Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Banyumas Maya

Anak desa yang bersahaja mencoba Belajar Menulis Menjadi Pewarta Warga [Citizen Journalism]

Pilkades Beji Lebih Seru daripada Pilkada Banyumas

REP | 28 April 2013 | 15:00 Dibaca: 547   Komentar: 3   0

Banyumas – Pesta rakyat di desa itu lebih meriah dan rame dari pada ajang Pemilihan kepala daerah (Pikada). Terbukti dengan angka partisipasi masyarakat yang begitu banyak saat pemilihan kepala desa (Pilkades) yang berbanding dengan Pemilihan Bupati Banyumas kemarin dengan angka Golput yang cukup tinggi.

1367134420754015942

(calon kepala desa beji di atas panggung / dok. pribadi)

Di Kecamatan kedungbanteng Kabupaten Banyumas, hari ini Minggu Pahing 28 April 2013 ada 2 (dua) desa yang mengadakan Pilkades yaitu Desa Beji (www.beji.or.id) dan desa karang salam kidul. Dari pantauan terlihat tampak begitu banyak warga yang berduyun-duyun ke lapangan tempat pemilihan kepala desa berlangsung.

13671346841823723570

(Bapak Waluyo, Panitia dan tim redaksi portal desa beji.desa.id / dok. sendiri)

Desa beji memiliki 2 (dua) calon kepala desa yaitu Bapak Salikhun dengan lambang kelapa dan Bapak Danar berlambang Padi. Keduanya berasal dari kadus II sedangkan kadus I tidak ada yang mencalonkan diri. Keduanya tampak tegang berada di atas panggung sambil melihat aktifitas para warga masyarakat memberikan hak suaranya.

Bapak Waluyo selaku panitia dan tim branding logo Panitia Pemilihan Kepala Desa mengaku sangat bangga pada warga masyarakat. Terlihat dengan banyaknya angka partisipasi warga untuk memberikan hak suaranya guna menentukan arah kepemimpinan Desa beji mendatang.

Prosedur pemilihan kepala desa yaitu dengan membawa surat undangan yang telah diberikan panitia kepada pemberi hak suara, diberikan ke petugas di pintu masuk yang jumlahnya sebanyak 14 yaitu berdasarkan RW dan setelah di validasi nama yang tercantum dengan data yang ada di panitia maka diberikan Surat suara dan langsung menuju tempat yang disediakan. Berderet begitu banyak tempat untuk memberikan suara dengan cara mencoblos pada lambang yaitu antara kelapa dan padi.

Setelah memberikan suara di lipat kembali dan dimasukan ke dalam kotak suara yang tersedia di tengah-tengah lapangan. Sebagai tanda sudah memberikan suara diberi tanda di tangan dengan tinta stempel. Itulah rangkaian dalam memberikan suara di pilkades beji dan selanjutnya keluar melalui pintu yang telah di sediakan.

Pemberian hak suara mulai jam 08.00 dan berakhir pada pukul 14.00 WIB. Selanjutnya penghitungan suara yang disaksikan warga masyarakat desa beji tutur pak waluyo yang juga merupakan tim redaksi websitewww.beji.or.id anggota gerakan desa membangun (GDM).

Pak Sulaeman (34) menuturkan sangat senang bisa memberikan hak suaranya untuk memilih kepala desa. Lebih semangat karena akan berpengaruh banyak terhadap aktifitas dan kegiatan di desa beda dengan pilkada yang biasanya hanya mengumbar janji belaka.

Suasana semakin siang, panas semakin menyengat namun para warga tetap antusias untuk memberikan hak suara dan menanti penghitungan suara. Para pedagang juga ikut mengais rejeki dalam ajang pemilihan kepala desa. Banyak sekali pedagang makanan, mainana, asesoris dan berbagai hiburan anak-anak ikut meramakaikan suasana pilkades di Beji Kedungbanteng.

Situasi yang sama juga terjadi di desa karangsalam kidul, warga masyarakat memadati lapangan hijau walaupun panas dan berkeringat mereka tetap semangat. Untuk calon kepala desa di karangsalam kidul jauh lebih banyak dibandingkan di desa beji.

Pada tahun ini tidak ada yang namanya bagi-bagi amplop untuk warga yang memberikan suara. Ini pertanda ada niatan untuk merubah cara pandang masyarakat atas uang yang diberikan saat pemilihan kepala desa. Memang pada tahun sebelumnya walaupun jumlah tak seberapa masih ada, itu ibarat untuk ganti biaya transportasi ucap pak budi (36) sambil memberikan opini yang cukup panjang.

Itu tidak melanggar aturan yang ada karena pemberian uang pada pilkades sebelumnya memang atas persetujuan semua calon dan itupun juga di gotong bersama. Namun pada tahun ini tidak ada sama sekali sebagai implementasi reformasi birokrasi. #loh… kok bisa? Ya kalau saat awal pemilihan sudah bagi-bagi uang banyak, atau mengeluarkan banyak maka kemungkinan banyaka akan berpikiran bagaimana cara mengembalikan modal. Berbeda dengan calon yang memang bertujuan untuk mengabdi kepada masyarakat.

Ajang Pilkades ini merupakan pesta rakyat dimana semua warga masyarakat bisa memberikan suara dan bertemu bersilaturahmi dalam satu tempat di ajang Pemilihan kepala Desa. Antusias warga masyarakat desa begitu tinggi dalam pesta demokrasi ini jika dibandingkan dengan pilkada banyumas. sama halnya dengan prediksi angka golput pilkada jateng juga akan semakin meningkat. Karena jauhnya akses ke provinsi serta begitu jauh jarak antara rakyat dan Gubernur. Semoga pilkades tahun 2013 ini bisa menghasilkan kepala desa yang bijak dan pro dengan rakyat. Selamat menghitung bagi para panitia dan petugas. Selamat berkahir pekan sobat kompasiana. Salam hangat dari desa :-)

#Nasib koneksi di desa, untuk posting begitu sulit…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 9 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 12 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 13 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi & The Magnificent-7 of IndONEsia …

Sam Arnold | 8 jam lalu

Diperlakukan-Dikerjain-Anda Bagaimana? …

Astokodatu | 8 jam lalu

Pelajaran dari Polemik Masril Koto …

Novaly Rushans | 8 jam lalu

Kemana Hilangnya Lagu Anak-anak? …

Annisa Ayu Berliani | 9 jam lalu

[Nangkring Cantik] Cantik itu harusnya luar …

Bunda Ai | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: