Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Jefri Hidayat

domisili di Sumbar, lajang, 30 tahun. Twitter @jefrineger

Ketika Politisi (Taufik Syukur) Memikirkan Generasi

REP | 07 May 2013 | 20:43 Dibaca: 178   Komentar: 0   1

Filosofi menulis “politisi memikirkan pemilu ke depan. Namun, negarawan selalu menyiapkan Generasi yang akan datang.”Tapi politisi Golkar Taufik Syukur bertolak belakang dengan ucapan filsuf tersebut. TS, begitu nama yang sering dipanggil oleh koleganya, lebih memperhatikan generasi penerus. Ketimbang sibuk mengurus pemilu 2014, yang tinggal satu tahun lagi. Alasanya, agar anak-anak tetap merasa ada banyak orang yang begitu perhatian kepada mereka. Kebetulan, anak-anak tersebut tidak mempunyai Ibu atau Bapak.

“Kitalah yang seharusnya memposisikan diri sebagai pelindung mereka, orang tua asuh mereka. Sehingga, mereka (anak-anak) itu mempunyai kepercayaan diri, semangat hidup untuk melanjutkan cita-citanya,”ucap Ketua Komisi III DPRD Dharmasraya disela-sela silaturahim dengan anak yatim sambil menatap ratusan anak-anak kurang mampu itu se IV koto Pulau Punjung. “Masa depan mereka seyogyanya, tanggung jawab kita bersama. Apalagi, saya sebagai wakil rakyat,”katanya.

Bersama sang Istri, Supina Taufik, mereka berbaur dan mencoba memberikan setetes kebahagian kepada ratusan anak yatim. Dihadapan beberapa tokoh masyarakat Pulau Punjung, TS menyebut bahwa apa yang ia lakukan bukanlah sesuatu yang hebat dan menajubkan. Tapi lebih pada sebuah kewajiban sebagai pemeluk Agama Islam.

“Jika bicara nilai, masih banyak kok orang yang menyumbang malahan nilai sangat besar. Tapi inikan panggilan agama, wajib untuk dilaksanakan. Kebetulan saya merasa mampu untuk melakukan itu, walaupun masih sangat sedikit,”terang Taufik sambil mengutip tafsiran Hadist yang disampaikan para ahli agama.

Namun, tidak semua hal baik mendapat tanggapan positif. Ibarat kata pepatah minang”Masjid bana nan kito buek, dimato urg alun tantu musajik.”Begitu juga reaksi masyarakat. Ada yang berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh Anggota DPRD yang cukup menonjol ini lantaran mendekati pemilu legislatif. Tapi perlu dicatat bahwa TS tidak lagi mencalonkan diri menjadi anggota DPRD priode mendatang. Hal tersebut terlontar dari Statemen Ketua Pemuda Nagari setempat yang menyempatkan diri hadir dalam acara silaturahim itu.

“Terimakasih atas peratian bapak taufik syukur. (Acara) ini tdk ada unsur apa-apa. (Lantaran) Bapak taufik ini tidak (periode)caleg tahun ini, tapi beliau memperhatikan kita disini, kami bangga dengan apa yg dilakukan oleh putra daerah dharmasraya ini terhadap kami,”ujar Edi Wan Bur dalam sambutannya.

Taufik Syukur menambahkan, dalam kehidupan sosial kemasyarakatan selalu ada pro dan kontra, hal itu biasa, lumrah dan lazim. Juga, kata TS, menandakan masyarakat Dharmasraya sudah cerdas, kritis dan pintar. Namun, jika berpatokan dengan yang kontra, tentu sesuatu yang menurutnya baik tidak terlaksana.

“Kalau setiap yang dilakukan memikirkan respon orang lain tentu kita akan jalan ditempat. Padahal kita tahu dalam hidup ini ada yang suka dan tidak. Baik dan buruk. Soal manfaat, biar masyarakat yang menilai. Soal amalan itu kuasa Tuhan,”ujarnya menerangkan dengan bahasa yang religius

Sebelumnya, Taufik Syukur digadang-gadangkan banyak pihak sebagai calon kuat Bupati Dharmasraya. Ketika dikonfirmasi tentang kebenaran berita tersebut, bapak dua anak ini kembali mengelak. “Itu kan, (pertanyaan yang sama)diulang-ulang lagi. Seingat saya, pertanyaan ini sudah ada lima kali,”ujar TS sembari tersenyum.

Katanya, dia lebih tertarik diwawancara masalah pendidikan, pembangunan dan Infrastruktur serta kebutuhan dasar masyarakat Dharmasraya. Apalagi, lanjut TS, sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) selaku Anggota dewan yang dimandatkan rakyat Dharmasraya di Komisi III yang membidani pendidikan dan pembangunan.

“Sekali-kali kita ngobrol tentang peningkatan mutu pendidikan. Apalagi, sekarang lagi bersama anak-anak jadi cocok (bicara pendidikan). Atau kita Bicara pembangunan, sejauh mana pembangunan ini dirasakan oleh masyarakat. Itu baru mantap. Cocok juga dengan Komisi III,”terang TS lagi menutup pembicaraan dan tak lupa mengundang kerumah untuk berdiskusi.

Acara sosial yang bertajuk “silaturahim dengan anak yatim piatu” yang berlangsung dua hari (Minggu, 05/05) yang lalu itu dihadiri Raja Pulau Punjung, Tuanku Sati. Ustad kondang, Jonika Amdodi, tokoh masyarakat dan pemuda, serta kepala jorong se Kenagarian IV Koto Pulau Punjung. “Semoga menjadi inspirasi bagi orang mampu Dharmasraya lainnya,”celutuk laki-laki paruh baya setengah berbisik. (Sumber ; Dharmasraya Ekspres)

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelajaran Akan Filosofi Hidup dari Pendakian …

Erik Febrian | | 18 April 2014 | 10:18

Memahami Penolakan Mahasiswa ITB atas …

Zulfikar Akbar | | 18 April 2014 | 06:43

Kalau Sudah Gini, Baru Mau Koalisi; …

Ali Mustahib Elyas | | 18 April 2014 | 11:32

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 9 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 10 jam lalu

Senjakala Operator CDMA? …

Topik Irawan | 11 jam lalu

Tips Dari Bule Untuk Dapat Pacar Bule …

Cdt888 | 12 jam lalu

Seorang Ibu Memaafkan Pembunuh Putranya! …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: