Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Ruslan Karim

Jadilah diri sendiri, percaya diri, jangan takut untuk mencoba serta menulis agar menjadi luar biasa....!

(Wacana Pemekaran Aceh) ALA dan ABAS, ALAY ABIS

REP | 24 May 2013 | 23:08 Dibaca: 604   Komentar: 0   1

13694115081718805292

Armen Desky. http://acch.kpk.go.id/pnd_kk_armendesky

’kita sudah tak tahan lagi, pemekaran harus tahun ini…”, itulah sepenggal kalimat yang disampaikan oleh Tjut Agam (http://www.tribunnews.com/2013/05/07/tokoh-ala-dan-abas-desak-terbitkan-perpu-untuk-pemekaran-di-aceh), salah satu tokoh yang sangat bernafsu agar Pemerintah Pusat segera memekarkan Aceh menjadi tiga wilayah dengan membentuk provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABAS). Sebetulnya, ini bukan wacana baru melainkan wacana ‘’basi” yang sering diulang-ulang menjelang pemilu, khususnya untuk persiapan 2014 mendatang.

Tokoh-tokoh yang memiliki hasrat menggebu-gebu agar terbentuknya ALA dan ABAS masih dihiasi wajah-wajah lama yang tersingkir dari kursi kekuasaan. Sebut saja Armen Desky, Tagore Abu Bakar, Tjut Agam, Teuku Sukandi dan beberapa nama lain yang sudah tak asing lagi dalam pergerakan membentuk kekuasaan baru dengan memekarkan provinsi Aceh.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa selama mereka menduduki posisi penting di wilayahnya, banyak hal-hal negatif yang justru terjadi terhadap wilayah yang mereka pimpin. Armen Desky misalnya, dimasa dia menjadi orang nomor satu di kabupaten Aceh Tenggara, banyak hutan lindung wilayah Leuser dibabat untuk menambah ‘’isi” kantongnya serta kroni-kroni pendukungnya dengan mengabaikan dampak lingkungan seperti bencana alam yang akan menimpa warganya. Bencana seperti banjir bandang dan tanah longsor telah ‘’langganan” setiap tahun di wilayah Aceh Tenggara semenjak hutan Leuser digunduli ‘’kartel” Armen Desky.

Sedangkan Tagore Abubakar, orang yang pernah menjabat Bupati Bener Meriah ini merupakan bekas pemimpin milisi PETA (pembela tanah air) yang mengusir penduduk Aceh asal pesisir dengan cara menebar benih rasisme. Tak heran dalam setiap pernyataannya akhir-akhir ini selalu benuansa rasisme serta melakukan pecah belah seperti penjajah Belanda yang melakukan devide et impera. Pria yang baru saja meninggalkan Partai Golkar ini sangatlah ambisius dalam memperjuangkan nafsunya mempolarisasi penduduk provinsi Aceh. Jika ALA terbentuk maka yang akan dirugikan adalah etnik suku alas (Aceh Tenggara) dan suku jamee (Aceh Selatan), terutama dalam hal politik dan bahasa. Saat ini Tagore telah meloncat ke Partai PDIP.

1369411592896163921

Tagore Abubakar. foto lintasgayo.com

Jelas berlebihan bila pihak-pihak yang bernafsu pada kekuasaan itu mengatasnamakan rakyat lokal dalam memuluskan rencana mereka yang lebih cenderung ditujukan untuk kepentingan indivual serta kelompoknya.

Sikap yang berlebihan,di dramatisir, serta lebay seperti pernyataan Tjut Agam seakan mengingatkan kita pada fenomena alay yang sedang ditunjukkan sebagian generasi muda bangsa Indonesia saat ini. Tren negatif yang sedang terjadi ini tidak seharusnya juga mengidap kalangan ‘’tokoh-tokoh terhormat” seperti pejuang kekuasaan ini. Sebagai mantan penguasa di daerah atau raja-raja kecil sepatutnya mereka berjuang untuk bersama-sama mengentaskan berbagai persoalan yang menimpa masyarakat. Bukan membuat pernyataan yang berlebihan di media untuk berambisi kembali ke kursi kekuasaan yang pernah mereka genggam. Padahal saat mereka memimpin tidak banyak dilakukan hal yang progressif untuk membawa perubahan yang positif atau membangun bagi masyarakat di wilayahnya.

Oleh karena itu, wacana pemekaran Aceh dengan membentuk ALA dan ABAS adalah suatu tindakan ALAY ABIS…!

*Peminat sosial, politik, budaya, dan sejarah Aceh

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kejanggalan Hasil Laboratorium Klinik …

Wahyu Triasmara | | 19 September 2014 | 12:58

“Kita Nikah Yuk” Ternyata …

Samandayu | | 19 September 2014 | 08:02

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Seram tapi Keren, Makam Belanda di Kebun …

Mawan Sidarta | | 19 September 2014 | 11:04

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 15 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Lemahnya Sinergi BUMN Kita …

Yudhi Hertanto | 7 jam lalu

4 Hewan Paling Top Dalam Perpolitikan …

Hts S. | 8 jam lalu

Bantu Pertamina, Kenali Elpijimu, Pilih yang …

Vinny Ardita | 8 jam lalu

More than Satan Word …

Bowo Bagus | 9 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: