Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Banyumas Maya

Anak desa yang bersahaja mencoba Belajar Menulis Menjadi Pewarta Warga [Citizen Journalism]

Pilkades Beji Lebih Seru daripada Pilkada Banyumas

REP | 28 April 2013 | 15:00 Dibaca: 543   Komentar: 3   0

Banyumas – Pesta rakyat di desa itu lebih meriah dan rame dari pada ajang Pemilihan kepala daerah (Pikada). Terbukti dengan angka partisipasi masyarakat yang begitu banyak saat pemilihan kepala desa (Pilkades) yang berbanding dengan Pemilihan Bupati Banyumas kemarin dengan angka Golput yang cukup tinggi.

1367134420754015942

(calon kepala desa beji di atas panggung / dok. pribadi)

Di Kecamatan kedungbanteng Kabupaten Banyumas, hari ini Minggu Pahing 28 April 2013 ada 2 (dua) desa yang mengadakan Pilkades yaitu Desa Beji (www.beji.or.id) dan desa karang salam kidul. Dari pantauan terlihat tampak begitu banyak warga yang berduyun-duyun ke lapangan tempat pemilihan kepala desa berlangsung.

13671346841823723570

(Bapak Waluyo, Panitia dan tim redaksi portal desa beji.desa.id / dok. sendiri)

Desa beji memiliki 2 (dua) calon kepala desa yaitu Bapak Salikhun dengan lambang kelapa dan Bapak Danar berlambang Padi. Keduanya berasal dari kadus II sedangkan kadus I tidak ada yang mencalonkan diri. Keduanya tampak tegang berada di atas panggung sambil melihat aktifitas para warga masyarakat memberikan hak suaranya.

Bapak Waluyo selaku panitia dan tim branding logo Panitia Pemilihan Kepala Desa mengaku sangat bangga pada warga masyarakat. Terlihat dengan banyaknya angka partisipasi warga untuk memberikan hak suaranya guna menentukan arah kepemimpinan Desa beji mendatang.

Prosedur pemilihan kepala desa yaitu dengan membawa surat undangan yang telah diberikan panitia kepada pemberi hak suara, diberikan ke petugas di pintu masuk yang jumlahnya sebanyak 14 yaitu berdasarkan RW dan setelah di validasi nama yang tercantum dengan data yang ada di panitia maka diberikan Surat suara dan langsung menuju tempat yang disediakan. Berderet begitu banyak tempat untuk memberikan suara dengan cara mencoblos pada lambang yaitu antara kelapa dan padi.

Setelah memberikan suara di lipat kembali dan dimasukan ke dalam kotak suara yang tersedia di tengah-tengah lapangan. Sebagai tanda sudah memberikan suara diberi tanda di tangan dengan tinta stempel. Itulah rangkaian dalam memberikan suara di pilkades beji dan selanjutnya keluar melalui pintu yang telah di sediakan.

Pemberian hak suara mulai jam 08.00 dan berakhir pada pukul 14.00 WIB. Selanjutnya penghitungan suara yang disaksikan warga masyarakat desa beji tutur pak waluyo yang juga merupakan tim redaksi websitewww.beji.or.id anggota gerakan desa membangun (GDM).

Pak Sulaeman (34) menuturkan sangat senang bisa memberikan hak suaranya untuk memilih kepala desa. Lebih semangat karena akan berpengaruh banyak terhadap aktifitas dan kegiatan di desa beda dengan pilkada yang biasanya hanya mengumbar janji belaka.

Suasana semakin siang, panas semakin menyengat namun para warga tetap antusias untuk memberikan hak suara dan menanti penghitungan suara. Para pedagang juga ikut mengais rejeki dalam ajang pemilihan kepala desa. Banyak sekali pedagang makanan, mainana, asesoris dan berbagai hiburan anak-anak ikut meramakaikan suasana pilkades di Beji Kedungbanteng.

Situasi yang sama juga terjadi di desa karangsalam kidul, warga masyarakat memadati lapangan hijau walaupun panas dan berkeringat mereka tetap semangat. Untuk calon kepala desa di karangsalam kidul jauh lebih banyak dibandingkan di desa beji.

Pada tahun ini tidak ada yang namanya bagi-bagi amplop untuk warga yang memberikan suara. Ini pertanda ada niatan untuk merubah cara pandang masyarakat atas uang yang diberikan saat pemilihan kepala desa. Memang pada tahun sebelumnya walaupun jumlah tak seberapa masih ada, itu ibarat untuk ganti biaya transportasi ucap pak budi (36) sambil memberikan opini yang cukup panjang.

Itu tidak melanggar aturan yang ada karena pemberian uang pada pilkades sebelumnya memang atas persetujuan semua calon dan itupun juga di gotong bersama. Namun pada tahun ini tidak ada sama sekali sebagai implementasi reformasi birokrasi. #loh… kok bisa? Ya kalau saat awal pemilihan sudah bagi-bagi uang banyak, atau mengeluarkan banyak maka kemungkinan banyaka akan berpikiran bagaimana cara mengembalikan modal. Berbeda dengan calon yang memang bertujuan untuk mengabdi kepada masyarakat.

Ajang Pilkades ini merupakan pesta rakyat dimana semua warga masyarakat bisa memberikan suara dan bertemu bersilaturahmi dalam satu tempat di ajang Pemilihan kepala Desa. Antusias warga masyarakat desa begitu tinggi dalam pesta demokrasi ini jika dibandingkan dengan pilkada banyumas. sama halnya dengan prediksi angka golput pilkada jateng juga akan semakin meningkat. Karena jauhnya akses ke provinsi serta begitu jauh jarak antara rakyat dan Gubernur. Semoga pilkades tahun 2013 ini bisa menghasilkan kepala desa yang bijak dan pro dengan rakyat. Selamat menghitung bagi para panitia dan petugas. Selamat berkahir pekan sobat kompasiana. Salam hangat dari desa :-)

#Nasib koneksi di desa, untuk posting begitu sulit…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sensasi Mudik Melintasi Jalan Daendels yang …

Hendra Wardhana | | 23 July 2014 | 16:32

10 Keunikan Ramadhan di Turki …

Wardatul Ula | | 23 July 2014 | 15:32

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 6 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 7 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 11 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 11 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: