Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Rafli Hasan

columnist, urban traveler, blogger

Mimpi Kabir Si Orang Aceh

OPINI | 13 May 2013 | 09:43 Dibaca: 669   Komentar: 0   1

136841033365234953

Sumber:http://atjehlink.com/munafik-berbingkai-zikir/

Ketika pada masa kampanye Pemilukada Aceh lalu, rasanya belum hilang dari ingatan kita betapa para kandidat yang berlaga mengumbar berbagai janji dan program “pro rakyat” untuk menarik dan mendulang dukungan dan simpatisan warga Aceh. Sebagian janji-janji itu sebenarnya saling mirip satu sama lain dan hampir tak ada perbedaan yang signifikan, sebab ketika itu semuanya berfikir untuk memperoleh dukungan rakyat. Akhirnya rakyat Aceh memilih pasangan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur bumi Serambi Mekah. Program pro rakyat pasangan Zakir pun kini mulai dipertanyakan setelah hampir setahun mereka menjabat.

Ketika itu, pasangan “ZIKIR” kerap kali menyebutkan bahwa akan membangun Aceh bagaikan Brunei Darussalam yang kaya, modern dan Islami. Demikian juga halnya dalam lain kesempatan akan membuat Aceh sebersih dan semodern negara tetangga Singapura. Memberikan pendidikan layak dan gratis kepada anak-anak Aceh dari SD hingga perguruan tinggi, 1juta/kk, pengobatan gratis dan sebagainya. Mimpi kehebatan dan kejayaan Aceh mungkin bertambah lagi ketika Wagub Aceh, Muzakkir Manaf baru-baru ini berkunjung ke “Negara Mimpi” Uni Emirates Arab yang terkenal dengan gedung-gedung pencakar langit yang mewah dan pulau-pulau reklamasi yang indah.

Mimpi memang indah dan tak terbatas, apalagi ditambah dengan kenikmatan bebas biaya dan pajak. Namanya juga mimpi. Namun terlepas dari mimpi yang melambung tinggi, seorang Kabir bermimpi lebih sederhana daripada seorang Zaini ataupun Muzakkir. Kabir adalah nelayan yang saya temui di kawasan Julok, Aceh Timur. Ia keluarga biasa dan sangat sederhana di Aceh, memiliki satu istri dan 4 orang anak yang masih terbilang kecil-kecil. Penghasilan yang ia perolehpun sangat pas-pasan dengan hanya bersumber dari pekerjaannya sebagai seorang nelayan. Ketika saya bertanya apa yang menjadi mimpinya selama ini, ia menjawab sederhana bahwa ia menginginkan kehidupan yang layak dengan pekerjaannya, punya uang untuk berobat jika anak-anaknya sakit dan biaya itu tidak mengakibatkan dirinya bangkrut, anak-anaknya dapat memperoleh pendidikan yang baik meskipun ia tidak kaya, ingin merasa aman dan bebas dari rasa takut maupun intimidasi apalagi teror, ia ingin air yang jernih, udara yang bersih dan waktu untuk melihat anak-anaknya tumbuh serta ketika ia sudah tua ia dapat berhenti dari pekerjaannya dengan layak dan terhormat.

Kabir si Orang Aceh ini, tidak bermimpi memiliki negeri seperti Brunei Darussalam ataupun Singapura. Ia hanya memiliki keinginan yang cukup sederhana dan logis. Ia tidak minta untuk menjadi kaya ataupun hidup berlebihan seperti para elit yang menduduki birokrasi dan legislatif Aceh seperti saat ini. Mimpinya sederhana dan hampir pasti menjadi mimpi 5 juta rakyat Aceh lainnya dimana 900 ribu lebih masih hidup di bawah garis kemiskinan dan ratusan ribu lainnya masih menganggur. Mimpi yang mungki sama dengan ratusan juta  rakyat Indonesia lainnya yang terabaikan dan mungkin juga masyarakat di dunia.

Kesederhanaan dalam berharap inilah yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Aceh untuk memperbaiki kinerjanya selama ini yang terbilang tidak hanya jauh dari janji-janji politiknya namun jauh dari kepentingan rakyat. Fokus dan prioritas pemerintah Aceh perlu kembali kepada track yang benar agar tidak tersesat dan terjebak dalam hegemoni-hegemoni kelompok seperti yang selama ini ditampilkan oleh Pemerintah Aceh. Setidaknya seorang Kabir dapat hidup lebih baik di tahun yang akan datang, syukur-syukur ia memiliki perahu nelayan sendiri yang ia peroleh melalui kredit lunak yang diberikan Pemerintah.

Rafli Hasan, Julok 2013

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 8 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 9 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 10 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Photo-Photo: “Manusia Berebut Makan …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kisruh di DPR: Jangan Hanya Menyalahkan, …

Kawar Brahmana | 8 jam lalu

Saran Prof Yusril Ihza Mahendra Kepada …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Korupsi yang Meracuni Indonesia …

Cynthia Yulistin | 8 jam lalu

MA Pasti Segera Bebas, Karena Kemuliaan …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: