Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Ama Kaka

Mundur dari hiruk-pikuk Kompasiana untuk menenangkan diri.

Quick Count Ditolak di NTT

REP | 24 May 2013 | 12:19 Dibaca: 419   Komentar: 8   3

NB: Sebelum membaca, sebaiknya Anda klik videoklip lagu pop daerah NTT yang sangat terkenal: BAE SONDE BAE.

Pemilihan gubernur Nusa Tenggara Timur berlangsung pada Kamis, 23 Mei 2013. Pilgub putaran kedua ini mempertemukan gubernur sekarang, Frans Lebu Raya, dan Esthon Foenay, wakil gubernur sekarang. Cukup seru karena sebelumnya tim sukses sempat menggunakan jurus  kampanye hitam.

Hasilnya bagaimana?

Belum tahu. Media online, media cetak, kantor berita belum punya data pemenang. Sebab, pemilukada NTT putaran kedua ini tidak ada hitung cepat alias quick count. Rupanya, orang-orang di kampung saya di NTT sana trauma dengan lembaga survei yang bikin quick count pada putaran pertama.

Saat itu ada lembaga quick count bilang calon inkumben, Frans Lebu Raya, disebut menang besar. Cukup satu putaran saja. Kubu Frans pun sempat jingkrak-jingkrak. Tapi ada juga quick count lain yang punya data berbeda. Bahkan, ada pasangan yang menggugat ke Mahkamah Konstitusi.

“Ketong sonde percaya quick count na! Omong kosong itu,” ujar Vivi, warga Sikumana, Kota Kupang.

Singkatnya, mereka tidak percaya hitung cepat ala statistik karena tak mau dibohongi lagi. Quick count ini sempat bikin kacau pada putaran pertama. Maka, pemilukada NTT putaran kedua sonde pake quick count.

“Ketong tunggu KPU hitung dulu. Bung sabar sa… pasti ada yang menang,” kata Vivi ketika saya bertanya siapa pemenang pilgub NTT putaran kedua.

“Beta sonde sabar na! Pilgub su satu hari lebe… sonde ada hasil di internet. Kermana ini NTT? Orang su canggih begini.. ketong masih tunggu KPU pung kerja?” saya berusaha memprotes dalam bahasa Kupang.

“Bung sabar sa… beta pasti SMS na!”

Wah, kalau menunggu real count tentu sangat lama. NTT dengan 22 kabupaten/kota, banyak pulau, transportasi yang buruk jelas butuh waktu lama untuk distribusi surat suara ke Kupang. Padahal, warga NTT di luar provinsi Flobamora ini ingin segera mengetahui hasil pemilihan gubernur yang akan memimpin 4,5 juta penduduk NTT itu.

Kasus quick count di NTT ini merupakan tragedi statistik. Sekaligus preseden buruk bagi lembaga-lembaga survei yang biasa melayani order quick count dari para calon kepala daerah. Ketika akurasinya rendah, cenderung hanya menyenangkan yang bayar, maka terjadilah krisis kepercayaan. Quick count pun tak lagi dipercaya.

Lima tahun lalu, dalam pemilihan gubernur Jawa Timur, pun terjadi kasus serupa. Khofifah Indar Parawansa menang dua kali berturut-turut versi Quick Count (4 lembaga survei terkenal dari Jakarta) dalam pilgub putaran pertama dan kedua. Ternyata hasil akhirnya meleset. Yang menang justru Soekarwo.

Khofifah kemudian menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Pilgub Jatim di Madura diulang. Inilah pilgub tiga putaran yang kayaknya belum ada duanya di Indonesia. Soekarwo pun dinyatakan sebagai pemenang.

Bagi saya, terlepas dari plus dan minus, quick count sangat diperlukan untuk mengetahui gambaran perolehan suara para kontestan. Tanpa quick count kita hanya bisa meraba-raba. Tak ada alat kontrol hasil hitungan KPU. tentu saja, lembaga-lembaga survei pun harus berbenah, lebih profesional, lebih akurat.

Kalau lembaga survei hanya mau menyenangkan dan memenangkan calon yang bayar, ya, jadinya seperti di NTT sekarang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | | 01 September 2014 | 17:08

Catatan Pendahuluan atas Film The Look of …

Severus Trianto | | 01 September 2014 | 16:38

Mengulik Jembatan Cinta Pulau Tidung …

Dhanang Dhave | | 01 September 2014 | 16:15

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 7 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 7 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 10 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 11 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemenang Putri Indonesia di Belanda Bangga …

Bari Muchtar | 8 jam lalu

Penanggulangan Permasalahan Papua Lewat …

Evha Uaga | 8 jam lalu

Antara Aku, Kamu, dan High Heels …

Joshua Krisnawan | 8 jam lalu

Rakyat Dukung Pemerintah Baru Ambil Jalan …

Abdul Muis Syam | 8 jam lalu

Masa Orientasi, Masa Di-bully; Inikah Wajah …

Utari Eka Bhandiani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: