan tindak pidana maka mereka dikenakan melanggar pasal 322 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang membuka rahasia. Isi pasalnya adalah barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpan karena jabatan atau pencahariannya diancam pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda paling banyak Rp 9.000,-

Kepsek MA Zam-Zam Zailani Ari  pada wartawan mengatakan, pihaknya menerima telepon dari kepsek Darul Ilmi pada Senin malam pukul 23.00 WITA untuk mengambil kertas yang diduga kunci jawaban Soal UN, akhirnya pihaknya bersama kepsek MA  lainnya datang pada pukul 00.30 WITA dan saat berada di depan Ponpes Al Falah Putra kami didatangi petugas kepolisian jelasnya. Sampai saat berita ini diturunkan belum jelas apakah kertas-kertas tersebut benar kunci jawaban soal UN ekonomi dan Bahasa Inggris.

Kejadian seperti ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Banjar Baru, kalimantan Timur saja. Diperkirakan hampir 98% sekolah yang mengikuti UN disemua jenjang pendidikan melakukan hal serupa. Modusnya hampir sama dalam satu kabupaten, semua sekolah bekerjasama untuk “mensukseskan” UN apapun caranya. Kecurangan-kecurangan itu antara lain seperti dalam berita ini soal dibocorkan, lalu dibuat tim yang akan menjawab soal dan membuat kunci jawaban kemudian dibagikan pada malam dini hari, untuk dibagikan kepada siswa yang ditunjuk jadi koordinator peruang pada pagi-pagi buta.

Modus lainnya pihak sekolah bekerjasama dengan pengawas ruang untuk “membiarkan” peserta ujian bekerjasama,seperti melihat kunci jawaban,  menggunakan HP, atau menugaskan langsung pengawas itu untuk membantu peserta didik menjawab soal-soal UN.  Bagaimanapun cara pemerintah mengakali dengan membedakan soal hingga 100 paketpun, pihak sekolah tidak akan kehilangan akal agar kelululusan sekolahnya tinggi atau lulus 100%.

Lalu apa sebab musabab semua ini, tidak lepas dari “kekuasaan” juga, sederhanya begini, Kepala Daerah meminta Kepala Dinas Pendidikannya agar kelulusan daerahnya tinggi agar publik percaya dia berhasil menyukseskan pendidikan didaerahnya sebagai salah satu misi politiknya, Kepala Dinasnya tentu tidak mau dipecat atau  kehilangan jabatan kalau tidak mematuhi permintaan itu maka ditekanlah kepala-kepala sekolah didaerahnya untuk mensukseskan “misi” daerah itu, kalau tidak maka akan dicopot, kepala sekolah tentu tidak mau pula dicopot lalu mengkoordinir guru-guru untuk mensukseskannnya kalau tidak diancam dimutasi kedaerah terpencil yang banyak harimau dan buaya ganas..hehe, maka “misi” itupun terpaksa dijalankan, bagaimanapun caranya!

Belum lagi menterinya yang tidak mau tahu dengan semua itu, yang penting uang proyek lancar! Menteri mana yang tidak tergiur dengan perputaran uang milyaran rupiah pertahun setiap pelaksanaan UN. Setidaknya 10% tentu masuk ke kantongnya. Akhirnya penyakit mental ini terus terpelihara di Indonesia tercinta sampai akhir masa! Merdeka!

Sumber: disini

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiprah Ibu-ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | | 27 November 2014 | 07:38

Jakarta Street Food Festival: Ketika Kuliner …

Sutiono | | 27 November 2014 | 11:06

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 5 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 6 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 7 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Dipertanyakan Molornya Pembangunan Dermaga …

Mahaji Noesa | 8 jam lalu

Malunya Tuh Disini (Tepok Jidat) …

Atin Inayatin | 8 jam lalu

Abdi Negara dan Gaya Hidup Sederhana …

Dhita Mona | 8 jam lalu

Kau, Aku, Angin …

Wahyu Saptorini Ber... | 8 jam lalu

Wisata Alam Sejarah Klasik Goa Selomangleng …

Siwi Sang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: