Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Mania Telo

@ManiaTelo : Mengamati kondisi sosial,politik & sejarah dari sejak tahun 1991

Orang Miskin Jakarta,Tahu Dirilah!

OPINI | 23 May 2013 | 18:39 Dibaca: 1863   Komentar: 10   2

Ucapan Wagub DKI Jakarta,Ahok yang sangat terkenal saat ini adalah “Kalau miskin,tahu dirilah…” ; Diucapkan oleh Ahok ketika dia berang melihat warga yang tinggal dan menempati area waduk Pluit yang merupakan tanah negara tidak mau pergi meninggalkan lokasi tersebut dan bahkan ada yang minta ganti rugi segala,padahal Pemprov DKI Jakarta sudah begitu berbaik hati untuk mencarikan solusi bagi mereka untuk “hidup layak” ; Tetapi tuntutan sebagian warga itu memang dirasakan sudah tidak masuk di akal sehat.

Sambil guyonan,beberapa teman mengatakan,”Emang ada orang miskin bisa berakal sehat? Boro-2 mikir yang begituan,mikir untuk cari sesuap nasi dan mengisi perut saja sudah kecapekan…” ; Tetapi teman yang satu lagi berkata agak serius,” Eh,tapi kenapa mereka mau terus miskin ya…? Padahal pemerintah berkewajiban mensejahterakan rakyat miskin,apakah mereka (orang miskin) itu yang tetap memelihara “kemiskinan” untuk tujuan “mengemis bantuan” ataukah karena mereka malas tidak mau berupaya untuk keluar dari kemiskinan….? Bukankah program-2 pengentasan kemiskinan pemerintah cukup banyak? Contohnya transmigrasi,dsb….!”

Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan teman itu,sebab analisanya bisa panjang lebar dari segi sosial,budaya dan politik. Tetapi apa yang dikerjakan oleh Jokowi-Ahok sebenarnya sudah bagus,yaitu mereka mau menata warga miskin di DKI Jakarta. Cuman warga miskin yang mau ditata itu koq jadi “belagu” dan adu otot,bahkan mau di provokasi untuk mengadu ke Komnas HAM segala. Jadi,wajar saja kalau Wagub Ahok dengan gayanya yang khas berkata “Sudah miskin,tahu dirilah…”
Memang tidak ada terlihat Jokowi-Ahok mau menggusur warga miskin untuk keluar dari DKI Jakarta,tetapi kalau semua lahan negara menjadi area semrawut di Jakarta dan dikuasai oleh orang-2 yang tidak tahu diri,maka urbanisasi ke Jakarta setiap hari akan terus meningkat dan mereka akan menempati lahan-2 kosong,sampai ke kolong jembatan atau tol…! Mereka akan menjadi parasit yang harus diurusi oleh Pemprov DKI Jakarta dan Pemerintah Pusat hanya “hahahihi” pura-2 tidak tahu menahu….!

Kalau apa yang dikerjakan oleh Jokowi-Ahok itu bagus sekali,kenapa Pemerintah Pusat terkesan tidak mendukung sama sekali langkah-2 Jokowi-Ahok…? Mereka malah menggunakan kaki tangannya untuk supaya warga miskin tersebut ke Komnas HAM mengadukan nasibnya warga miskin yang tergusur. Seharusnya Pemerintah Pusat justru menawarkan program transmigrasi bagi warga miskin Jakarta,karena mereka mempunyai akses ke daerah-2 di luar propinsi DKI Jakarta.

Warga Miskin di DKI Jakarta sepertinya salah alamat bila terus menerus menuntut ke Jokowi-Ahok,sebab sebagian besar dari mereka juga tidak punya KTP Jakarta,tetapi mereka menuntut tinggal di Jakarta…! Kalau bukan warga Jakarta,kenapa menuntut ke Gubernur DKI Jakarta..? Bukankah sebaiknya mereka ke Mensos RI atau ke Menakertrans RI untuk bisa dientaskan kemiskinannya sebagai warga negara Indonesia…?
Waktu menjumpai seorang warga dari daerah lain yang bekerja di DKI Jakarta dan belum punya kartu identitas DKI Jakarta,orang tersebut juga mengeluhkan sikap warga miskin di DKI Jakarta yang tidak punya KTP Jakarta kemudian secara liar menduduki lahan-2 yang bukan miliknya dan bahkan kemudian membangun bangunan permanen tanpa IMB. Dia menyebutkan,kalau tidak ada “skill” untuk tinggal di Jakarta,kenapa harus memaksakan diri untuk tinggal di Jakarta? Dia pun harus mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk sewa apartemen,bekerja dari pagi sampai malam dan bergelut dengan kemacetan tiap hari ; Sedangkan warga miskin yang tidak mempunyai “skill” malah kadang hidupnya tidak bekerja tiap harinya,mereka hanya bermain-main di lahan yang bukan miliknya,mengemis bantuan dan bikin kerawanan sosial lainnya,koq tidak tahu diri ya…?

Teringat sebuah kalimat yang bagus yang barangkali perlu direnungkan oleh warga miskin yang malas “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata. Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong, yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran…..”

Orang miskin dengan gambaran seperti itulah yang membuat Wagub Ahok dan orang-2 yang bekerja dengan susah payah di Jakarta,subuh berangkat kerja dengan iringan macet,pulang larut malam juga dengan iringan macet,menyewa apartemen/rumah kost/rumah sendiri di pinggiran kota Jakarta. Eh,itu warga miskin yang pemalas dan yang bekerja serabutan atau punya pekerjaan tetap koq enak-enakan mau menduduki lahan negara di tengah kota Jakarta dan tidak mau dipindahkan dengan alasan dekat dengan tempat tinggalnya,dll. Kasarnya,”…emang eloe siape…?”

Maka,tak heran di komentar-2 yang ada di media,mayoritas warga Jakarta mendukung Ahok untuk terus membenahi Jakarta. Komnas HAM pun disikat dengan komentar-2 miring,karena tidak tahu masalahnya tapi berlaku seperti pahlawan kesiangan ; Kalau memang miskin,tahu dirilah…..!

Tips bagi kaum miskin di Jakarta :
Pergilah bertransmigrasi ke luar P.Jawa,disana banyak lahan yang bisa disediakan oleh Pemerintah Pusat untuk menjadi daerah baru. Bekerjalah giat siang-malam di daerah baru tersebut. Kalau anda sukses,maka kembalilah ke Jakarta untuk membeli properti yang sudah mahal tetapi mampu anda beli…!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 7 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 7 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 8 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 13 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Gerakan Desa Membangun: Sebuah Paradigma …

Yulio Victory | 7 jam lalu

Berbagai Pandangan “Era Baru Polri Dibawah …

Imam Kodri | 7 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 7 jam lalu

Pak Anies, “Tolong Selamatkan …

Nur Fatma Juniarti | 7 jam lalu

Resensi Buku Revolusi dari Desa: Saatnya …

Marya Rasnial | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: