Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Wjogja

Berani hidup dan berani mati, berani senang dan berani susah, berani sukses dan berani gagal. selengkapnya

Kelemahan e-KTP kita jika bener pakai RFID, Membuka Peluang Kejahatan

OPINI | 07 May 2013 | 18:55 Dibaca: 1186   Komentar: 12   1

Suatu hari di Pintu Keluar Bandara Soekarno Hatta:

“Maaf, apakah ini dengan Mbak Shinta?”

“Ya? Benar” Shinta agak terheran

“Selamat Ulang Tahun Mbak…”

“Ehm… maaf, Masnya ini siapa ya ?”

“Ah, mosok lupa sama saya… Saya kan anaknya Eyang Subooer. Ok, nanti saya jelaskan. Saya ditugasi menjemput Mbak Shinta untuk mengantar ke Solo, silahkan…”

“Ehm… ??? ┬áBingung???” Akhirnya ikut juga karena merasa sudah kenal.

Mobil Fortuner itu langsung meluncur ke kota Jakarta membawa Shinta, dengan umur 18 tahun, dengan tanggal lahir 07 Mei, status single, tempat lahir solo, dengan alamat jl solo no 03 rt3 rw1 Surakarta.

Semua data Shinta terdeteksi, semua data ditelanjangi oleh Penjahat yang menggunakan Ultrascanner yang mendeteksi RFID yang terdapat dalam KTP Shinta dari jarak jauh.

Shinta yang TKW dari Saudi ini tertipu luar dalam! Gara-gara e-ktp dengan teknologi RFID (Contacless).

Teknologi scanner nantinya tidak hanya dimiliki kecamatan atau kelurahan, tetapi juga Bank, baik Bank Besar maupun Bang Subor tentunya. Dikominasi dengan Ultrascanner, teknologi ini bisa digunakan polisi keamanan maupun penjahat!

Jika bener kata Pak Mentri bahwa e-ktp pakai RFID, itulah resikonya. Privasi ditelanjangi!

Suatu saat mungkin e-ktp akan ditarik lagi bila bener pakai RFID.

Lalu, anggarannya bagaimana ?

Seharusnya lebih aman menggunakan teknologi yang dipakai KARTU KREDIT INTERNATIONAL atau cukup dengan magnetik.

Bank tidak akan berani menggunakan RFID! Data Nasabah bisa dibobol dari jarak jauh.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 12 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 15 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 16 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 17 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: